ALL ABOUT FILSAFAT

Sabtu, 10 Desember 2016

Determinisme (Takdir Absolut dan Takdir Relatif) Freedom (Nasib Absolut dan Nasib Relatif).

ARTIKEL ini merupakan artikel filsafat. Bicara tentang pola-pola pemikiran dan implikasinya. Sebab, banyak umat beragama yang punya anggapan kurang komprehensif. Wawasan berpikirnya kurang luas. Cara berpikirnya dogmatis-pasif sehingga tak bisa berkembang dan tidak bisa menerima adanya pendapat-pendapat yang berbeda.
A.Determinisme (Takdir)
Merupakan cara berpikir bahwa semua kejadian di dunia ini sudah direncanakan Tuhan. Bahkan jatuhnya daunpun sudah ditentukan Tuhan. Bahkan secara ekstrim ada yang mengatakan kekalahan timnas PSSI melawan Iran dan Bahrain sudah merupakan takdir. Tentu, cara berpikir yang ekstrim seperti itu berlebihan dan tidak sepenuhnya benar.
Memang, ada hal-hal tertentu yang sudah ditentukan Tuhan, namun ada juga yang tidak ditentukan Tuhan.
Tiga macam logika
1.Logika Tuhan
2.Logika Alam
3.Logika Manusia
ad.1.Logika Tuhan
Yaitu sebuah fakta yang hanya bisa dipahami oleh Tuhan. Manusia tidak mungkin memahaminya.
Contoh:
Langit sesungguhnya berkembang terus. Langit tak ada batasnya. Kalau langit berkembang terus dan tak ada batasnya, lantas langit berkembang ke mana? Tentu sesudah langit ada ruang kosong? Logika manusia tak akan mampu menjawabnya secara pasti. Itulah yang dinamakan Logika Tuhan.
ad.2.Logika Alam
Yaitu sebuah proses hukum alam yang sudah “diprogram” oleh Tuhan. Merupakan hukum sebab akibat yang akan terjadi dengan sendirinya secara otomatis. Ibarat seorang programmer yang membuat program di mana inputnya dilakukan oleh orang lain dan outputnya sesuai dengan program yang telah dibuat dan dalam hal ini programmer tidak ikut campur tangan.
Contoh:
Bencana alam ataupun jatuhnya daun merupakan hasil dari sebuah program atau rencana dari Tuhan di mana bencana dan kejadian alam akan terjadi dengan sendiri tanpa adanya campur tangan dari Tuhan lagi. Tuhan hanya bersifat mengetahui dan tidak bersifat menentukan.
ad.3.Logika manusia
Yaitu sebuah cara berpikir manusia yang suatu saat ada batasnya. Pikiran-pikiran manusia ditentukan oleh kebebasan (freedom) yang dimiliki oleh tiap-tiap manusia. Logika manusia yang satu dengan yang lain manusia yang lain bisa berbeda-beda karena adanya perbedaan pendidikan, umur, latar belakang pendidikan, sedikit banyak ilmu yang dimiliki dan tingkat intteligensi atau IQ masing-masing manusia.
Contoh:
Ada yang berpendapat bahwa puasa tidak bisa mengubah perilaku dan watak manusia sebab yang bisa mengubahnya adalah motivasi-diri yang kuat yang dimiliki manusia. Hal ini diucapkan oleh manusia yang faham psikologi. Ada juga yang berpendapat bahwa puasa bisa mengubah perilaku atau watak manusia. Tidak ada argumentasi yang logis dan benar. Hal ini hanya diucapkan oleh manusia yang tidak faham psikologi.
Ada dua hal yang berhubungan dengan determinisme
1.Takdir absolut
2.Takdir relatif
ad.1.Takdir absolut
Yaitu sebuah takdir yang tidak bisa dihindarkan manusia
Contoh:
Si A sedang enak-enakk tidur di dalam rumahnya di Aceh. Tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Si A tak mungkin menghindar. Diapun tewas tertimpa reruntuhan rumahnya. Itulah takdir absolut.
ad.Takdir relatif
Yaitu sebuah takdir yang bisa atau yang seharusnya bisa diperbaiki manusia
Contoh:
Si B ketika lahir, ternyata ditakdirkan lahir dengan bibir sumbing. Namun untunglah, kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran memungkinkan Si B melakukan operasi bibir sumbing sehingga bibirnya bisa kembali normal, walaupun tidak 100% sempurna
B.Freedom (Nasib).
Yaitu, kebebasan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Secara fisik kebebasan itu berbentuk otak, hati dan motivasi. Otak untuk berpikir dan mempertimbangkan. Hati untuk merasakan. Sedangkan motivasi untuk mewujudkan hasil pemikiran otak dan pertimbangan hati. Jadi, di sini Tuhan tidak ikut campur. Tuhan hanya bersifat Maha Tahu.
Ada dua macam freedom (nasib)
1.Nasib absolut
2.Nasib relatif
1.Nasib absolut
Yaitu sebuah kondisi yang tidak berubah karena manusia tidak mau berusaha. Tidak mau menggunakan otak,hati dan motivasinya.
Contoh:
Si A dalah tukang becak. Tiap hari semua hasil kerjanya diserahkan ke isterinya. Tidak pernah menabung. hasilnya, seumur hidup tetap menjadi tukang becak. Nasibnya bersifat absolut.Tidak berubah.
2.Nasib relatif
Yaitu sebuah kondisi yang bisa diubah atau yang seharusnya bisa diubah dari buruk menjadi baik. Hal ini terjadi karena manusia mau menggunakan otak, hati dan motivasinya secara positif.
Contoh:
Si B juga tukang becak. Tiap hari menabung Rp 1.000. Setahun terkumpul Rp 365.000. Uang itu digunakan untuk kursus mengemudi dan mendapatkan Si A. Sesudah dapat SIM A dia melamar jadi sopir pribadi di Surabaya. Sebagai sopir pribadi dia menabung Rp 5.000/hari. Sebulan terkumpul  Rp 150.000. Uangnya digunakan untuk kursus bahasa Inggeris. Setahun kemudian dia menjadi sopir pribadi orang Amerika di Jakarta. Gajinya naik. Tiap bulan menabung dan uangnya digunakan untuk kursus Bahasa Arab. Setahun kemudian menjadi sopir taksi di saudi Arabia. Lima tahun kemudian pulang ke Indonesia. Dia membeli rumah mewah di Cibubur Country dan mendirikan bengkel mobil. Si B nasibnya berubah menjadi kaya raya.
C.Beberapa contoh untuk memperluas wawasan dan cakrawala berlogika yang benar.
1.Kasus Mbah Maridjan
Mbah Maridjan tewas dalam posisi sholat ketika terjadi bencana Gunung Merapi. Lantas ada yang mengatakan Mbah Maridjan meninggal secara khusnul qotimah karena meninggal dalam kondisi shalat.
Itu tidak benar.Sebab Mbah Maridjan tahu situasi dalam kondisi gawat. Bagi agama Islam, menyelamatkan diri merupakan kewajiban, tetapi iitu tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Jadi, meninggalnya Mbah Maridjan bukan takdir absolut, melainkan takdir relatif. Artinya, sesungguhnya Mbah Maridjan bisa menyelamatkan diri dan shalat di tempat lain yang aman. Oleh karena itu meninggalnya juga tidak termasuk khusnul qotimah.
2.Kasus kecelakaan Saiful Jamil
Saiful Jamil mengalami kecelakaan mobil sehingga isterinya meninggal. Ada yang mengatakan kecelakaan itu merupakan takdir Tuhan.
Itu tidak benar. Sebuah kecelakaan ada kaitannya dengan freedom yang dimiliki manusia. Artinya, supaya tidak terjadi kecelakaan, Saiful bisa mencek kondisi mobilnya sebelum berangkat. Bisa hati-hati. Dan harus tahu berapa kapasitas mobilnya.
Kenyataannya, remnya hanya berfungsi sebelah. Mobil yang didesain untuk 6 orang ternyata ditumpangi 10 orang. Saifulpun tak mempunyai kemamuan mengendalikan mobil secara hati-hati. maka kecelakaan itu bukanlah takdir, melainkan nasib absolut. Sedangkan istrinya yang meninggal merupakan takdir absolut.
3.Kasus Si A dibunuh Si B
Si A dibunuh Si B. Si A meniunggal merupakan takdir absolut. Sedangkan Si B yang membunuh Si A bukanlah takdir, melainkan nasib absolut. Sebab, seharusnya Si B bisa menahan diri. Si A meninggal merupakan Logika Tuhan. Sedangkan Si B membunuh Si A merupakan Logika Manusia.
4.Kasus gempa dan tsunami di Aceh
Bukan takdir Tuhan, sebab Tuhan tidak pernah ikut campur dalam urusan bencana alam. Yang berlaku bukanlah Logika Tuhan, melainkan Logika Alam atau hukum alam. Gempa terjadi akibat hukum alam yang telah “diprogram” oleh Tuhan. Jadi bencana alam terjadi sesuai dengan program yang akan terjadi dengan sendirinya.
5.Kasus kelahiran, jodoh, rezeki dan kematian
Memang benar, kelahiran,jodoh,rezeki dan kematian sudah ditentukan Tuhan. namun dalam hal-hal tertentu juga ditentukan manusia. Sebuah kelahiran bisa saja dibatalkan (abortus), sebuah jodoh atau sebuah perceraian bisa saja terjadi (karena suami/iisteri berperilaku buruk). Sebuah rezeki bisa saja tak bertambah (karena manusia tidak mau berusaha optimal). Sebuah kematian bisa saja bukan atas kehendak Tuhan (bunuh diri).
Kesimpulan
1.Kehidupan manusia itu harus dipahami secara cerdas sebab ada takdir absolut,takdir relatif,nasib absolut dan nasib relatif. Keempatnya harus dianalisa secara cerdas.
2.Kehidupan manusia berada pada dimensi determinisme (takdir) dan freedomisme (nasib)
3.Kehidupan manusia berada pada tiga logika, yaitu Logika Tuhan, Logika Alam dan Logika Manusia.
Memahami ilmu filsafat dan ilmu logika sebenarnya tidak mudah. Sebab, harus mempunyai IQ tinggi, cerdas, berwawasan luas dan memahami banyak ilmu pengetahuan.
Catatan:
Kalau artikel ini dibaca oleh pembaca yang tidak menguasai ilmu filsafat dan ilmu logika, bisa saja menimbulkan persepsi negatif dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya.
Narasumber ; https://ffugm.wordpress.com/2011/09/07/filsafat-determinisme-takdir-absolut-dan-takdir-relatif-freedom-nasib-absolut-dan-nasib-relatif/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar