ARTIKEL ini merupakan artikel
filsafat. Bicara tentang pola-pola pemikiran dan implikasinya. Sebab, banyak
umat beragama yang punya anggapan kurang komprehensif. Wawasan berpikirnya
kurang luas. Cara berpikirnya dogmatis-pasif sehingga tak bisa berkembang dan
tidak bisa menerima adanya pendapat-pendapat yang berbeda.
A.Determinisme (Takdir)
Merupakan cara berpikir bahwa semua
kejadian di dunia ini sudah direncanakan Tuhan. Bahkan jatuhnya daunpun sudah
ditentukan Tuhan. Bahkan secara ekstrim ada yang mengatakan kekalahan timnas
PSSI melawan Iran dan Bahrain sudah merupakan takdir. Tentu, cara berpikir yang
ekstrim seperti itu berlebihan dan tidak sepenuhnya benar.
Memang, ada hal-hal tertentu yang
sudah ditentukan Tuhan, namun ada juga yang tidak ditentukan Tuhan.
Tiga macam logika
1.Logika Tuhan
2.Logika Alam
3.Logika Manusia
ad.1.Logika Tuhan
Yaitu sebuah fakta yang hanya bisa
dipahami oleh Tuhan. Manusia tidak mungkin memahaminya.
Contoh:
Langit sesungguhnya berkembang terus.
Langit tak ada batasnya. Kalau langit berkembang terus dan tak ada batasnya,
lantas langit berkembang ke mana? Tentu sesudah langit ada ruang kosong? Logika
manusia tak akan mampu menjawabnya secara pasti. Itulah yang dinamakan Logika
Tuhan.
ad.2.Logika Alam
Yaitu sebuah proses hukum alam yang
sudah “diprogram” oleh Tuhan. Merupakan hukum sebab akibat yang akan terjadi
dengan sendirinya secara otomatis. Ibarat seorang programmer yang membuat
program di mana inputnya dilakukan oleh orang lain dan outputnya sesuai dengan
program yang telah dibuat dan dalam hal ini programmer tidak ikut campur
tangan.
Contoh:
Bencana alam ataupun jatuhnya daun
merupakan hasil dari sebuah program atau rencana dari Tuhan di mana bencana dan
kejadian alam akan terjadi dengan sendiri tanpa adanya campur tangan dari Tuhan
lagi. Tuhan hanya bersifat mengetahui dan tidak bersifat menentukan.
ad.3.Logika manusia
Yaitu sebuah cara berpikir manusia
yang suatu saat ada batasnya. Pikiran-pikiran manusia ditentukan oleh kebebasan
(freedom) yang dimiliki oleh tiap-tiap manusia. Logika manusia yang satu dengan
yang lain manusia yang lain bisa berbeda-beda karena adanya perbedaan
pendidikan, umur, latar belakang pendidikan, sedikit banyak ilmu yang dimiliki
dan tingkat intteligensi atau IQ masing-masing manusia.
Contoh:
Ada yang berpendapat bahwa puasa
tidak bisa mengubah perilaku dan watak manusia sebab yang bisa mengubahnya
adalah motivasi-diri yang kuat yang dimiliki manusia. Hal ini diucapkan oleh
manusia yang faham psikologi. Ada juga yang berpendapat bahwa puasa bisa
mengubah perilaku atau watak manusia. Tidak ada argumentasi yang logis dan
benar. Hal ini hanya diucapkan oleh manusia yang tidak faham psikologi.
Ada dua hal yang berhubungan dengan
determinisme
1.Takdir absolut
2.Takdir relatif
ad.1.Takdir absolut
Yaitu sebuah takdir yang tidak bisa
dihindarkan manusia
Contoh:
Si A sedang enak-enakk tidur di dalam
rumahnya di Aceh. Tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Si A tak mungkin menghindar.
Diapun tewas tertimpa reruntuhan rumahnya. Itulah takdir absolut.
ad.Takdir relatif
Yaitu sebuah takdir yang bisa atau
yang seharusnya bisa diperbaiki manusia
Contoh:
Si B ketika lahir, ternyata
ditakdirkan lahir dengan bibir sumbing. Namun untunglah, kemajuan teknologi dan
ilmu kedokteran memungkinkan Si B melakukan operasi bibir sumbing sehingga
bibirnya bisa kembali normal, walaupun tidak 100% sempurna
B.Freedom (Nasib).
Yaitu, kebebasan yang diberikan oleh
Tuhan kepada manusia. Secara fisik kebebasan itu berbentuk otak, hati dan
motivasi. Otak untuk berpikir dan mempertimbangkan. Hati untuk merasakan.
Sedangkan motivasi untuk mewujudkan hasil pemikiran otak dan pertimbangan hati.
Jadi, di sini Tuhan tidak ikut campur. Tuhan hanya bersifat Maha Tahu.
Ada dua macam freedom (nasib)
1.Nasib absolut
2.Nasib relatif
1.Nasib absolut
Yaitu sebuah kondisi yang tidak
berubah karena manusia tidak mau berusaha. Tidak mau menggunakan otak,hati dan
motivasinya.
Contoh:
Si A dalah tukang becak. Tiap hari
semua hasil kerjanya diserahkan ke isterinya. Tidak pernah menabung. hasilnya,
seumur hidup tetap menjadi tukang becak. Nasibnya bersifat absolut.Tidak berubah.
2.Nasib relatif
Yaitu sebuah kondisi yang bisa diubah
atau yang seharusnya bisa diubah dari buruk menjadi baik. Hal ini terjadi
karena manusia mau menggunakan otak, hati dan motivasinya secara positif.
Contoh:
Si B juga tukang becak. Tiap hari
menabung Rp 1.000. Setahun terkumpul Rp 365.000. Uang itu digunakan untuk
kursus mengemudi dan mendapatkan Si A. Sesudah dapat SIM A dia melamar jadi
sopir pribadi di Surabaya. Sebagai sopir pribadi dia menabung Rp 5.000/hari.
Sebulan terkumpul Rp 150.000. Uangnya digunakan untuk kursus bahasa
Inggeris. Setahun kemudian dia menjadi sopir pribadi orang Amerika di Jakarta.
Gajinya naik. Tiap bulan menabung dan uangnya digunakan untuk kursus Bahasa
Arab. Setahun kemudian menjadi sopir taksi di saudi Arabia. Lima tahun kemudian
pulang ke Indonesia. Dia membeli rumah mewah di Cibubur Country dan mendirikan
bengkel mobil. Si B nasibnya berubah menjadi kaya raya.
C.Beberapa contoh untuk memperluas
wawasan dan cakrawala berlogika yang benar.
1.Kasus Mbah Maridjan
Mbah Maridjan tewas dalam posisi
sholat ketika terjadi bencana Gunung Merapi. Lantas ada yang mengatakan Mbah
Maridjan meninggal secara khusnul qotimah karena meninggal dalam kondisi
shalat.
Itu tidak benar.Sebab Mbah
Maridjan tahu situasi dalam kondisi gawat. Bagi agama Islam, menyelamatkan diri
merupakan kewajiban, tetapi iitu tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Jadi,
meninggalnya Mbah Maridjan bukan takdir absolut, melainkan takdir relatif.
Artinya, sesungguhnya Mbah Maridjan bisa menyelamatkan diri dan shalat di
tempat lain yang aman. Oleh karena itu meninggalnya juga tidak termasuk khusnul
qotimah.
2.Kasus kecelakaan Saiful Jamil
Saiful Jamil mengalami kecelakaan
mobil sehingga isterinya meninggal. Ada yang mengatakan kecelakaan itu
merupakan takdir Tuhan.
Itu tidak benar. Sebuah kecelakaan
ada kaitannya dengan freedom yang dimiliki manusia. Artinya, supaya tidak
terjadi kecelakaan, Saiful bisa mencek kondisi mobilnya sebelum berangkat. Bisa
hati-hati. Dan harus tahu berapa kapasitas mobilnya.
Kenyataannya, remnya hanya berfungsi
sebelah. Mobil yang didesain untuk 6 orang ternyata ditumpangi 10 orang.
Saifulpun tak mempunyai kemamuan mengendalikan mobil secara hati-hati. maka
kecelakaan itu bukanlah takdir, melainkan nasib absolut. Sedangkan istrinya
yang meninggal merupakan takdir absolut.
3.Kasus Si A dibunuh Si B
Si A dibunuh Si B. Si A meniunggal
merupakan takdir absolut. Sedangkan Si B yang membunuh Si A bukanlah takdir,
melainkan nasib absolut. Sebab, seharusnya Si B bisa menahan diri. Si A
meninggal merupakan Logika Tuhan. Sedangkan Si B membunuh Si A merupakan Logika
Manusia.
4.Kasus gempa dan tsunami di Aceh
Bukan takdir Tuhan, sebab Tuhan tidak
pernah ikut campur dalam urusan bencana alam. Yang berlaku bukanlah Logika
Tuhan, melainkan Logika Alam atau hukum alam. Gempa terjadi akibat hukum alam
yang telah “diprogram” oleh Tuhan. Jadi bencana alam terjadi sesuai dengan
program yang akan terjadi dengan sendirinya.
5.Kasus kelahiran, jodoh, rezeki dan
kematian
Memang benar, kelahiran,jodoh,rezeki
dan kematian sudah ditentukan Tuhan. namun dalam hal-hal tertentu juga
ditentukan manusia. Sebuah kelahiran bisa saja dibatalkan (abortus), sebuah
jodoh atau sebuah perceraian bisa saja terjadi (karena suami/iisteri
berperilaku buruk). Sebuah rezeki bisa saja tak bertambah (karena manusia tidak
mau berusaha optimal). Sebuah kematian bisa saja bukan atas kehendak Tuhan
(bunuh diri).
Kesimpulan
1.Kehidupan manusia itu harus
dipahami secara cerdas sebab ada takdir absolut,takdir relatif,nasib absolut
dan nasib relatif. Keempatnya harus dianalisa secara cerdas.
2.Kehidupan manusia berada pada
dimensi determinisme (takdir) dan freedomisme (nasib)
3.Kehidupan manusia berada pada tiga
logika, yaitu Logika Tuhan, Logika Alam dan Logika Manusia.
Memahami ilmu filsafat dan ilmu
logika sebenarnya tidak mudah. Sebab, harus mempunyai IQ tinggi, cerdas,
berwawasan luas dan memahami banyak ilmu pengetahuan.
Catatan:
Kalau artikel ini dibaca oleh pembaca
yang tidak menguasai ilmu filsafat dan ilmu logika, bisa saja menimbulkan
persepsi negatif dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya.
Narasumber ; https://ffugm.wordpress.com/2011/09/07/filsafat-determinisme-takdir-absolut-dan-takdir-relatif-freedom-nasib-absolut-dan-nasib-relatif/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar