ALL ABOUT FILSAFAT

Kamis, 08 Desember 2016

Pengetahuan Mistik

        1.      Objek pengetahuan mistik
Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak (supra-rasional), seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.

     2.      Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik tidak diperoleh melalui indra ataupun melalui akal. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa. Dalam agama samawi, salah satunya agama islam, cara untuk mendapatkan itu harus dengan cara membersihkan jasmani dan rohani terlebih dahulu. Agar unsur rohani bersih maka harus menghilangkan nafsu jasmani, diantara nafsu jasmani yang paling dominan adalah nafsu kelamin dan nafsu perut. Karena keduanya inilah yang akan menyebabkan banyak orang memasuki siksa tuhan di akhirat.
Dalam pandangan para sufi, cara memperoleh pengetahuan mistik disebut juga thariqat yang terdiri dari maqam-maqam untuk menggapai tuhan. Pada umumnya cara untuk memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari sinilah manusia memperoleh pencerahan yang dalam tradisi tasawuf disebut dengan istilahma’rifah. Begitu pula dengan pengetahuan mistik yang di luar regional agama, cara untuk mendapatkannya adalah latihan batin.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode untuk mendapatkan pengetahuan mistik adalah latihan.

     3.      Ukuran kebenaran pengetahuan mistik
Kebenaran mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari tuhan, maka ukuran kebenarannya adalah teks Tuhan yang memnyebutkan hal itu. Tuhan mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa surge dan neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran akan kebenaran pengetahuan mistik itu adalah kepercayaan. Jadi sesuatu akan dianggap benar karena kita mempercayai akan hal tersebut. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk melakukan suatu pekerjaan, maka kepercayaan itulah yang akan menjadi kepercayaannya. Adapun kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiric dalam hal ini maka bukti empiriklah yang menjadi ukuran kebenarannya.
   
     
     B.     Aksiologi Pengetahuan Mistik
Di sini dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah.
1.      Kegunaan Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Seharusnya kita bertanya kepada pengamal tasawuf, para pengamal ahli hikmah, atau kepada dukun mereka gunakan untuk apa pengetahuannya itu. Secara kasar kita dapat memperkuat keimanan, mistik-magis-putih digunakan untuk kebaikan, sedangkan mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.
Di kalangan sufi ( pengetahuan mistik biasa ) dapat menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar biasa tatkala ‘ berjumpa’ dengan kekasihnya ( Tuhan ). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat. Pemegang mistik magis putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus, dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya.
2.      Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. Itu berlaku untuk mistik putih dan mistik hitam.
a.       Cara Kerja Mistik Magis Putih
Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah menemukan bahwa didalam agama ada muatan–muatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah. Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang ada dalam diri Nya atau yang ada dalam firman Nya dapat digunakan oleh manusia. Dengan memanfaatkan gambaran Tuhan yang maha berkuasa dalam segala hal ayat-ayat itu digunakan untuk menggugah Tuhan memenuhi janjiNya. Pada kondisi seperti itu ayat-ayat Al-Quran atau kitab samawi yang lain sering digunakan sebagai perantara manusia dengan Tuhan. Bahkan Asma-asma Tuhan sering digunakan para ahli bidang ini untuk meminta sesuai dengan kebutuhan.
Pengertian yang dapat diambil adalah bahwa do’a dan wirid yang dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan Tuhan yang memiliki apa yang dibutuhkan itu. Para ahli hikmah telah mengembangkan teknik membuat wirid dan do’a untuk keperluan seperti itu. Teknik itu dikembangkan dalam apa yang disebut asrar al-huruf dan asrar al-asma.
Dalam pandangan mereka huruf-huruf itu memiliki khadam dan kekuatan yang berbeda. Bahkan karakter huruf-huruf itun pun berbeda satu sama lainnya. Ada huruf yang berkarakter al-maiyah ( air ) seperti huruf dal, ha, lam, ‘ain, ra,kha, dan ghain. Yang memiliki huruf al-hawaiyah ( udara ) seperti jim, zaay, kaf. Karakter al-thurabiyah ( tanah ) seperti huruf ba, waw. Karakter al-nariyah ( api ) seperti alif, tha, mim, dan fa.
Jika seseorang dapata atau sanggup mempraktikan wirid atau do’a sesuai dengan rumusan maka kekuatan ilahiyah ( khadam atau malaikat ) akan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
Cara yang kedua ialah memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang disebut wafaq atau isim. Wafaq atau isim harus ditulis dengan menggunakan tinta tertentu, pada kondisi tertentu dan ditulis pada suatu benda tertentu seperti kulit ari kijang, kulit harimau atau pada logam. Dalam pandangan ulama hikmah, waktu memiliki karakter dan potensi. Waktu yang 24 jam terbagi oleh tujuh kekuatan yang disimbolkan oleh bintang ( zodiak ) : atharid, zuhal, marikh, musytari, qamar, syams, dan zuhrah.
b.      Cara Kerja Mistik Hitam
Cara kerja mistik magis hitam telah digambarkan oleh ibnu khaldun sebagai berikut. Kita telah melihat dengan mata kepala sendiri cara seorang tukang sihir membuat gambar korbannya. Digambarkan dalam bentuk yang ia inginkan, ia rencanakan untuk membuat orang tersebut mengadopsi, baik dalam bentuk simbol-simbol, nama-nama, atau atribut-atribut. Lalu ia baca mantra bagi gambar yang diletakannya sebagai ganti orang yang dituju, secara kongkret dan simbolik. Selama mengulang-ulang kata-kata buruk itu, ia mengumpulkan air ludah dimulutnya lalu menyemburkan nya pada gambar itu. Lalu ia ikatkan buhul pada simbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan efektif dalam praktik sihir.
Ia meminta jin kafir untuk berpartisipasi agar mantra itu lebih kuat. Gambar korban dan nama buruk itu memiliki roh jahat. Roh itu dari tukang sihir dengan tiupannya melekat pada air ludah yang disemburkannya ke luar. Ia memunculkan lebih banyak roh jahat. Akibatnya, segala sesuatu yang dituju tukang sihir tadi benar-benar terjadi.


SUMBER :

Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 112.
Susanto, A . Filsafat Ilmu , Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis, Jakarta, Bumi Aksara, 2011
Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 118
Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Bandung : Rosda, 2004, hlm 153

Tidak ada komentar:

Posting Komentar