AGAMA adalah
pedoman perilaku bagi umat manusia agar berbuat baik dan menjauhi perbuatan
yang tidak baik. Agama, ketika tertulis dalam bahasa aslinya, merupakan agama
murni. Namun terjemahan dan tafsirnya, bisa berubah dari waktu ke waktu. Sebab,
terjemah atau tafsir dilakukan oleh manusia. Karena manusia penerjemah dan
penafsir kemampuannya tidak setingkat nabi, bisa saja terjemah dan tafsirnya
menjadi keliru atau sengaja dikelirukan dengan tujuan pribadi, kelompok atau
kepentingan politik. Akibatnya, dalam perjalanan sejarah banyak ragam agama.
Secara umum agama Yahudi ada 71 golongan, agama Nasrani ada 72 golongan dan
Islam ada 73 golongan.
Walaupun
agama merupakan pedoman berperilaku baik dan menghindarkan perilaku buruk,
namun faktanya banyak umat beragama yang berperilaku buruk, baik dalam bentuk
pikiran, tulisan, ucapan maupun tindakan.
A.Kenapa
banyak umat beragama yang berperilaku buruk?
Berperilaku
buruk bisa tidak sengaja dan bisa pula disengaja.
Antara
lain:
1.Bisa
salah terjemah dan tafsir
Bahasa
asli kitab suci tidak mungkin salah (bagi pemeluknya). Namun bahasa terjemah
maupun tafsir bisa saja salah. Sebab, kualitas terjemah dan tafsir tergantung
kualitas penerjemah dan penafsirnya. Tergantung kualitas IQ, wawasan berpikir,
pengalaman hidup, motivasi ,kemampuan menerjemahkan dan menafsirkan, penguasaan
bahasa,kemampuan berlogika dan juga kepentingan pribadi, golongan maupun
politiknya. Dengan demikian terjemah dan tafsir semua agama masih bisa memiliki
potensi yang salah. Salah satu ciri terjemah dan tafsir yang kemungkinan salah
adalah apabila ada kalimat yang bertentangan dengan ciri-ciri/sifat-sifat Tuhan
dan ciri-ciri dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW (bagi agama Islam).
2.Merasa
paling benar sendiri
Kecenderungan
buruk perilaku umat manusia beragama adalah merasa benar sendiri.
Tepatnya, merasa agamanya paling benar sendiri. Merasa agama terbaik. Padahal
mana agama yang paling benar dan paling baik hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Suka
menyalahkan pendapat agama lain. Bahkan sesama agamapun bisa berbeda pendapat
dan masing-masing merasa paling benar sendiri, padahal mereka tidak menguasai
ilmu agama dan ilmu terjemah dan tafsir serta ilmu logika yang sempurna.
3.Merasa
paling suci
Keburukan
berikut adalah munculnya sikap sok suci. Suka membanggakan gelar H (Haji)
atau Hj (Hajah). Padahal gelar H/Hj bukan ajaran Tuhan, bukan ajaran Al
Quran,bukan ajaran nabi Muhammad SAW (bagi agama Islam).
4.Mudah
mengkafirkan orang lain atau mengatakan orang lain sesat
Sebagian
umat beragama cenderung menganggap orang-orang yang tidak segolongan sebagai
kafir dan sesat. Pandangannya penuh rasa benci dan selalu berusaha menjauhi
orang-orang lain yang dianggap kafir atau sesat. bahkan tak jarang
ditindalanjuti dengan tindakan anarki yang bersifat merusak dan tidak beradab.
Padahal tibdakan anarki dan tidak beradab bukanlah ajaran agama.
5.Tidak
mau menerima pendapat yg benar dari orang lain
Cara
berpikirnya banyak yang sempit seperti katak dalam rempurung. Kalau diberitahu
caranya berpikir salah, tulisannya salah, ucapannya salah dan perbuatannya
salah, seringkali mereka langsung membantah tanpah mencerna terlebih dulu.
Bahkan secara langsung tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar. Semua
pendapat yang tidak sesuai dengan pendapatnya dianggap salah.
6.Menganggap
semua ucapan guru agama benar,lebih benar,paling benar dan selalu benar
Celakanya
adalah. Hampir 100% metode pengajaran agama apapun di dunia ini adalah metode
dogmatis. Terima saja. Anggap saja itu benar. jangan dirasionalkan. jangan
dilogikakan. Sehingga akibatnya apa yang dikatakan guru agamanya adalah benar,
pasti benar, lebih benar, paling benar dan bahkan selalu benar hingga hari
kiamat. Padahal guru agama adalah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan.
Keterbatasan ilmunya, keterbatasan caranya berlogika dan keterbatasan di dalam
menerjemahkan atau menafsirkan ayat-ayat suci. Karena apa yang dikatakan gurtu
agamanya dianggap benar, maka tidak mungkin ada yang salah. padahal, bisa saja
ucapan guru agamanya salah.
7.Tidak
mau mengakui kesalahan
Perilaku
buruk sebagian umat beragama adalah tidak mau mengakui kesalahan. kalau
dikoreksi, langsung reaktif membela diri. Langsung melakukan
pembenaran-pembenaran. Pokoknya apa yang dilakukan tidak mungkin salah.
8.Tidak
bisa bepikir maju karena yg dipelajari cuma agama
Karena
sifat umat beragama yang dogmatis-pasif, maka umat beragama, terutama umat
beragama Islam sangat sulit untuk diajak berpikir dan berbuat maju. Sebab,
setiap perubahan selalu dicurigai. Setiap pendapat yang berbeda selalu
dicurigai. Gerak-gerik dan ajakan orang lain yang bukan golongannya dicurigai.
Hatinya penuh rasa curiga dan kebencian.
9.Wawasan
berpikirnya kurang luas
Konsekuensi
cara berpikir yang dogmatis-pasif adalah, waktunya habis hanya untuk agama.
Tidak mau meluangkan waktunya untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan lain dan
teknologi-teknologi lainnya. Karenamerasa dirinya paling benar dan enggan
menerima perbedaan pendapat, maka wawasan berpikirnya kurang luas. Seperti
katak dalam tempurung.
10.Perilaku
toleransi yang rendah.
Terparah
adalah perilaku buruk berupa perilaku toleransi yang rendah. bahkan boleh
dikatakan tidak mempunyai rasa toleransi sama sekali. Jika berhadapan dengan
golongan yang tidak sama dengan golongannya, maka dimusuhi dan bahkan jika
perlu disingkirkan, diusir atau bahkan diperlakukan secara anarki.
B.Keyakinan
dalam beragama bisa salah
Selalu
ditekankan bahwa keyakinan beragama tidak bisa salah. Inilah ajaran yang salah.
Sebab, keyakinan manusia bisa juga salah. Sebab, yang memiliki keyakinan adalah
manusia yang tidak sempurna. Keyakinan beragama tiap orang bisaberbeda.Oleh karena
itu keyakinan beragama juga bisa salah.
C.Agama
bisa dilogikakan
Inilah
ajaran guru agama yang salah. Selalu diajarkan bahwa agama tidak bisa
dilogikakan. Bukankah agama merupakan pedoman perilaku yang baik/benar dan
perilaku yang buruk/salah. Bukankah bai dan buruk domainnya norma? Bukankah
benar dan salah domainnya ilmu logika? Dengan demikian, agama bisa saja
dilogikakanberdasarkan “kogika normatif”. Masalahnya, logika normatif hanya
bisa dikuasai oleh umat beragama yang menguasai ilmu logika epistemologi secara
sempurna, berwawasan luas dan harus mampunyai IQ yang tinggi.
D.Tiga
macam kemampuan berlogika
Yaitu
logika manusia,logika alam dan logika Tuhan. Logika manusia kebenarannya
berdasarkan fakta,realita dan etika. Logika alam kebenarannya berdasarkan hukum
sebab akibat. Sedangkan logika Tuhan tingkat kebenarannya hanya diketahui oleh
Tuhan.
E.Hanya
Tuhan yang Maha Tahu
Oleh
karena itu pertanyaan-pertanyaan:
-Mana
agama paling baik di dunia?
-Apakah
semua agama punya Tuhan yang sama?
-Mana
agama yang sesat dan mana yang bukan sesat?
-Mana
yang kafir dan mana yang tidak kafir?
-Mana
agama yang benar dan mana agama yang salah?
-Mana
terjemah dan tafsir yang paling benar?
Jawabannya
hanya satu:
Hanya Tuhan yang mengetahuinya, sebab itu wilayahnya “logika Tuhan”
Hanya Tuhan yang mengetahuinya, sebab itu wilayahnya “logika Tuhan”
Kesimpulan
Belajar
ilmu agama tanpa belajar ilmu logika secara sempurna hanya akan menghasilkan
umat beragama yang tidak mampu bernalar secara benar dan sempurna. Cenderung
selalu menyalahkan pendapat orang lain. Cenderung membenci orang-orang di luar
golongan agamanya. Tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Narasumber ; https://ffugm.wordpress.com/2012/08/30/filsafat-sepuluh-kelemahankeburukan-sebagian-umat-beragama/
Narasumber ; https://ffugm.wordpress.com/2012/08/30/filsafat-sepuluh-kelemahankeburukan-sebagian-umat-beragama/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar