- Periode Klasik dan Abad Tengah; Permulaan Filsafat Alam
Pada
mulanya persoalan-persoalan ilmu adalah di seputar metode dan substansi yang
tidak terpisahkan dari apa yang telah lama disebut sebagai filsafat alam. Usaha
pertama melampaui mitologi-mitologi tradisional menuju penjelasan rasional atas
alam, dimulai oleh para filsuf Ionia dan Italia Selatan 600 tahun sebelum
masehi. Mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh
semua benda. Pertimbangan-pertimbangan empiris atau hasil pengamatan yang mendalam,
yang mendukung penjelasan yang satu atau penjelasan saingannya, masih prematur.
Sebagai conoth, apakah menifestasi-menifestasi fenomena alam yang berbeda-beda
berasal dari suatu bentuk materi tunggal yang kekal atau berasal dari beberapa
substansi elementer yang bergabung bersama-sama, dan apakah berupa substansi
fundamental, berlangsung terus dan beribah-ubah, ataukah berupa substansi
tersendiri dan bersifat atomik? Yang lainnya bertanya, apakah bentuk-bentuk
fenomena yang diamati merupakan bukti dari sesuatu yang bersifat universal,
pikiran yang mendasari atau suatu rumpun jenis-jenis roh yang hidup bersama-bersama
yang bertanggungjawab atas fenomena yang mempunyai tatanan kompleksitas yang
berbeda.
Pada
filsuf Pra-Sokratik mendasarkan jawaban mereka sedapat mungkin pada dasar-dasar
epistemik dengen mempertimbangkan jenis-jenis penjelasan apa yang
sungguh-sungguh dapat dimengerti seperti halnya yang berdasarkan pada hal yang
ontall atau empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis entitas abadi apa yang
mungkin terlihat atau didapat dalam pengalaman, jenis eksistensi yang
dibutuhkan (required). Jawaban mereka
terentang dari suatu ekstrem yang satu, Realisme ontal Parmenides, filsuf
terkemuka Eleatisme-menurutnya semua perubahan merupakan penampakan-penampakan
sementara. (transtory appearances)
yang menyembunyikan hubungan-hubungan timbal balik realitas-realitas yang lebih
dalam, yang tak berubah hingga pada Heracleitus, filsuf perubahan Ephesien,
pada ekstrem yang lain. Menurutnya, sejauh yang diketahui manusia tak ada
kenyataan seperti yang dijelaskan Parmenides, sebab segala sesuatu secara
empiris berubah secara terus menerus.
Meskipun
Plato dan Aristoteles memperlihatkan perhatian cermat terhadap kasus-kasus
aktual, namun filsafat ilmu mereka masih berhenti pada pencampuran
pertimbangan-pertimbangan ontologis, epistomologis dan empiris yang sama. Pertanyaan-pertanyaan
tentang alam didiskusikan dalam Timaeus karya
Plato dan Physics karya Aristoteles,
misalnya, berciri tidak murni metafisik ataupun murni empiris walaupun keduanya
mempunyai aspek metodelogis yang mirip dengan filsafat ilmu modern. Juga konstruksi
Plato mengenai teori-teori fundamental ilmu di seputar konsep-konsep dan
pola-pola yang dipinjam dari geometri mempunyai pengaruh mendalam pada periode
modern-pada Rene Descartes, misalnya, dalam abad ke-17 dan pada logika modern,
matematisi Jerman Gottlob Frege, dalam tahun 1810-an dan sesudahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar