Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya
Banyak orang hidup dalam depresi sekarang ini. Tuntutan pekerjaan, masalah
rumah tangga serta beragam tantangan hidup lainnya mendorong orang masuk ke
dalam depresi. Dalam arti ini, depresi dapat dilihat sebagai keadaan emosional
yang dipenuhi kesedihan dan kekecewaan dalam jangka waktu lebih dari dua bulan.
Ada beragam teori tentang ini. Namun, dua bulan hidup dalam keadaan batin yang
menyakitkan, pada hemat saya, sudah menandakan, bahwa orang masuk ke dalam
depresi.
Depresi membuat orang tak bisa menikmati hidup. Segalanya terlihat salah.
Hal-hal kecil seringkali memancing beragam emosi negatif di dalam diri. Keadaan
ini berlangsung cukup lama, dan seringkali disertai dengan gejala senang
berlebihan, yang kemudian dilanjutkan pula dengan kesedihan berlebihan.
Depresi biasanya dipicu oleh rangkaian peristiwa menyedihan dan
menyakitkan, seperti kehilangan anggota keluarga, kegagalan di dalam karir atau
sekolah, sakit berkepanjangan atau perceraian. Keadaan ini membuat tubuh dan
pikiran seseorang tertekan, jauh melampaui batas yang mampu ditanggungnya.
Pikirannya kacau, karena selalu bergerak ke masa lalu yang penuh penyesalan,
dan masa depan yang penuh kecemasan. Tubuhnya pun melemah, karena dalam keadaan
seperti ini, orang tak mampu beristirahat dengan cukup, dan nafsu makan serta
minum pun menurun.
Terapi Depresi
Ada beragam terapi yang ditawarkan. Namun, pada hemat saya, banyak hanya
merupakan omong kosong. Orang diminta untuk menghabiskan waktu dan uang hanya
untuk menjalani terapi yang dipenuhi janji palsu belaka. Akan tetapi, ada satu
alternatif yang mungkin belum banyak dicoba orang, namun memiliki kemungkinan
besar untuk berhasil, yakni filsafat sebagai terapi.
Tidak semua jenis filsafat bisa
berfungsi sebagai terapi. Banyak pemikiran filsafat yang justru menjadi sumber
depresi. Abstraksi berlebihan justru menumpulkan kepekaan orang pada kenyataan
hidup. Jenis filsafat ini sungguh harus ditanggapi secara kritis.
Akan tetapi, ada jenis filsafat lainnya yang dikembangkan di masa Yunani
Kuno dan Romawi di Eropa, yakni filsafat Stoa. Tokoh yang menjadi acuan saya
disini adalah seorang Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius. Ia menuliskan
gagasannya di dalam buku yang berjudul Meditations. Ia bukan hanya
seorang kaisar yang bijak memimpin, tetapi juga seorang pemikir yang mendalam.
Kontrol dan Kesadaran
Ada dua ide darinya yang kiranya cocok menjadi dasar dari terapi filosofis
untuk despresi, yakni kontrol diri dan kesadaran. Kontrol diri berarti
kemampuan orang untuk mengendalikan perasaan dan pikirannya di hadapan berbagai
bentuk keadaan. Kesulitan dan tantangan yang datang dari luar diri tidak
mempengaruhi stabilitas batinnya. Kemampuan ini tidak datang hanya dengan
pengetahuan intelektual semata, tetapi dengan latihan dari kegiatan sehari-hari
yang berpijak pada kesadaran.
Dalam arti ini, kesadaran merupakan kemampuan orang untuk menjalani hidup
dari saat ke saat dengan sepenuh hati dan pikirannya. Ketika ia makan, maka ia
sepenuhnya makan. Ketika ia berjalan, maka ia sepenuhnya berjalan. Pikirannya
tidak bergerak ke tempat lain. Pikirannya juga tidak bergerak ke masa lalu,
ataupun masa depan.
Dengan melatih kesadaran semacam ini, orang akan menemukan kedamaian di
dalam hatinya. Ia menjalani saat ke saat dalam hidupnya dengan ketenangan
batin. Ia pun lalu mampu mengendalikan emosi dan pikirannya di hadapan berbagai
keadaan. Kesulitan hidup tidak membuat batinnya tergoyahkan. Ia tidak akan
mengalami depresi.
Di dalam filsafat Yunani kuno, kaum Stoa menganjurkan setiap orang untuk
melatih kesadaran dari saat ke saat semacam ini. Filsafat Timur sudah lama
melihat kesadaran semacam ini sebagai sumber dari segala kebijaksanaan hidup.
Di dalam Zen Buddhisme dijelaskan, bahwa kebenaran dan kesejatian hanya dapat
ditemukan disini dan saat ini, bukan di tempat atau di waktu yang lain. Ilmu
pengetahuan modern menyebut kesadaran ini sebagai Achtsamkeit,dan
ia sudah banyak diteliti sebagai salah satu bentuk terapi terbaik untuk beragam
bentuk penyakit kejiwaan.
Kontrol diri hanya bisa dibangun dengan kesadaran diri. Inilah filsafat
yang amat sederhana, tetapi banyak orang sulit menjalankannya, karena
pikirannya terlalu rumit. Mereka mau menjalani terapi yang mahal dan rumit,
walaupun tidak banyak membuahkan hasil. Namun, terapi yang berpijak pada
pemikiran Stoa dan Marcus Aurelius ini tidak membutuhkan biaya apapun. Anda
hanya perlu mencobanya, dan merasakan sendiri hasilnya. Jadi tunggu apa lagi?
Narasumber ; https://rumahfilsafat.com/2015/05/20/filsafat-sebagai-terapi-depresi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar