1.
Objek pengetahuan mistik
Yang menjadi objek
pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak (supra-rasional), seperti alam gaib
termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk objek yang
hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak
dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional),
seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik tidak
diperoleh melalui indra ataupun melalui akal. Pengetahuan mistik diperoleh
melalui rasa. Dalam agama samawi, salah satunya agama islam, cara untuk
mendapatkan itu harus dengan cara membersihkan jasmani dan rohani terlebih
dahulu. Agar unsur rohani bersih maka harus menghilangkan nafsu jasmani,
diantara nafsu jasmani yang paling dominan adalah nafsu kelamin dan nafsu
perut. Karena keduanya inilah yang akan menyebabkan banyak orang memasuki siksa
tuhan di akhirat.
Dalam pandangan para
sufi, cara memperoleh pengetahuan mistik disebut juga thariqat yang terdiri
dari maqam-maqam untuk menggapai tuhan. Pada umumnya cara untuk memperoleh
pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari
sinilah manusia memperoleh pencerahan yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan
istilahma’rifah. Begitu pula dengan pengetahuan mistik yang di luar
regional agama, cara untuk mendapatkannya adalah latihan batin. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa metode untuk mendapatkan pengetahuan mistik
adalah latihan.
3.
Ukuran kebenaran pengetahuan mistik
Kebenaran mistik dapat
diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari tuhan,
maka ukuran kebenarannya adalah teks Tuhan yang memnyebutkan hal itu. Tuhan
mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa surge dan neraka itu ada, maka teks itulah
yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran akan
kebenaran pengetahuan mistik itu adalah kepercayaan. Jadi sesuatu akan dianggap
benar karena kita mempercayai akan hal tersebut. Kita percaya bahwa jin dapat
disuruh oleh kita untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kepercayaan itulah yang
akan menjadi kepercayaannya. Adapun kebenaran suatu teori dalam pengetahuan
mistik diukur dengan bukti empiric dalam hal ini maka bukti empiriklah yang
menjadi ukuran kebenarannya.
B. Aksiologi Pengetahuan Mistik
Di sini dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik
menyelesaikan masalah.
1.
Kegunaan Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu amat subjektif,
yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Seharusnya kita bertanya
kepada pengamal tasawuf, para pengamal ahli hikmah, atau kepada dukun mereka
gunakan untuk apa pengetahuannya itu. Secara kasar kita dapat memperkuat
keimanan, mistik-magis-putih digunakan untuk kebaikan, sedangkan
mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.
Di kalangan sufi ( pengetahuan mistik
biasa ) dapat menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar
biasa tatkala ‘ berjumpa’ dengan kekasihnya ( Tuhan ). Pengetahuan mereka
sering dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan
filsafat. Pemegang mistik magis putih menggunakan pengetahuannya untuk
kebaikan. Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus, dan lain-lain
diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan situasi dan kondisi
tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya.
2.
Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan
Masalah
Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah
tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. Itu berlaku
untuk mistik putih dan mistik hitam.
a.
Cara Kerja Mistik Magis Putih
Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah
menemukan bahwa didalam agama ada muatan–muatan praktis untuk digunakan dalam
menyelesaikan masalah. Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang ada dalam
diri Nya atau yang ada dalam firman Nya dapat digunakan oleh manusia. Dengan
memanfaatkan gambaran Tuhan yang maha berkuasa dalam segala hal ayat-ayat itu
digunakan untuk menggugah Tuhan memenuhi janjiNya. Pada kondisi seperti itu
ayat-ayat Al-Quran atau kitab samawi yang lain sering digunakan sebagai
perantara manusia dengan Tuhan. Bahkan Asma-asma Tuhan sering digunakan para
ahli bidang ini untuk meminta sesuai dengan kebutuhan.
Pengertian yang dapat diambil adalah bahwa
do’a dan wirid yang dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan Tuhan
yang memiliki apa yang dibutuhkan itu. Para ahli hikmah telah mengembangkan
teknik membuat wirid dan do’a untuk keperluan seperti itu. Teknik itu
dikembangkan dalam apa yang disebut asrar al-huruf dan asrar al-asma.
Dalam pandangan mereka huruf-huruf itu
memiliki khadam dan kekuatan yang berbeda. Bahkan karakter huruf-huruf itun pun
berbeda satu sama lainnya. Ada huruf yang berkarakter al-maiyah ( air
) seperti huruf dal, ha, lam, ‘ain, ra,kha, dan ghain. Yang memiliki
huruf al-hawaiyah ( udara ) seperti jim, zaay,
kaf. Karakter al-thurabiyah ( tanah ) seperti huruf ba,
waw. Karakter al-nariyah ( api ) seperti alif, tha, mim,
dan fa.
Jika seseorang dapata atau sanggup
mempraktikan wirid atau do’a sesuai dengan rumusan maka kekuatan ilahiyah (
khadam atau malaikat ) akan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki.
Cara yang kedua ialah memindahkan
jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang
disebut wafaq atau isim. Wafaq atau isim harus ditulis dengan menggunakan tinta
tertentu, pada kondisi tertentu dan ditulis pada suatu benda tertentu seperti
kulit ari kijang, kulit harimau atau pada logam. Dalam pandangan ulama hikmah,
waktu memiliki karakter dan potensi. Waktu yang 24 jam terbagi oleh tujuh
kekuatan yang disimbolkan oleh bintang ( zodiak ) : atharid, zuhal,
marikh, musytari, qamar, syams, dan zuhrah.
b.
Cara Kerja Mistik Hitam
Cara kerja mistik magis hitam telah
digambarkan oleh ibnu khaldun sebagai berikut. Kita telah melihat dengan mata
kepala sendiri cara seorang tukang sihir membuat gambar korbannya. Digambarkan
dalam bentuk yang ia inginkan, ia rencanakan untuk membuat orang tersebut
mengadopsi, baik dalam bentuk simbol-simbol, nama-nama, atau atribut-atribut. Lalu
ia baca mantra bagi gambar yang diletakannya sebagai ganti orang yang dituju,
secara kongkret dan simbolik. Selama mengulang-ulang kata-kata buruk itu, ia
mengumpulkan air ludah dimulutnya lalu menyemburkan nya pada gambar itu. Lalu
ia ikatkan buhul pada simbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia
menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan efektif dalam praktik sihir.
Ia meminta jin kafir untuk berpartisipasi
agar mantra itu lebih kuat. Gambar korban dan nama buruk itu memiliki roh jahat.
Roh itu dari tukang sihir dengan tiupannya melekat pada air ludah yang
disemburkannya ke luar. Ia memunculkan lebih banyak roh jahat. Akibatnya,
segala sesuatu yang dituju tukang sihir tadi benar-benar terjadi.
SUMBER :
Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm
112.
Susanto, A . Filsafat Ilmu , Suatu Kajian dalam Dimensi
Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Jakarta, Bumi Aksara, 2011
Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 118
Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 153
Tidak ada komentar:
Posting Komentar