Banyak orang melihat filsafat itu sulit dinikmati –
suatu saat mungkin mengasyikan, tetapi sangat kompleks, berbelit-belit,
abstrak, dan tidak memiliki nilai praktis. Bagi orang-orang yang berpendapat
seperti ini, metafisika dipandang kabur dan tidak berguna, hanya memusingkan
kepala; spekulasinya yang tiada batas berlawanan dengan penemuan-penemuan sains
modern; dan telah tersisih dengan terbitnya buku-buku dari para pemikir
terakhir. Pada sisi lain, apa yang dibutuhkan adalah sesuatu yang di luar
pemikiran kritis; sesuatu yang seharusnya disadari secara intuitif oleh orang
waras sebagai Kebenaran (dengan K besar) tentang eksistensi manusia dan sifat
kosmos; sesuatu yang masuk ke dalam dada dan menembus hati, yang oleh
Baudelaire disebut sebagai “mata kail baja dari dunia yang terbatas”. Apa yang
dibutuhkan adalah sebuah filsafat yang akan menantang dan menuntaskan tugas
yang pernah diperankan agama; dan kebutuhan ini tidak bisa dipenuhi oleh satu
mata kuliah pun tentang validitas inferensi (Zimmer, 2003:15).
Kutipan di atas mencoba memperlihatkan dua model
pemikiran, pertama, model pemikiran yang sepenuhnya menggunakan kekuatan akal
dan kemampuan nalar, yang secara murni diterapkan berdasarkan sains-sains alam
modern. Berfilsafat dimaknai hanya sebagai upaya menemukan dan menyusun
informasi ilmiah atas pertanyaan mengenai hakikat atau azas mutlak alam
semesta, manusia, dan Zat Tertinggi. Kedua, model pemikiran yang menggunakan
kekuatan akal dan kemampuan nalar, yang dalam spekulasinya disempurnakan dalam
kesadaran intuisi. Berfilsafat, di samping merupakan justifikasi argumentasi
ilmiah, juga merupakan upaya memperoleh kesadaran mengenai sang diri terdalam
manusia, kebenaran dan kebebasan.
Menurut Zimmer (2003:16) orang-orang bijak India berada
pada pihak pemikir yang kedua. Sebenarnya, hanya pada tahun-tahun belakangan
ini ajaran-ajaran mereka diterima banyak orang dalam bentuk teks cetak dan
terjemahan populer. Mereka pertama-tama bersikeras memastikan, apakah seorang
calon yang menempatkan filsafat pada kedudukannya dianugerahi kecakapan
spiritual. Apakah dia telah menyelesaikan kuliah-kuliah pendahuluan? Apakah dia
siap untuk mendapatkan pelajaran ketika bertatap muka dengan guru? Apakah dia
patut mendapatkan tempat di kaki guru? Ini menunjukkan bahwa penyelesaian
orang-orang bijak India terhadap teka-teki kehidupan dan pendekatan mereka
terhadap misteri alam semesta sangat berbeda dengan apa yang dipakai dalam
penelitian dan pendidikan modern terutama oleh para pemikir Barat. Orang-orang
bijak India tidak menolak ataupun berapologi bahwa ajaran-ajaran mereka sulit
dipahami, terlalu mistis, religius, dan oleh karenanya dipandang bersifat
esoterik.
Filsafat pada prinsipnya sebagai pembantu penelitian
empiris membuka tirai sains kontemporer; dan metafisika membuka kritik yang
rasional dari setiap penjuru. Artinya, filsafat merupakan penalaran yang mutlak
dibutuhkan, yakni filsafat adalah ide dan syarat bagi pemikiran praktis dan
bukan terbatas hanya pada ide yang menggantung di langit awang-awang
rasionalitas teoretis, sebagaimana dimaknai oleh sebagian dari para kretisi
bahwa filsafat dan umumnya teori-teori hanya digunakan menghegemoni realitas.
Dengan demikian filsafat hanya memperoleh posisi abstraknya, tanpa makna
praktis, dan tidak perduli terhadap kehidupan manusia di bumi realitas yang
sarat makna, penuh kontradiksi norma-norma, dan konflik nilai-nilai, yang
sesungguhnya adalah bidang utama dari kajiannya. Belajar filsafat bukan
terbatas hanya pada penguasaan berbagai pengetahuan filsafat (filosofistik),
tetapi berikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang sesuatu, “keinginan
menjadi arif”. Belajar filsafat berarti belajar untuk berhasrat pada kearifan
atau belajar untuk mencintai kearifan, kebijaksanaan.
Untuk itu diperlukan kepandaian, upaya, dan kerja
keras berdasarkan semangat, kekuatan, dan kemampuan akal, yang semata-mata
dilakukan demi menaklukkan data-data empiris dalam kancah realistis dengan
pertukaran pemikiran secara rasional. Dengannya, kearifan diraih, melalui
pengambilan sikap terhadap suatu pendirian tertentu dalam kehidupan. Walaupun
demikian, bukanlah akal semata-mata menjadi sarana utamanya, melainkan juga
diperlukan penguatan dan peneguhan diri (buddhi) dalam suasana kesadaran penuh,
kemampuan menjadikan diri sendiri sebagai subjek dan sekaligus objek dalam
berlimpahnya nama dan bentuk. Dalam berfilsafat tidak ada seorangpun yang
“telah tahu” atau telah menemukan kepastian kebenaran, karena filsafat dalam
hal ini berarti “hasrat menemukan kebenaran”. Menemukan kebenaran mutlak di
dalam dunia relatif, merupakan kemustahilan dan usaha yang sia-sia, tetapi juga
bukan hal yang tak mungkin, absurd. Untuk itu diperlukan sistematika berpikir
yang tidak sederhana dalam keseluruhan keberadaan yang sesungguhnya sederhana,
sekaligus kompleks. Mengingat kebenaran itu, bukanlah subjek dan juga bukan
objek. Dia, ada di luar kemampuan penginderaan. Indera tidak bisa
menjangkaunya, walaupun kekuatan dan kemampuannya diperluas hingga tak
terbatas. Kebijaksaan tidaklah mungkin didapat hanya dengan menambah
pengetahuan dan menambah kekuatan indera. Ia bukan semata-mata keluasan, melain
juga kedalaman. Oleh karena itu objek filsafat tidak bisa ditentukan di
sini-sekarang. Mengingat objek filsafat adalah segala keberadaan, bukan terbatas
hanya pada ada yang sekarang saja, tetapi juga ada yang pernah ada, bahkan ada
yang mungkin ada, karena itu studi filsafat mempunyai rumusan yang
beragam.
Tanpa mempersoalkan ragam mana dari rumusan yang
benar, pada dasarnya filsafat adalah usaha akal manusia mencari dan mendapatkan
pandangan mengenai dunia dan pandangan hidup yang benar, yang memuaskan
pencarinya . Usaha berfilsafat dimulai ketika orang berusaha menjelaskan
asal-mula dan tujuan dunia serta kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya berdasarkan
akalnya, bukan berdasarkan keterangan agama. Orang secara teknis mulai
berfilsafat dalam arti yang sebenarnya, jika ia mulai dengan akalnya mencari
jawaban atas segala persoalan yang bersangkutan dengan dunia, baik mengenai
asal mulanya maupun nasib dan tujuannya.
Tujuan berfilsafat menurut Palmquis (2002:52) berasal
dari pengakuan kebebalan hingga meraih cinta kealiman dan dari rasa takjub
berkeheningan hingga memperoleh pemahaman tentang kata-kata. Metafisika
misalnya, dapat mengajarkan perbedaan antara hal-hal yang bisa diketahui dan
yang tidak bisa diketahui. Hanya jika telah mempelajarinya, keberanian memasuki
wilayah logika telah siap dalam kematangannya karena logika akan mengajarkan pemahaman
tentang kata-kata. Segera setelah memiliki pondasi teoretis ini penerapan
pemahaman baru ini dapat digunakan menggapai kebenaran dan pengetahuan yang
relevan dengan kehidupan manusia. Mencari “ilmu sejati” inilah yang disebut
cinta kealiman. Dengan mencintai kealiman maka penyelidikan pada tahapan
berikutnya tanpa tersesat dalam kawasan yang menakjubkan bisa dilanjutkan
sehingga melahirkan sikap yang sunguh-sungguh takjub berkeheningan.
Filsafat Barat melalui banyak guru filsafat terkenal, sejak Thales di Militos dan Pythagoras sampai dengan Empedocles dan Plato; dari Plotinus dan para pemikir Neoplatonik sampai dengan mistikus-mistikus Abad Pertengahan; dan kemudian pada Spinoza dan Hegel, bergulat dengan masalah-masalah yang melampaui wilayah akal sehat, yang hanya bisa diungkapkan dalam rumusan yang sulit dan samar, dan dengannya paradoks. Filsafat telah berhasil dan sangat berjasa membangun dunia empiris yang sempurna, tetapi meninggalkan begitu banyak ruang kosong bagi sastra-sastra agama, keyakinan, dan kepercayaan. Mengingat filsafat dan mitos merupakan dua objek yang sama dalam perbedaannya. Hal ini terbentang dalam keseluruhan sejarah pemikiran Barat, yang diawali sejak masa kosmosentris dan teosentris hingga ke antroposentris.
Para pemikir Timur sama sadarnya dengan para pemikir Barat atas fakta bahwa kekuatan akal dan kemampuan nalar (baca: logos) tidak cukup untuk menuntaskan masalah-masalah tersebut guna mengungkapkan kebenaran. Sebagaimana Rene Descartes dengan “cogito ergo sum” -nya menyangsikan secara radikal segala sesuatu, ada. Berpikir itu dibatasi oleh bahasa, dan karenanya lebih banyak menyisakan ruang-kosong terbuka. Berpikir itu semacam berbicara di dalam diri tanpa suara, tidak bisa dirumuskan dalam kata-kata atau simbol-simbol, karena itu tradisi yang ada tidak eksis dalam proses berpikir. Oleh karenanya diperlukan akal yang kreatif, khusus, cerdas, dan berani untuk menembus apa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Dengan demikian muncul kepermukaan sebuah analisis dalam penerimaan penuh terhadap apa yang disebut intuisi. Seluruh raga disertakan melalui disiplin diri dalam olah rasa, olah-hasrat, olah-niat, olah-akal, olah-budi, dan olah-cipta-rasa-karsa yang permanen sebagaimana dikenal di dalam disiplin yoga. Dengan tradisi yoga ini, filsafat India menjadi sebuah mental praktis dan disiplin fisik untuk mewujudkan kehidupannya melalui bangkit dan hidupnya akal pikiran. Filsafat Hindu menyelidiki alam, dicari intisarinya, diselami hakikatnya, dicari sebab-sebab yang sedalam-dalamnya, akan tetapi tidaklah berhenti di situ saja, masih mempunyai tujuan lebih lanjut: kebebasan (Poedjawijatna, 1986:54).
Persoalan kebebasan, kebenaran, hakikat alam, dan kemanusiaan termasuk moral Hindu banyak diuraikan dalam Kitab Suci Weda. Menurut keyakinan Hindu isi kitab ini diwahyukan oleh Tuhan (walaupun beberapa pemikiran filosofis India, seperti Mimamsa menolaknya) melalui para resi, para brahmana, dan para guru. Pewahyuan itu terjadi secara langsung di dalam hati sanubari para resi atau para brahmana atau para guru tadi tentang kejadian-kejadian yang sedang dihadapi. Misalnya, kejahatan, baik alam maupun moral, seperti berakenaragam bencana alam, malapetaka keyakinan, dehumanisasi, kemerosotan dan keruntuhan moral, terancamnya keselamatan, dan lain-lainnya; sebagaimana juga banyak diwejangkan oleh Bhagavan Sri Krsna, sang avatara dalam Bhagavadgita. Jadi, “orang Hindu” berfilsafat lebih dimotivasi oleh kenyataan bahwa hidup adalah keterikatan yang menyebabkan penderitaan; dan penderitaan itu harus dilenyapkan; tujuannya adalah untuk mencapai kebebasan, realisasi diri yang terdalam, kesempurnaan. Sebagaimana halnya filsafat Barat, pusat pemikiran filosofis dalam Hindu, juga diawali dengan mendalami hakikat alam semesta, prinsip mutlak segala sesuatu, hakikat hidup dan kehidupan, atman dan brahman, dan hakikat manusia sebagai prinsip hidup, tindakan dalam berlimpahnya ruang dan waktu. Demikianlah Weda, wahyu Tuhan, mengajarkan hakikat hidup dan tujuan hidup serta cara-cara menjalankan hidup yang benar dimulai dari pengertian mendalam tentang alam semesta melalui berbagai manifestasi dewa-dewa.
Semula wahyu itu diteruskan oleh penerimanya kepada generasi berikutnya secara lisan dan kemudian, dibukukan dalam kitab Weda. Begitu Weda disampaikan secara lisan, diucapkan, dinyanyikan, dan kemudian ditulis. Jarak waktu antara pewahyuan yang pertama dan pembukuan yang terakhir meliputi zaman hingga berabad-abad, kira-kira dari 2000 SM hingga 500 SM, selama kira-kira 1500 tahun. Pembukuan itu terjadi secara bertahap, yakni pertama-tama yang terkumpul adalah bagian Weda yang disebut Samhita kemudian, bagian Weda yang disebut Brahmana, dan akhirnya, bagian Weda yang disebut Upanisad. Kitab Weda Samhita terdiri atas Rg. Weda, Yayur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda merupakan kumpulan mantera yang berbentuk syair yang digunakan untuk melakukan pemujaan dan persembahan. Di dalamnya juga berisi tenung, sihir, dan segala yang berhubungan dengan magi. Kitab Brahmana berbentuk prosa berisi peraturan-peraturan dan kewajiban-kewajiban keagamaan terutama keterangan mengenai kurban, yadnya. Kitab Upanisad berbentuk prosa berisi keterangan mendalam mengenai asal mula dan tujuan alam semesta dan isinya terutama mengenai manusia dan keselamatannya. Inilah garis-garis besar kitab-kitab sumber utama dalam agama Hindu, lebih luas lagi Hinduisme.
Hinduisme menaungi berbagai agama dan sub-agama yang berbeda-beda. Di India ada beragam agama dan sub-agama yang berkembang yang memiliki akar tradisi dan dasar religiusitas yang sama . Kebanyakan agama dan sub-agama itu memiliki kepercayaan pada dewa-dewa yang jumlahnya sangat banyak, tetapi Zaehner (1992) melihat bahwa panteon para dewa di dalam Weda secara kasar dapat dibagi dalam tiga kelas, yaitu kelompok dewa dari surga, dari angkasa, dan dari bumi. Hal ini sejalan dan disejajarkan dengan tiga kelas besar pembagian masyarakat India, yaitu brahmana (pepimpin upacara agama), ksatriya (tentara dan raja), dan waisya (petani dan pekerja). Ketiga kelompok kelas ini identik dengan Dewa Agni (api), Dewa Indra (dewa perang), dan Visva Deva (dewa semesta). Walaupun demikian, kesemua dewa itu hanya merupakan manifestasi dari satu dewa Tertinggi, Brahman. Ini membuktikan bahwa pada dasarnya Hinduisme merupakan suatu kepercayaan monoteistik, percaya hanya pada satu Tuhan. Hinduisme, juga dikenal sebagai Sanatana Dharma, “kebajikan abadi”.
“Sanatana dharma”, lagi-lagi tidak bisa dihindari untuk disalahpahami karena terbatasnya kata untuk merangkum makna definitif yang terkandung di dalamnya. Rupanya ide-ide dan nilai-nilai pada setiap zaman harus dibatasi oleh penciptaan bahasa yang tersedia; jumlah dan skup kata-kata, baik kata benda, kata kerja, kata sifat, kata sambung, kata keadaan, dan metapora. Semua ini dalam filsafat India disebut naman atau nama, yakni substansi di mana dengannya akal bekerja karena berpikir berisikan konsep-konsep nama, bahkan tanpa batas. Nama adalah realitas internal dari konsep-konsep yang berkaitan dengan realitas eksternal, yakni bentuk-bentuk yang ditangkap keadaan dan warna (rupa). Rupa adalah bagian luar dari nama; dan nama adalah bagian dalam dari rupa. Oleh karena itu nama-rupa bermakna manusia, pengalaman, dan individu yang berpikir, dan juga bermakna semua alat dan objek dari pikiran dan persepsi . Nama-rupa adalah keseluruhan dunia, baik objektif maupun subjektif, sebagaimana yang diamati dan diketahui . Di atas nama-rupa tersebut segala pemikiran filosofis India melakukan pergumulan dan pergulatan yang tiada henti-hentinya.
Walaupun demikian, semua aliran filsafat India sepakat bahwa objek puncak dari pikiran dan tujuan akhir pengetahuan terletak di luar rentang nama-rupa. Puncak pengetahuan tertinggi terletak di balik kebodohan (avidya) yang menutupi kesadaran atas Realitas Diri, yang merupakan satu-satunya Ada. Filsafat dengan demikian adalah salah satu dari banyak kearifan atau pengetahuan (vidya), yang mengarahkan pada satu tujuan praktis, yaitu pada pencapaian keadaan suci di dunia dan akhirat. Keadaan suci sebagaimana dikatakan oleh Pythagoras merupakan satu-satunya syarat untuk membebaskan jiwa dari belenggunya, yaitu materi atau badan. Seorang filosof-yogi adalah yang menguasai pikiran dan tubuh, nafsu, reaksi, dan meditasinya sendiri. Dia adalah orang yang telah mentransendensikan ilusi (maya) dan semua pemikiran manusia normal lainnya. Dia tidak terganggu oleh kemalangan. Dia melampaui nasibnya .
Mentransendensikan ilusi (maya) merupakan ajaran pertama dan utama bagi murid filsafat, setelah ia menunjukkan sikap susrusa dan sradha kepada guru. Hanya sebagai inspirasi dalam medan perbandingan kualifikasi “para pembelajar” dari masa ke masa perlu diketahui suasana belajar dan proses pembelajaran pada zaman India kuno. Pada zaman India kuno setiap pengetahuan diasosiasikan dengan sebuah keterampilan yang sangat khusus dan pandangan hidup yang baik. Pengetahuan dikuasai melalui pembelajaran dari seorang guru yang mumpuni, yakni seorang guru yang pintar, pandai, arif, dan sakti. Penyerahan diri secara total berupa kepatuhan (susrusa) dan keyakinan yang implisit (sradha) seorang murid kepada otoritas guru merupakan ciri-ciri yang mendominasi pendidikan masa itu . Susrusa adalah keinginan yang kuat untuk mendengar, patuh, dan mengedepankan apa yang masuk ke telinganya; sikap patuh ini mengimplikasikan ketundukan, takzim, dan pelayanan. Sebagaimana juga ditegaskan oleh Mehta (2005:137) bahwa proses belajar menuntut kemampuan total untuk bisa mendengarkan dan melihat. Mendengarkan tanpa melakukan interpretasi dan melihat tanpa melakukan evaluasi – ini sajalah yang berlaku sebagai latar belakang mencari Kesejatian.
Singkatnya, bagian terbesar dalam filsafat India
terfokus pada upaya untuk membimbing individu dalam kehidupannya yang kedua,
bukan yang pertama. Bukannya sebelum, tetapi sesudah manusia mencapai tujuan
karier individunya yang bersifat duniawi, setelah kewajiban-kewajiban manusia
sebagai anggota dan pendukung keluarga dan masyarakat yang bermoral dipenuhi,
manusia beralih pada tugas-tugas petualangan kemanusiaan yang terakhir. Menurut
dharma Hindu, kehidupan seorang manusia harus dibagi menjadi empat fase
(asrama) yang berbeda. Fase pertama adalah menjadi murid, “orang yang diajar”,
brahmacari (sisya), “orang yang menghadiri, menunggu, dan melayani gurunya”
(antevasin). Fase kedua adalah menjadi kepala rumah tangga (grhastha), yang
merupakan priode kematangan manusia yang sangat penting dan pemenuhan perannya
di dunia. Fase ketiga adalah pertapaan di hutan untuk bermeditasi
(vanaprastha). Selanjutnya, pase keempat adalah mejadi orang suci (bhiksu) yang
berkelana dan minta-minta. Moksa terletak pada dua fase terakhir, bukan fase
pertama dan kedua.
Patut diketahui bahwa mustahil melakukan kontruksi
pemikiran (India) zaman kuno secara sempurna, baik melalui pendekatan ruang dan
waktu maupun peristiwa. Oleh karena itu satu hal yang harus dimengerti bahwa
peta petualangan tersebut bukanlah keseluruhan wilayah jelajah dalam filsafat
Hindu, bahkan juga bukan sebagian terkecil dari yang tersempit dalam khazanah
pemikiran Hinduisme, yang sesungguhnya tanpa batas. Sebagaimana dikatakan oleh
Zimmer (2003) di atas bahwa tidak ada satu mata kuliah pun yang mampu
mengungkap dan menuntaskan tantangan pemikiran dan kesadaran, kebijaksanaan,
kebenaran, kebebasan, kesempurnaan, Realitas Diri sebagai satu-satunya Ada,
yang menjadi puncak pengetahuan dan pemikiran filsafat India. Mengingat
kemampuan akal dalam merasionalisasi fakta, memikirkan dan mengatakan
data-data, sepenuhnya bertumpu pada kemampuan bahasa yang sangat terbatas.
Dengan demikian seluruh petualangan intelektual manusia, juga terbatas terhadap
hal-hal yang terpikirkan dan yang terkatakan (yang dapat dipikirkan dan yang
dapat dibicarakan). Sementara itu, pengetahuan tentang yang tidak diketahui
dan/atau ketidaktahuan, jika boleh mengandaikan, mungkin sama atau lebih banyak
dan lebih luas – kuantitas dan kualitas – dari pengetahuan yang dapat
diketahui. Sebagaimana ‘kebijaksanaan’ yang dikatakan oleh Socrates, “hanya
satu yang saya ketahui bahwa saya tak tahu apa-apa”. Artinya, baik para widya
maupun apara widya, yang nirguna maupun saguna, sama-sama terbatas, dikungkung
oleh kemampuan bahasa.
Akhirnya, saya yang akan menemani Anda dalam petualangan intelektual ini, khususnya dalam menjelajah pemikiran filosofis Hindu, yang rencananya penyelidikan ini dilaksanakan selama satu semester, lebih-kurang dalam dua belas kali pertemuan, atau selama tiga puluh jam efektif, berharap dapat mengantarkan pemahaman dan pengertian kita bahwa sesungguhnya adalah filsafat yang memikirkan, agama yang mengucapkan, dan ilmu yang melakukan; Hinduisme mengajarkan semuanya; dan kita di sini sedang asyik dan belajar memberi arti dan memaknainya. Itulah citra pertemuan kita, yang sepenuhnya ditandai oleh suasana belajar dan proses pembelajaran, sebagaimana diisyaratkan dalam dunia pendidikan formal. Pendidikan yang diartikan sebagai usaha sadar dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang diarahkan sebesar-besarnya bagi mengembangkan potensi dan kompetensi peserta didik secara optimal agar dapat berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sesuai dengan kewajiban terhadap program studi ini, pelayanan yang harus saya lakukan terhadap Anda bahwa loyalitas saya diminta secara khusus menemani Anda dalam penyelidikan pemikiran filosofis Hindu dalam belantara sistem-sistem filsafat India terutama pada zaman sutra-sutra. Zaman ini, seperti telah dijelaskan di atas pada prinsipnya diwarnai oleh sejumlah pemikiran spekulatif yang tergabung ke dalam sistem filsafat Nawa Darsana, yang meliputi Nastika dan Astika. Nastika merupakan sekelompok pemikiran filosofis yang menolak otoritas Weda, antara lain terdiri atas sistem filsafat Carwaka, Jaina, dan Buddha. Sebaliknya, Astika merupakan kelompok pemikiran filosofis yang menerima otoritas Weda, antara lain terdiri atas sistem filsafat Sanhkya, Yoga, Nyaya, Waisiseka, Mimamsa, dan Wedanta. Enam sistem filsafat yang tergabung ke dalam Astika ini disebut Sad Darsana; dan di dalamnya, penyelidikan “mata kuliah filsafat Hindu” ini akan dipusatkan, karena bagian lain dari sejarah pemikiran filosofis India akan menjadi mata kuliah yang lainnya pula misalnya, mata kuliah Weda dan mata kuliah Siwa-Buddha Tattwa. Keenam sistem filsafat yang disebut Sad Darsana itu berguna untuk memahami pemikiran para filosof-yogi pada zaman skolastik, yaitu untuk merajut pemikiran mahaguru Sankara, Ramanuja, dan Madhwa dalam sistem pemikiran spekulatif Adwaita, Wisistadwaita, dan Dwaita.
Semoga tiada aral melintang, sesuai dengan kewajiban yang harus saya penuhi, saya yang hanya berbekal kesenangan, secara khusus akan mencoba menemani Anda dalam membangun pengertian filosofis mengenai pemahaman para pemikir India dalam sistem filsafat Sad Darsana. Akan tetapi, mengingat akhir zaman sutra-sutra tidak mudah membedakannya dengan zaman skolastik maka puncak penyelidikan dalam studi filsafat Hindu ini akan diakhiri pada pemahaman pemikiran spekulatif Adwaita, Wisistadwaita, dan Dwaita, yakni ajaran dari mahaguru Sankara, Ramanuja, dan Madhwa. Sementara itu, untuk memahami dan mengapresiasi pemikiran filosofis yang berkembang dalam Nastika, yakni Carwaka, Jaina, dan Buddha, serta posisi dialogis antara pemikiran Timur (baca: Hindu) dan Barat akan menjadi satu pertimbangan dan pembahasan khusus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar