ALL ABOUT FILSAFAT

Minggu, 04 Desember 2016

Perkembangan Historis Filsafat Ilmu




  1. Periode Klasik dan Abad Tengah; Permulaan Filsafat Alam

Pada mulanya persoalan-persoalan ilmu adalah di seputar metode dan substansi yang tidak terpisahkan dari apa yang telah lama disebut sebagai filsafat alam. Usaha pertama melampaui mitologi-mitologi tradisional menuju penjelasan rasional atas alam, dimulai oleh para filsuf Ionia dan Italia Selatan 600 tahun sebelum masehi. Mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda. Pertimbangan-pertimbangan empiris atau hasil pengamatan yang mendalam, yang mendukung penjelasan yang satu atau penjelasan saingannya, masih prematur. Sebagai conoth, apakah menifestasi-menifestasi fenomena alam yang berbeda-beda berasal dari suatu bentuk materi tunggal yang kekal atau berasal dari beberapa substansi elementer yang bergabung bersama-sama, dan apakah berupa substansi fundamental, berlangsung terus dan beribah-ubah, ataukah berupa substansi tersendiri dan bersifat atomik? Yang lainnya bertanya, apakah bentuk-bentuk fenomena yang diamati merupakan bukti dari sesuatu yang bersifat universal, pikiran yang mendasari atau suatu rumpun jenis-jenis roh yang hidup bersama-bersama yang bertanggungjawab atas fenomena yang mempunyai tatanan kompleksitas yang berbeda.   

Pada filsuf Pra-Sokratik mendasarkan jawaban mereka sedapat mungkin pada dasar-dasar epistemik dengen mempertimbangkan jenis-jenis penjelasan apa yang sungguh-sungguh dapat dimengerti seperti halnya yang berdasarkan pada hal yang ontall atau empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis entitas abadi apa yang mungkin terlihat atau didapat dalam pengalaman, jenis eksistensi yang dibutuhkan (required). Jawaban mereka terentang dari suatu ekstrem yang satu, Realisme ontal Parmenides, filsuf terkemuka Eleatisme-menurutnya semua perubahan merupakan penampakan-penampakan sementara. (transtory appearances) yang menyembunyikan hubungan-hubungan timbal balik realitas-realitas yang lebih dalam, yang tak berubah hingga pada Heracleitus, filsuf perubahan Ephesien, pada ekstrem yang lain. Menurutnya, sejauh yang diketahui manusia tak ada kenyataan seperti yang dijelaskan Parmenides, sebab segala sesuatu secara empiris berubah secara terus menerus.  

Meskipun Plato dan Aristoteles memperlihatkan perhatian cermat terhadap kasus-kasus aktual, namun filsafat ilmu mereka masih berhenti pada pencampuran pertimbangan-pertimbangan ontologis, epistomologis dan empiris yang sama. Pertanyaan-pertanyaan tentang alam didiskusikan dalam Timaeus karya Plato dan Physics karya Aristoteles, misalnya, berciri tidak murni metafisik ataupun murni empiris walaupun keduanya mempunyai aspek metodelogis yang mirip dengan filsafat ilmu modern. Juga konstruksi Plato mengenai teori-teori fundamental ilmu di seputar konsep-konsep dan pola-pola yang dipinjam dari geometri mempunyai pengaruh mendalam pada periode modern-pada Rene Descartes, misalnya, dalam abad ke-17 dan pada logika modern, matematisi Jerman Gottlob Frege, dalam tahun 1810-an dan sesudahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar