Peradaban modern, dengan segala kelebihan dan
kekurangannya bagi umat manusia, berawal dari kota-kota Italia dan Prancis
Selatan sekitar abad ke-14. Kota-kota ini berbeda dengan kota-kota Eropa pada
umumnya, yang di bawah otoritas raja, bangsawan, maupun gereja. Para warga
menyebutnya sebagai komuni otonom yang mampu mengatur diri sendiri.
komuni-komuni ini berlimbah daya imajinasi dan rasa ingin tahu, karena
kemakmuran yang sudah mereka peroleh. Hasil kebudayaan dari mereka seakan
menghidupkan kembali kejayaan zaman Yunani dan Romawi, masa inilah yang dikenal
sebagai Renaisans Eropa. Pada kesempatan ini kita akan menelusuri jejak-jejak
sejarah Renaisans di Eropa.
Konsep Kelahiran Kembali (Renaisans)
Penggunaan kata Renaisans sebenarnya baru mulai
digunakan pada awal abad ke 19, sebelumnya ide Renaisans lebih sering dikenal
dengan sebutan kelahiran kembali. Sebenarnya agama Kristen sendiri telah
mempopulerkan konsep kelahiran kembali melalui ritual baptisan yang menciptakan
seorang pribadi yang terlahir kembali dengan nama Kristen yang baru. Selain
dari ajaran Kristen Cicero telah mempopulerkan kata renovatio untuk
menggambarkan teori Stoa mengenai siklus penghancuran dunia oleh api dan
pembentukan kembali.
Ketika Francesco Petrarca (Petrarch) (1304-1374) menyarankan
fajar periode baru pada abad ke-14 sebagai saat manusia menerobos kegelapan
menuju gerak menuju cahaya murni dan asli, ide tersebut bukan hal yang baru.
Yang baru adalah bahwa pada waktu ini ide itu menjadi populer, dan menjadi
slogan gerakan-gerakan pembaharuan yang sedang merebak.
Jika ada konsep kelahiran kembali, pasti ada masa
sebelum itu, masa ini dikenal sebagai zaman kegelapan Eropa. Pada awalnya
terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan dimulainya masa kegelapan tersebut,
tokoh-tokoh tersebut antara lain Domenico Bandini, dan Leonardo Bruni. Namun,
menjelang pertengahan abad ke-15, disepakati bahwa periode abad pertengahan
Eropa berlangsung selama seribu tahun, dari jatuhnya Roma sekitar tahun 412
masa kelahiran kembali 1412.
Pada abad tahun 1855, Jules Michelet menggunakan kata
Renaissance dalam karyanya Histoire de France, ini merupakan penggunaan
kata Renaissance yang pertama kali dalam buku sejarah. Kata Renaissance sendiri
jika diterjemahkan secara literal ke dalam bahasa Inggris adalah Rebirth (kelahiran
kembali).
Latar
Belakang Munculnya Renaisans
Pasca keruntuhan Romawi pada abad ke-5, bangsa Eropa
mengalami fase yang dinamakan dark ages. Fase ini merupakan fase stagnan
kebudayaan pada masa itu. Pada masa ini bangsa Barat tertinggal jauh dari
kemajuan-kemajuan kebudayaan Islam.
Akar kebudayaan klasik Eropa sesungguhnya tidak lenyap
dari Eropa. Bangsa Barat mulai berusaha untuk bangkit kembali pada abad ke-9,
ketika Charlemagne berusaha memulihkan kekaisaran Romawi di Barat dengna merangsang
kebangkitan kembali kesusastraan, seni, arsitektur, dan lembaga-lembaga politik
Romawi. Masa ini dinamakan kebangkitan kembali yang pertama.
Kebangkitan kembali berikutnya terjadi pada abad
ke-12, sebagian sejarawan menganggap masa ini lebih penting ketimbang Renaisans
abad ke-14, karena gagasan kebangkitan ini tersebar secara luas, dan
menghasilkan sistematisasi pengetahuan ilmiah dan logika yang disebut
skolatisisme. Kebangkitan ini muncul bersamaan dengan kebangkitan kembali
ekonomi hebat di seluruh Eropa: sebagai hasil perang Salib, perluasan
perbatasan, peningkatan perdagangnan, dan pengembangan kota, khususnya Italia.
Unsur baru yang diperoleh dari kebangkitan intelektual
abad ke-12 adalah kembali bangkitnya minat pada ilmu, dan filsafat Yunani. Hal
ini dirangsang oleh kontak yang terjadi dengan orang-orang Islam selama perang
Salib. Keilmuwan yang kebanyakan telah hilang dari Barat, masih bertahan di
daerah Islam dalam terjemahan-terjemahan, dan komentar-komentar berbahasa Arab.
Tidak mengherankan para sarjana Barat seperti Gerard dan Michael Scot, berlomba
pergi ke Toledo untuk belajar bahasa Arab dan menerjemahkan keilmuwan Yunani
ini.
Pasca diterjemahkannya literatur-literatur Yunani
Kuno, bangsa Eropa mulai mengenal kembali keilmuwan-keilmuwan yang ditulis pada
masa Yunani Kuno, salah satunya filsafat. Namun, keberhasilan penerjemahan ke
dalam bahasa latin tersebut justru dianggap ancaman bagi dogma gereja. Salah
kebijakan kontroversial greja adalah melarang mahasiswa di universitas baru di
Paris membaca karya Aristoteles.
Golongan gereja menganggap pemikiran Aristoteles
bertentangan dengan dogma gereja. Aristoteles berpendapat, sekali dunia telah
digerakkan, dunia diatur oleh hukum-hukum rasional abadi yang di dalamnya tidak
lagi berperan lebih lanjut dari tuhan. Selain itu Aristoteles tidak percaya
pada kebakaan individu, atau kebangkitan kembali individu, ia juga berpendapat
manusia jauh dari dosa karena secara alamiah bersifat sosial dan mampu mengatur
dirinya di dalam komunitas politik.
Ide-ide dari pemikir Yunani tersebut jika diterima,
tentu saja akan mengacaukan struktur dunia Kristen. Pada kenyataanya terbukti
sangat sulit untuk mendamaikan ide-ide klasik dengan ide Kristen, khususnya.
Pada abad ke-14 muncul suatu gerakan Renaisans pimpinan Petrarch, yang
menjadikan kebudayaan klasik sebagai model serta dasar bagi seluruh peradaban
manusia. Renaisans merupakan gerakan gerakan budaya yang mempunyai pengaruh
besar pada kehidupan intelektual Italia, pada abad ke-14.
Pada abad ke-14, negara-negara kota di Utara Italia
cukup makmur dan damai untuk menopang seniman, dan penulis kelas atas. Ini yang
membuat suasana mendukung untuk mendorong inovasi kebudayaan Renaisans.
Pengaruh kebudayaan Renaisans dirasakan dalam bidang sastra, seni, ilmu pengetahuan,
dan politik.
Kota-Kota
Italia Sebagai Pelopor Renaisans
Kekayaan Ekonomi di Italia merupakan faktor terbesar
di dalam politik negeri periode ini. Kota-kota Italia pada abad-14 meskipun
masih dipimpin oleh kekuatan Gereja dan bangsawan, namun mulai muncul keinginan
penduduk untuk mempunyai andil di dalam pemerintahan, dan di berbagai kota
mereka bahkan mengambil alih pemerintahan, menyebut diri mereka sendiri sebagai
“komuni” ketika mereka berhasil melengserkan kaum pendeta, dan bangsawan dari monopoli
kekuasaan.
Italia mempunyai komuni yang paling banyak jika
dibandingkan dengan bangsa Eropa lainnya. Setidaknya terdapat lima negara
kota yang bersaing untuk mendominasi: Republik Venice, Tanah Bangsawan
Milan, Republik Florence, Negara Papal, Kerajaan Naples. Negara kecil lain,
seperti pusat seni dan intelektual Ferrara, dan Modene, memainkan peran kecil
tapi krusial.
Jika melihat tingkat kemerdekaan, dan kebebasan
kota-kota Italia, dan peran rakyat jelata serta para seniman di dalam
pemerintahan mereka. Di dalam bisnis besar Florence para pemegang modal
mempunyai pandangan yang lebih dekat dengan bangsawan, ketimbang orang biasa.
Sehingga kebijakan-kebijakan komuni ini tetap bersifat konservatif, dan
membatasi rakyat jelata.
Monopoli yang dilakukan oleh pemegang modal bukannya
tidak mendapat tentangan, rakyat (pedagang, tukang ahli, dan buruh) berusaha
menjaga argumen republikan tetap hidup. Mereka berusaha mencegah para pemegang
modal melaksanakan monopoli kekuasaan absolut. Rakyat jelata inilah, yang
menciptakan ledakan konsumen yang mendorong kebangkitan kembali seni klasik.
Kemakmuran kota-kota Italia juga berasal dari perdagangan dengan kota-kota luar
Italia, hal ini ikut membentuk etos kehidupan di Italia.
Selain kemakmuran, yang membantu menjelaskan mengapa
Renaisans mengambil bentuk seperti yang di Italia, dalam hubungan dengan
kebudayaan klasik. Ketika Romawi runtuh kebudayaan klasik Romawi tidak
sepenuhnya hilang dari Italia, melainkan akar-akar budaya klasik tersebut masih
ada, dan pada abad-14 ini budaya-budaya klasik tersebut mulai bangkit kembali.
Terdapat kesepakatan mendasar antara Kristeller dan
Burckhardt dalam persepsi mereka bahwa tradisi ilmiah warisan klasik hanyalah
salah satu dari berbagai unsur yang membentuk Renaisans, atau yang membidani
kelahiran Humanisme. Burckhardt bersikerasa menyatakan bahwa yang paling
berperan adalah kecerdasan bangsa Italia, sedangkan Kristeller bersikeras bahwa
unsut lainnya adalah kepustakaan yang diperroduksi para humanis Italia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dinasti-dinasti Islam
membawa pengaruh terhadap kemajuan budaya Italia, karena melihat dari
realitasnya pada masa itu bangsa Eropa jauh tertinggal jika dibandingkan dengan
dinasti-dinasti Islam. Banyak hal yang ditiru negara-negara Eropa dari budaya
Islam tersebut, mulai dari sistem pendidikan pondok, metode pengajaran, sistem
hukum, dan pengajaran dalam kajian Humanisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar