ALL ABOUT FILSAFAT

Rabu, 07 Desember 2016

Kitab Suci Bagi Pencipta Filsafat

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang bermakna “cinta kebijaksanaan”. Dengan kata lain, filsafat adalah salah satu pengetahuan yang merupakan induk dari semua ilmu yang berusaha mencari hakekat kebenaran. Perkembangan Filsafat, sejak masa Yunani hingga kebangkitan Filsafat Islam dan Filsafat Barat, telah memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap peradaban dunia. Pada akhirnya, filsafat telah melahirkan apresiasi dan respon yang cukup besar dalam sejarah pemikiran manusia. Hal itu tercermin dengan melihat fenomona bahwa tidak sedikit orang yang rela meluangkan waktunya untuk belajar dan menggeluti buku-buku filsafat, bahkan mengambil jurusan filsafat.
 

Tak pelak, filsafat di kalangan kaum intelektual menjadi suatu kajian yang begitu menarik. Pencinta filsafat optimis bahwa filsafat merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyan yang berkenaan dengan realitas. Namun, sedikit sekali orang yang berfilsafat secara sistematis. Mereka cenderung mengkaji produk-produk pemikiran dari para Filosof di masa lampau, tanpa menciptakan suatu pemikiran orisinil. Selain itu, mayoritas dari mereka memperlakukan filsafat hanya sebagai sesuatu yang disimak dan ditiru belaka, tanpa memperhatikan semangat kritis yang merupakan faktor terpenting dalam kemajuan dan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan.
 

Banyak orang telah menghabiskan bertahun-tahun umurnya untuk belajar dan menggeluti buku-buku berat filsafat, namun tidak juga memahami dengan tepat apa kebutuhan kita pada filsafat, celah apa yang bisa ditutupinya serta manfaat apa yang diberikannya buat umat manusia. Kebanyakan dari mereka belajar filsafat hanya dengan menyimak para pemikir terkemuka. Karena metode semacam ini dipakai oleh para ahli tata bahasa, mereka pun mengikuti langkah tersebut. Akhirnya, filsafat tidak mengalami kemajuan yang signifikan.
 

Fenomena tersebut menggugah Prof. Taqi Mishbah Yazdi seorang filosof muda Iran untuk menyusun buku yang berguna untuk pengajaran filsafat. Buku ini diharapkan mampu menjawab fenomena tersebut lewat karyanya yang berjudul “Buku Daras Filsafat Islam” (terjemahan Indonesia). Berdasarkan pengalaman belajarnya dengan Imam Khomaeni dan Allamah Thabathaba’I, serta pengalamannya mengajar filsafat di universitas Dar Rah-e Haqq Institute, Qum Iran. Dalam buku ini meniscayakan adanya eksistensi filsafat Islam dalam kancah filsafat.
***
 

Dalam beberapa kurun terakhir ini, diskursus filsafat Islam dan teori-teori mutakhir filosof-filosof Muslim mendapatkan perhatian khusus di tanah air. Perhatian ini didukung oleh upaya-upaya penerjemahan karya-karya para filosof Muslim. Sehingga para pecinta filsafat Islam dapat mengakses buah pikiran dan karya tulis mereka.Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terjemahan dapat mereduksi isi (content) dari naskah asli karena tidak terlepas dari interpretasi penerjemah. Oleh karena itu, penerjemahan diupayakan agar dilakukan secermat mungkin, dan ini memerlukan penguasaan bahasa asli naskah yang ditulis oleh sang filosof. Tentunya, penguasaan atas filsafat Islam itu sendiri, apalagi bagi penerjemah yang juga turut terlibat dalam memberikan catatan-catatan kaki.
 

Barangkali langkah awal yang harus ditempuh dalam belajar filsafat, bagi calon pemikir dan filosof muda, adalah sejarah filsafat dan aliran pemikirannya. Hal itu karena hampir semua filosof adalah sejarawan tapi tidak semua sejarawan itu Filosof. Dengan belajar mengenai sejarah, maka akan memberi pengetahuan tentang filsafat dari awal kemunculannya hingga masa sekarang. Karena pemikiran-pemikiran para filosof senantiasa dipengaruhi oleh realitas dan pemikiran filosof sebelumnya. Jika diilustrasikan, maka produk-produk pemikiran filsafat bagaikan sebuah mata rantai yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
 

Kemudian, hal yang harus diketahui oleh para calon filosof muda dalam mempelajari filsafat, menurut Prof. Taqi Mishbah Yazdi, adalah memahami tentang kedudukan filsafat. Selain itu, kita harus mengetahui hubungan antara filsafat dengan berbagai disiplin ilmu lain, serta kebutuhan semua ilmu pada filsafat. Lalu, hal yang harus menjadi perhatian para calon filosof muda adalah urgensi belajar filasafat.
 

Sebelum berlanjut pada persoalan-persoalan mendasar filsafat, seperti persoalan-persoalan ontologis dan metafisis, pencinta filsafat harus mempelajari epistemologi. Hal itu karena dengan menguasai epistimologi, maka dapat mengantarkan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar filsafat. Penyelidikan epistimologi, secara sistematis, pertama kali dilakukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz dan John Locke. Secara definitif, Yazdi dalam buku ini mendefinisikan epistemologi sebagai “bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya”. Dan pertanyaan tentang “Apakah akal (intelek) manusia mampu menjawab berbagai pertanyaan manusia sebagai makhluk yang berkesadaran?” merupakan inti pertanyaan yang membentuk epistimologi.
 

Kajian tentang ontologi menjadi langkah berikutnya dalam mempelajari filsafat. Ontologi membahas diskursus berkenaan dengan metafisika. Di dunia keilmuan dan filsafat, metafisika dianggap sebagai “induk semua ilmu” karena ia adalah kunci untuk mendedah pertanyaan mendasar yang dihadapi manusia dalam kehidupan. Pembahasan tentang eksistensi dan esensi Tuhan menjadi suatu kajian pokok dalam ontologi, yang dalam filsafat Islam dikenal dengan wujud dan mahiyyah. Subjek initelah melahirkan berbagai konsep dan corak pemikiran yang beragam di dunia filsafat.
 

Pembahasan tentang sejarah filsafat hingga persoalan-persoalan ontologis barangkali bisa menjadi langkah awal dalam mengkaji filsafat. Dan berbagai persoalan tersebut telah dibahas secara komprehensif dalam buku ini. Yazdi memaparkan berbagai persoalan tersebut dalam bentuk pelajaran-pelajaran yang saling berhubungan, sehingga memudahkan para pelajar untuk mengkaji secara mendalam. Dengan tetap menumbuhkan semangat kritis dalam belajar. Adapun buku yang ada dihadapan kita ini ditulis berdasarkan rekaman perkuliahan di Univ Qum Iran oleh Yazdi beserta para pengajar dan murid-muridnya.
 

Bagi Yazd,i buku ini bisa menjadi pijakan awal bagi para pelajar dalam mengkaji filsafat, dan menjadi buku kuliah pengantar yang wajib dibaca oleh siapa saja yang hendak mengkaji keluasan dan kedalaman dalam kajian filsafat, terutama filsafat Islam.
Hal yang dilakukan Yazdi merupakan langkah fundamental ke arah perubahan dalam pengajaran ilmu-ilmu keislaman khususnya filsafat. Demi merangsang munculnya langkah-langkah berikutnya yang lebih mendalam, sempurna dan lebih baik oleh para pemikir dan filosuf yang lebih unggul.
***
 


Buku Daras Filsafat Islam ini diperkirakan oleh banyak peminat filsafat Islam di Indonesia sebagai karya ilmiah yang penting, mengingat buku ini menyajikan bahasan-bahasan tradisi Hikmah Muta’aliyah dengan metode yang terbilang baru, lebih mudah diakses oleh pemula, diperkaya dengan studi komparatif dan pandangan-pandangan khas penulis. Selain itu, buku ini diterjemahkan dari dua naskah terjemahan; Inggris dan Arab, oleh dua penerjemah yang menguasai tiga bahasa asing sekaligus, dan diterbitkan oleh penerbit nasional sekaliber Mizan yang punya dewan redaksi seri filsafat Islam yang terdiri dari guru-guru filsafat di tanah air. Lalu, buku terjemahan ini termasuk buku pertama yang bila jilid keduanya telah diterbitkan- paling lengkap dalam merangkum tema-tema filsafat Islam (Hikmah Muta’aliyah). Buku ini juga sudah menjadi buku pelajaran (buku daras) di sebagian kuliah-kuliah filsafat Islam di sebagai perguruan tinggi Indonesia. Dan isi buku ini pernah dibedah secara terbuka dan publikatif, dan beberapa kali diresensi di media massa.
 

Pembedahan buku (terjemahan) ini dilakukan secara sederhana, yaitu terfokus pada beberapa kasus dari terjemahan buku yang tampaknya tidak benar dan tidak tepat. Kasus-kasus ini memperkarakan enam poin. Pertama, soal diksi; pemilihan kata yang ganjil, tidak tepat, absurd, plural dan salah. Kedua, susunan kalimat yang tidak benar. Ketiga, kalimat panjang yang tak sempurna. Keempat, terjemahan yang tidak benar. Kelima, banyak catatan kaki keliru dan atau redundansi (berlebihan). Keenam, pengulangan yang kilat dan dahsyat istilah-istilah asing dua bahasa dalam tanda kurung.
 

Terlepas dari berbagai kekurangan tekhnis, buku ini sangat komprehensif dijadikan pedoman (kitab suci) bagi para pecinta filsafat, terutama filsafat Islam. Penyusunan masalah-masalah (filsafat) dalam buku ini sangat sistematis sehingga membantu para pelajar untuk mengkaji filsafat. Diharapakan, buku ini menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi yang menyuguhkan mata kuliah Filsafat Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar