ALL ABOUT FILSAFAT

Sabtu, 10 Desember 2016

ARISTOTELES: Filsuf Yunani Peletak Dasar Zoologi dan Taksonomi

clip_image002Masa Hidup
Aristoteles dilahirkan di kota Stagira, Macedonia, 384 SM. Ayahnya seorang ahli fisika kenamaan. Pada umur tujuh belas tahun Aristoteles pergi ke Athena belajar di Akademi Plato. Dia menetap di sana selama dua puluh tahun hingga tak lama Plato meninggal dunia. Dari ayahnya, Aristoteles mungkin memperoleh dorongan minat di bidangbiologi dan “pengetahuan praktis”. Di bawah asuhan Plato dia menanamkan minat dalam hal spekulasi filosofis.
Pada tahun 342 SM Aristoteles pulang kembali ke Macedonia, menjadi guruseorang anak raja umur tiga belas tahun yang kemudian dalam sejarah terkenal dengan Alexander Yang Agung (Alexander the Great). Aristoteles mendidik Alexander muda dalam beberapa tahun. Di tahun 335 SM, sesudah Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles kembali ke Athena dan membuka sebuah sekolahnya sendiri bernama Lyceum.
Aristoteles berada di Athena selama dua belas tahun, satu masa yang berbarengan dengan karier penaklukan militer Alexander. Karena berbeda pandangan, Alexander jarang meminta nasehat kepada bekas gurunya, tetapi dia berbaik hati menyediakan dana buat Aristoteles untuk melakukan berbagai penelitian. Mungkin ini merupakan contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuwan menerima jumlah dana besar dari pemerintah untuk maksud-maksud penelitian, dan sekaligus, merupakan yang terakhir dalam abad-abad berikutnya.
Walau demikian, hubungan antara ilmuwan dan penguasa tidaklah selalu baik-baik saja, bahkan cenderung berbahaya. Aristoteles sebagai seorang yang kritis, menolak secara prinsipil cara kediktatoran Alexander. Terlebih ketika Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles dengan tuduhan berkhianat. Karena kekritisan mantan gurunya tersebut, Alexander pernah memiliki pikiran untuk membunuh Aristoteles. Namun rencana tersebut tidak segera dilancarkannya, karena meskipun di satu pihak Aristoteles kelewat demokratis di mata Alexander, namun Aristoteles juga masih sangat disegani oleh orang-orang Athena.
Rencana menyingkirkan filsuf berpengaruh itu tidak pernah terlaksana hingga Alexander terbunuh tahun 323 SM. Setelah kematian Alexander, golongan anti-Macedonia memegang tampuk kekuasaan di Athena, dan Aristoteles sebagai ilmuwan yang terlalu dekat dengan Alexander waktu itu harus disingkirkan dengan cara difitnah sebagai atheis. Aristoteles dituduh kurang ajar kepada dewa dan harus dihukum. Aristoteles teringat nasib yang menimpa Socrates 76 tahun sebelumnya, yang dihukum mati oleh penguasa dengan minum racun. Oleh karena itu ia kemudian memutuskan untuk lari meninggalkan kota. Aristoteles meninggal di di Chalcis, Yunani di tahun 322 SM pada umur 62 tahun.
Ilmuwan Serba Bisa
Filsuf besar ini termasuk ilmuwan yang produktif berkarya. Hasil murni karya Aristoteles jumlahnya mencengangkan. Beberapa karyanya masih tetap bertahan, dan mengilhami para ilmuwan hingga abad ke-19. Manuskrip kuno mencatat tidak kurang dari 170 buku hasil ciptaannya. Bahkan bukan sekedar banyaknya jumlah judul buku saja yang mengagumkan, melainkan luas daya jangkauan bidang yang menjadi bahan renungannya juga mengagumkan. Kerja ilmiahnya betul-betul merupakan ensiklopedi ilmu untuk zamannya. Aristoteles menulis tentang astronomi, zoologi, embriologi, geografi, geologi, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir tiap karya genialnya terkenal di masa Yunani kuno. Karya ilmiahnya sebagian merupakan hasil penelitian yang dikumpulkannya dari para asisten yang khusus digaji untuk menghimpun data-data untuknya, sedangkan sebagian lagi merupakan hasil dari serangkaian pengamatannya sendiri.
clip_image005Gambar.Buku D’anima karya Aristoteles (Wikipedia)

Karya yang termasuk menonjol dari sekian banyak hasil karyanya adalah penelitiannya yang mendalam tentang teori logika. Aristoteles dianggap sebagai pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hasil ini sebetulnya merupakan perwujudan dari sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu menguasai begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah, dan jenis-jenisnya yang kemudian digunakan sebagai dasar berpikir di banyak bidang ilmu pengetahuan. Aristoteles tak pernah terjebak ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa gigih mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sebagai manusia, tentu saja dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan sekali betapa di zaman tersebut seorang ilmuwan dapat membuat sebuah ensikopedi karya yang begitu luas dengan kesalahan-kesalahan yang masih wajar untuk zaman tersebut.
Pengaruh rasionalitas Aristoteles menorehkan bekas yang mendalam terhadap cara berpikir orang-orang Barat. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, antara lain bahasa Latin, Arab, Italia, Prancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium, mempelajari karyanya dan terinspirasi karenanya.
Kontribusi Aristoteles dalam Zoologi
Karya Aristoteles dalam dunia sains alam berisi tentang hasil pemikirannya yang didasarkan pada pengamatan terhadap obyek kajian biologi, seperti hewan, tumbuhan dan manusia. Ia melakukan penelitian ilmiahnya dengan melakukan eksplorasi di wilayah sekitar Athena dan beberapa negara tetangga, serta melakukan eksperimen pada obyek penelitiannya. Aristoteles dan para asistennya sering melakukan otopsi pada binatang, tetapi tidak pada manusia.
Karya-karya yang dihasilkannya berdasar penelitian tersebut antara lain: Perilaku Hewan (Movement of Animals), Reproduksi Hewan (Generation of Animals), Anatomi Hewan (Parts of Animals) dan Sejarah Perkembangan Hewan (History of Animals/ Historia Animalium), dengan sedikit distorsi dari beberapa macam mitos yang masih berkembang di masa itu. Karya lainnya yang cukup menonjol adalah tentang kehidupan laut berdasarkan observasinya ke daerah perairan Lesbos dan pengamatannya pada hasil tangkapan nelayan lokal. Pengamatan dilakukan pada pada ikan lele, ikan listrik (Torpedo fuscomaculata), octopus, sepia (ikan sotong), dan nautilus kertas (Argonauta argo). Berdasarkan pengamatan tersebut ia meyimpulkan adanya dikotomi antara mamalia air dan ikan. Klasifikasinya juga telah menggolongkan ikan tulang rawan seperti hiu dan pari menjadi SelachÄ“ (selachians) yang berbeda dengan ikan bertulang sejati.
Dalam “Historia Animalium“, Aristoteles membandingkan organ dan fungsi spesifik pelbagai jenis hewan yang ditelitinya. Dia mencatat bagaimana organ-organ yang sama bervariasi pada hewan yang berbeda dan mendokumentasikan bagaimana organ-organ yang sama memiliki fungsi yang sama sekali berbeda. Menurutnya hal ini berhubungan dengan cara hidup dan habitat dari spesies tersebut. Hewan yang hidup di darat, udara atau air akan memiliki organ-organ berbeda sesuai dengan habitatnya.
Perbedaan-perbedaan ini sebenarnya telah dikemukakan oleh filsuf Yunani Kuno sebelumnya, tapi pendapat Aristoteles mampu lebih rinci memaparkan perbedaan habitat hewan yang hidup di air, contohnya beberapa hewan air hidup di laut, sungai, danau atau rawa-rawa. Bahkan Aristoteles dapat memisahkan lagi, berdasar karakter fisiologis, dari hewan-hewan laut yang hidup di habitat pesisir, pelagik, atau bebatuan.
Penelitiannya yang lain, yang termaktub dalam buku reproduksi hewan (Generation of Animals), anatomi (Parts of Animals) dan sejarah perkembangan hewan (History of Animals/ Historia Animalium), mendeskripsikan bahwa ia melakukan percobaan untuk membuktikan perkembangan hewan dengan cara mengamati telur yang sudah dibuahi (embrio) untuk mengetahui tahap pembentukan organnya (organogenesis). Aristoteles membedah telur burung di berbagai tahap perkembangan dan mencoba memahami urutan perkembangan organ-organ embrio tersebut. Dia menyimpulkan bahwa jantung adalah organ pertama yang berkembang, baru kemudian diikuti organ-organ yang. Simpulan ini melahirkan teori Epigenesis, yang menyatakan bahwa organ-organ yang berkembang dalam urutan tertentu. Pendapat itu bertentangan dengankepercayaan umum saat itu bahwa semua organ telah lengkap dan sempuna dalam satu kejadian.
Dalam buku Parts of Animals Aristoteles mampu memberikan deskripsi yang akurat tentang empat macam perut ruminansia dan perkembangan embriologis ovoviviparous dari hiu anjing (Mustelus mustelus). Sebuah lompatan penelitian ilmiah yang luar biasa untuk zaman itu.
Tangga Taksonomi Aristoteles
Pemikiran Aristoteles juga memberikan sumbangsih besar dalam sejarah biologi, khususnya taksonomi. Mentor Alexander Agung ini mengklasifikasikan hewan ke dalam kelompok berdasarkan perilaku, persamaan, dan perbedaan fisiologi hewan yang diamatinya. Menggunakan observasi dan otopsi, ia mengelompokkan hewan menggunakan dasar tersebut. Meskipun klasifikasi tersebut tampak aneh bagi ahli zoologi modern, namun mengingat peralatan terbatas dan akses informasi yang sangat minim saat itu, membuat karya ilmiah Aristoteles patut dihormati karena telah mengenalkan metode yang sistematis dan empiris dalam penelitian sains.
Pendapat yang lain untuk klasifikasi hewan, Aristoteles memiliki pemikiran bahwa hewan dibagi mejadi dua divisi besar. Apa yang disebut oleh zoologi modern sebagai hewan vertebrata dan avertebrata, olehnya disebut sebagai “hewan berdarah” dan “ hewan tanpa darah. Ia membagi lagi “hewan dengan darah” menjadi “hewan melahirkan” (manusia dan mamalia), dan “hewan bertelur” (burung dan ikan).
Avertebrata masih dibagi lagi menjadi Insecta (serangga), Crustasea (udang-udangan_yang dibagi lagi menjadi tidak bercangkang dan bercangkang), danTestacea (hewan lunak). Dalam beberapa hal, meskipun juga masih memiliki kekurangan, klasifikasi Aristoteles lebih baik daripada klasifikasi Linnaeus, yang hanya membagi avertebrata menjadi dua kelompok, yaitu Insecta (serangga) danVermes (cacing).
Sedangkan tumbuhan dikelompokkannya berdasarkan ukuran dan strukturnya. sebagai contoh, kingdom tumbuhan dibagi menjadi 3 divisi, yaitu herba, semak, tanaman merambat, dan pohon. Selain itu ia juga berpendapat bahwa setiap makhluk hidup, termasuk tumbuhan, memiliki jiwa. Tumbuhan memiliki ‘jiwa vegetatif,’ yang diberikan karunia untuk tumbuh dan berkembangbiak. Hewan menambahkan ‘jiwa yang sensitif,’ yang memungkinkannya memiliki indera dan kemapuan bergerak. Manusia memiliki sebuah ‘jiwa rasional,’ yang membuat manusia mampu untuk berpikir dan bereskpresi.
Akhirnya, ia mengusulkan teori “Tangga Kehidupan (The Ladder of Life)” dengan 11 tingkatan tangga, yaitu sebuah hirarki di mana makhluk hidup diklasifikasikan menurut fungsi dan kompleksitas organnya. Organisme sederhana berada pada anak tangga paling bawah, organisme kompleks menduduki posisi tangga lebih atas dan manusia berada di puncaknya. Klasifikasi sistem ini menjadi inspirasi para ilmuwan taksonomi jauh setelahnya dan bertahan hingga hampir 2000 tahun.
Sedangkan buku-buku tentang manusia lebih cenderung memaparkan ilmu psikologi daripada biologi, antara lain: On the Soul; Sense and Sensibilia;Memory, Sleep, Dreams, Divination in Sleep; Length and Shortness of Life;Youth, Old Age, Life and Death; dan Respiration on Breath.
Generatio Spontanea
Aristoteles mengemukakan sebuah teori tentang asal-usul kehidupan di bumi yang berlandaskan rasionalitas, bahwa makhluk hidup tingkat rendah terjadi begitu saja dengan cara acak. Pendapat ini terus bertahan sampai abad ke-18, dan mendapatkan dukungan oleh Anthony van Leenwenhoek. Anthony sangat mendukung teori Generatio spontanea setelah ia berhasil membuat mikroskop sederhana dan melihat jasad renik di dalam air bekas rendaman jerami. Ilmuwan Belanda itu mengemukakan pendapat yang selaras dengan teori Aristoteles, bahwa jasad renik yang diamatinya di bawah mikroskop berasal dari air rendaman jerami. Maka publikasi Anthony itu memunculkan istilah teori abiogenesis yang hendak mengukuhkan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati.
Beberapa ilmuwan di abad 18 berusaha mengadakan eksperimen untuk menyangkal teori generatio spontanea. Ilmuwan pro biogenesis (bahwa kehidupan juga berasal dari makhluk hidup) itu antara lain Franscesco Redi, Spallanzani dan Louis Pasteur. Percobaan Redi dan Spallanzani masih belum dapat menumbangkan teori generatio spontanea karena menurut pendapat para pendukung teori tersebut bahwa untuk dapat timbul kehidupan secara spontan dari benda mati diperlukan gaya hidup (elan vital). Gaya hidup pada percobaan Spallanzani dan Redi tidak dapat melakukan fungsinya karena toples dan labu percobaan tersumbat rapat-rapat.
Pasteur mencoba memperbaiki percobaan Spallanzani dengan menggunakan tabung kaca berbentuk leher angsa atau huruf S untuk menutup labu. Dengan pipa bentuk S tersebut menunjukkan bahwa meskipun labu tersumbat, udara sebagai “sumber gaya hidup” dapat masuk ke dalam labu. Dengan percobaan ini Pasteur berhasil menumbangkan teori generatio spontanea yang awalnya digagas oleh Aristoteles. (Bab tentang “Perang Teori Asal-usul Kehidupan “ ini akan dibahas pada bab lain).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar