Filsafat sejatinya
tidak pernah bertentangan dengan Kitab Suci. Agar lebih mudah. Filsafat kita simbolkan dengan ”akal” atau
nalar dan kitab suci kita simbolkan dengan ”wahyu”. Dengan demikian, tidak mungkin
wahyu bertentangan dengan akal budi manusia, sebab Al-Qur’an sendiri sangat
logis dan relevan dengan segala kondisi zaman. Pandangan sementara orang bahwa
agama (Islam) melarang umatnya mempelajari filsafat didasarkan pada pandangan
yang sempit dan sinisme yang tidak beralasan. Islam sejatinya sangat luas,
hanya saja pemahaman dan tafsir manusia sendirilah yang membuatnya sempit,
eksklusif, dogmatis dan terkesan membelenggu.
Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang multi-interpretatif. Dengan kata lain, semakin beragam tafsir yang dikembangkan manusia, semakin luaslah makna dan nilai-nilai Al-Qur’an. Maka, filsafat dan segala bentuk hasil pemikiran akal budi manusia tidak mungkin bertentangan dengan agama. Iman dan akidah pun harus dirasionalisasi, dari proses rasionalisasi yang benar itulah akan lahir keimanan yang utuh dan berkualitas. Dengan demikian, filsafat dalam ajaran semua agama monoteis tidak dilarang. Nah, bagaimana dengan pandangan, paham atau aliran yang menyesatkan semacam materialisme, ateisme, kapitalisme dan isme-isme sesat lainnya?
Kata filsafat tidak
satupun ditemukan dalam Al-Qur’an, karena filsafat itu sendiri—sebagaimana
disebutkan di atas—bukan bahasa Arab, melainkan kata Yunani yang diarabkan.
Filsafat akan kita dapati dalam Al-Qur’an dengan kata ”al-hikmah”
(kebijaksanaan, wisdom). Kata hikmah ini
sesunggunya lebih pas sebagai padanan kata philosophia (philosophy: Inggris). Kata hikmah atau filsafat dalam
Al-Qur’an disebutkan sebanyak (+) 39 kali, misalnya dalam surat:
an-Nahl:125, al-Qahsas:14, Shad:20, al-An’am:38, Ali Imran: 48,58,79,164,
Yusuf: 22, Yunus: 1&5, Al-An’am: 84, Yasin: 2, Az-Zukhruf: 4, An-Nisa’:
54,113, asy-Syu’ara’:83 dll. Kita ambil dua ayat saja: Yasin ayat 2 menyatakan
bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang penuh falsafah (kebijaksanaan), bahkan
dalam surat an-Nahl ayat 125 disebutkan bahwa prinsip dan strategi dakwah yang
paling utama adalah filsafat, dan masih puluhan contoh lagi dalam Al-Qur’an.
Jelaslah bahwa filsafat dan Kitab Suci (agama) tidak bertentangan, sebab
keduanya menawarkan kebenaran (al-haq) dan kebaikan (al-khayr). Ini seperti pandangan Ibnu Rusyd
(1126-1217 M). Logika sederhananya, orang (Islam) yang tidak mau berfilsafat
atau bahkan mengharamkan filsafat adalah orang yang tidak pernah mengkaji Kitab
Suci sampai tuntas.
Pendapat sementara orang, belajar filsafat hanya akan menjebak manusia pada kemalasan dan ketidakwarasan moral. Artinya semakin jauh belajar filsafat, manusia semakin tenggelam dalam jurang prasangka dan asyik berfilsafat dengan diri dan egonya sendiri. Ini jelas bukan pendapat orang kritis, melainkan hanya isapan jempol tukang gosip yang sedang cemburu. Sebab kritis itu prinsipnya mencari kebenaran, bukan pembenaran subyektif dengan cara menyalahkan orang/pihak lain. Perlu Anda ketahui bahwa isi kepala seseorang yang iri cuma dua, yakni: gosip (ghibah) dan justifikasi yang salah (fitnah).
Kritis adalah sikap mental dan emosi yang tidak gampang percaya, cenderung memberikan pertimbangan dan berusaha menganalisa tentang baik-buruknya sesuatu. Orang yang kritis tidak serampangan menyalahkan dan membenarkan sesuatu, semua diselidiki dan diteliti terlebih dahulu. Sikap kritis ini pula yang menjadi ”senjata pamungkas” bagi semua ilmuwan dalam proses kreatif dan akademisnya, tak terkecuali para filsuf. Filsafat itu sendiri—yang konon induk segala ilmu adalah ilmu kritis. Ini didasarkan pada penemuan para filsuf dan karya-karya mereka yang sangat kritis menganalisa dan mengembangkan satu pemikiran, baik di bidang sains, sosial, ekonomi, hukum, sastra, sejarah dan tata negara. Pada masa keemasan Islam (dinasti Abbasiyah) misalnya, setelah jatuhnya Romawi, pusat pendidikan berpindah ke Asia, yakni melalui lembaga panelitian dan penerjermahan Bayt al-Hikmah di Baghdad. Dari lembaga ini khazanah pengetahuan Yunani diterjemahkan, dikritisi dan dianalisa, dikomentari untuk kemudian dikembangkan dan pada akhirnya dilampaui. Pendek kata, modal utama dalam berfilsafat adalah kritis, titik. Berikutnya sikap kritis itu dikawinkan dengan penguasaan bahasa dan logika yang baik dan sistematis. Dari sikap kritis inilah segala bentuk pengetahuan dimungkinkan berkembang seluas-luasnya. Selebihnya sikap kritis ini akan membawa manusia tidak cepat puas dan takjub, sikap kritis adalah cambuk bagi kemalasan, sebab dari sikap kritis inilah semangat lahir dan berkobar.
Sejarah mereportase
dan membuktikan bahwa tidak ada satu penemuan dan pencapaian pun yang tidak
diberangkatkan dari sikap kritis, apalagi filsafat. Jelaslah, bahwa filsafat
adalah embrio segala ilmu. Jika demikian, apabila Anda kritis terhadap segala
hal, berarti Anda telah menjadi seorang filsuf. Selamat! Allahu yuwaffiquna ila sabilil anbiya’ wal-mursalin.
__________________________
Sumber :
Agama yang mentauhidkan hanya satu Tuhan saja—menganut paham ketuhanan Yang Maha Esa (YME)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 820
Stewart Gordon, When Asia was The World (terj. Asia Menguasai Dunia) Jakarta: Ufuk Press, 2008 hlm. 56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar