ALL ABOUT FILSAFAT

Jumat, 02 Desember 2016

Filsafat Zaman India (Hindu)



Sifat-sifat Filsafat India
Filsafat (zaman kuno) di India (”anviski” atau ”darsana” = sistem) sedikit berlainan artinya dibandingkan filsafat Barat modern. Lebih menyerupai ”ngelmu” daripada ”ilmu”, lebih mendekati arti kata phisolophia yang semula, lebih merupakan jalan hidup yang bertujuan memaparkan bagaimana orang dapat mencapai kebahagiaan yang kekal. Berbeda dengan sikap orang Yunani (yang pada umumnya dapat dikatakan: obyektif, rasional teknis) maka sikap orang India lebih subyektif, lebih mementingkan perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dunia yang mengelilinginya dan dengan hati terbuka bagi Realitas Ajaib yang mengatasi segala-galanya dan yang harus dihormati dengan korban-korban dan upacara-upacara. Perhatian terhadap manusia juga lain: tidaklah manusia dipandang sebagai terikat oleh dunia kebendaan dari mana ia harus membebaskan diri untuk mencapai kebahagiaan. Alam pikiran India boleh dikatakan: ”Magis Religius” dan dalam suasana ini filsafat berkembang, tidaklah sebagai suatu ilmu tersendiri melainkan sebagai suatu faktor penting dalam usaha pembebasan diri (liberation).
Maka sifat-sifat khusus yang membedakan filsafat India dari filsafat Yunani adalah sebagai berikut:
  1. Suasana dan bakat orang India yang berlainan dengan bakat orang Yunani. 
  2. Seluruh pengetahuan dan filsafat diabdikan kepada usaha-usaha pembebasan dan penebusan. 
  3. Berpangkal pada buku-buku kuno (Weda) yang kekuasaanyan tidak dapat diganggu-gugat, hanya dapat ditafsirkan dan diterangkan lebih lanjut.
  4. Perumusan-perumusan umumnya kurang tajam, tidak tegas membeda-bedakan antara misalnya: sifat-sifat diri: konkrit-abstrak, hidup-tidak hidup, kesatuan persamaan, sebab-alasan. Hal ini mengakibatkan seluruh filsafat India mendapatkan sifat samar yang mempersulit pemecahan besar. Karena pengaruh maha-besar dari tulisan-tulisan kuno itu, maka sistem-sistem filsafat sering sukar juga untuk mengikuti jalan pikiran dan mencapai sintesis. 
  5. Berkaitan dengan perrnyataan di atas terlihat juga kekuatan asimilasi yang sangat besar, hingga unsur-unsur yang bertentangan satu sama lain dimasukkan dalam satu sistem: ”syncretisme”. 
  6. Dalam semua sistem ditemukan sejumlah pengertian yang tidak timbul dari pandangan filsafat, melainkan yang merupakan warisan dari zaman kuno dan yang memegang peranan penting dalam semua sistem-sistem (kecuali dalam carvaka), misalnya: karena dengan kelahiran kembali, mukti, Samsara, Atman dan Brahmana. Demikian pula prinsip-prinsip etika (menguasai diri, hormat terhadap hidup, dan sebagainya).
Inilah yang memberikan corak kesatuan kepada semua aliran-aliran dan sistem-sistem walaupun berbeda-beda satu sama lain.


Perkembangan Filsafat India
Perkembangan filsafat India terbagi menjadi lima zaman berikut ini:
a.    Zaman Weda (1500-600 SM). Zaman ini diisi oleh perdaban bangsa Arya. Pada saat itu baru muncul benih pemikiran filsafat yang berupa mantera-mantera, pujian keagamaan yang terdapat dalam sastra Brahmana dan Upanishad.
b.    Zaman Wiracarita (600-200 SM). Zaman ini diisi oleh perkembangan sistem pemikiran filsafat yang berupa Upanishad. Ide pemikiran filsafat tersebut muncul berupa tulisan-tulisan tentang kepahlawanan dan tentang hubungan antara manusia dengan dewa.
c.  Zaman Sastra Sutra (200 SM-1400 M). Zaman ini diisi oleh semakin banyaknya bahan-bahan pemikiran filsafat (sutra) ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, dan lainnya.
d.     Zaman kemunduran (1400-1800 M). Zaman ini diisi oleh pemikiran filsafat yang mandul karena para ahli pikir hanya menirukan pemikiran filsafat yang lampau. Timbulnya keadaan ini disebabkan oleh pertemuan antara kebudayaan Barat dengan pemikiran India sehingga menimbulkan reaksi hebat dari pemikir India.
e.       Zaman Pembaharuan (1800-1950 M). Zaman ini diisi oleh kebangkitan pemikiran filsafat India. Pelopornya adalah Ram Mohan Ray, seorang pembaru yang mendapatkan pendidikan di Barat.

a.      Zaman Weda (1500- 600 SM)
Dikatakan zaman Weda karena sumber benih pemikiran filsafat berasal dari kitab-kitab Weda (Rig Weda, Sama Weda, Yazur Weda, dan Athawar Weda). Benih pemikiran filsafat tersebut dalam mantera “di atas air samudera mengapung telor dunia, kemudian pecah menjadi wismakarman sebagai anak pertama alam semesta.” “Dunia tersusun menjadi tiga bagian, yaitu surga, bumi, dan langit, di mana ketiga bagian tersebut mempunyai dewa-dewa sendiri-sendiri.” “Jiwa manusia tidak dapat mati.” “Mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang soleh dan hidup baik.”
Orang-orang Arya meyembah pada dewa-dewa seperti matahari, bulan, bintang dan lainnya. Dewa secara harfiah berat terang, karena itu pengertian dewa adalah benda yang terang yang dianggap sebagai kekuatan alam yang mempunyai person. Dewa Indra dianggap sebagai dewa nasional, karena Dewa Indra berarti dbangsa Dasyu. Dewa lain yang dianggap penting adalah Dewa Waruna, yaitu dewa yang menguasai alam semesta, yang sekaligus sebagai dewa moral dan dewa segala dewa.
Dalam sastra Brahman disebutkan bahwa ketika bangsa Arya telah menetap di lembah Gangga, benih pemikiran filsafat berupa ”korban”. Korban ini dianggap penting dalam kehidupan manusia, yang dipersembahkan kepada imam. Misalnya, korban diadakan agar matahari tetap bersinar sehingga dengan adanya korban ini kehidupam masyarakat bersifat ritualitas.
Pada tahun 700 SM benih pemikran filsafat pembahasannya lebih mendalam lagi, bersumber pada sastra Upanishad. Keadaan yang demikian ini muncul tatkala kaum Ksatria memberontak kepada kaum Brahman. Pembeontakan ini karena ajaran Upanishad banyak yang diselewengkan. Kedalaman pemikiran filsafat terbukti dari anggapan dahulu (zaman Brahman), Dewa Brahman hanya dianggap sebagai asas pertama alam semesta. Namun, sekarang (zaman Upanishad) Dewa Brahman dianggap sebagai dewa yang transenden dan immanen. Juga, Dewa Brahman dianggap berada dalam alam semesta dan diri manusia, yang terjelma berupa unsur api.

b.      Zaman Wiracarita (600 SM-200 M)
Sebagai latar belakang zaman ini adanya krisis politik, kemerosotan moral atau kepercayaan terhadap para dewa, akibat dari kaum penjajah (pendatang). Kemudian banyak orang mencari ketengan, dan muncullah para ahli pikir untuk menuangkan pemikirannya, sehingga terjadilah pertenatangan antarpemikiran. Timbullah aliran yang bertuhan (Baghawadigta), aliran yang tidak bertuhan (Jainisme dan Buddhisme), juga aliran yang spekulatif (Saddarcana).
Jainisme timbul sebagai reaksi zaman Brahman. Pelopornya adalah Wadhamana (abad ke-6 SM). Sementara itu, Buddhisme (yang dicerahi) merupakan sebutan untuk tokoh rohani yang menjelma pada seseorang. Jelmaan terakhir Buddhisme adalah Sidharta, yang lahir tahun 567 SM di Kapilawastu.
Baghawadigta adalah sebuah kitab yang ditulis pada abad ke-3 SM, pusat penyebarannya di Gangga Barat. Isi kitabnya adalah uraian ajaran Kresna pada Arjuna tentang bhakti (penyerahan diri).

c.       Zaman Sastra Sutra (200 SM - sekarang)
Zaman ini juga disebut zaman Skolastik. Kitab yang muncul pertama kali adalah kitab Wedangga yang uraiannya berbentuk prosa, disusun secara singkat agar mudah dihafal atau diamalkan. Juga timbul sutra-sutra yang bertentangan dengan Weda, dan sutra tersebut dijadikan sumber pemikiran filsafat.

Sistem Filsafat India, terbagi menjadi enam sistem berikut.
  1. Nyala, yaitu membicarakan bagian umum dan metode yang dipakai dalam penyelidikan, yaitu metode kritis. Sistem ini juga digunakan untuk mencari hal yang benar dari ayat-ayat Weda, penulisnya Gautama (abad ke-4 SM). 
  2. Waisesika, yaitu kitab yang bersumber pada Waisesika Sutra. Sistem pemikirannya bersifat metafisik. Ajaran pokoknya membicarakan tentang dharma yaitu uraian tentang kesejahteraan dunia dan memberikan pelepasan. Ajaran yang pokok lainnya adalah padharta, yaitu membicarakan kategori yang ada:substamsi, kualitas, aktivitas, sifat umum, sifat perseorangan, pelekatan, dan ketidakadaan. Penulisanya adalah Khanada. 
  3. Sakha, artinya pemantula. Aliran ini mengemukakan bahwa untuk merealisasikan kenyataan akhir filsafat diperlukan pengetahuan. Pokok ajarannya, terdapat dua zat asasi yang bersama-sama membentuk realitas dunia, yaitu roh dan benda (purusa dan prakerti). Pendirinya adalah Sakha Kapila (abad ke-5 SM). 
  4. Yoga, yaitu cara untuk mengawasi pikiran, agar kesadaran yang biasa menjadi luar biasa. Pendirinya Patanjali. 
  5. Purna Wimansa, yaitu sistem inilah yang benar-benar mendasarkan pada kitab Weda. Sistem ini dimaksudkan untuk penyelidikan sistematis pada bagian pertama Weda. Pokok ajarannya, menegakkan wibawa kitab Weda dan menujukkan bahwa kitab Weda berisi upacara ritual. 
  6. Wedanta yaitu sistem yang membicarakan bagian kitab Weda (yang terakhir). Kitab ini merupakan suatu kesimpulan kitab Weda. Sistem Wedanta ini bersamaan dengan zaman sutra (zaman Skolastik) yang ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh Sankara, Ramanuja, Madhwa. Mereka ini telah berhasil menyusun kembali ajaran kuno yang dapat memberikan peluang dalam perkembangan filsafat India.

Filsafat India pada Akhir Abad ke-20
            Mulai abad ke-7 sampai abad ke-14, karena jasa Sankara, ajaran Wedanta mendominasi pemikiran pemikiran filsafat India. Akan tetapi, setelah abad ke-14 pemikiran filsafat mengalami kemunduran hingga abad ke-18. Kemunduran ini sebenarnya telah muncul mulai abad ke-12 saat kedatangan agama Islam di India. Tokohnya Kabir (1440-1518), yang berupaya untuk menyingkirkan unsur-unsur yang melemahkan perjuangan Islam dan mencoba membuat suatu sintesis antara Islam dengan Hindu. Kemudia, diteruskan oleh anaknya Nanak (1469-....) yang mempunyai sifat lebih ekstrem.
            Setelah abad ke-19, pemikiran filsafat India bangkit berkat sentuhan kebudayaan Barat. Pelopornya adalah Ram Mohan Ray (1777-1833). Ia seorang Hindu yang memperoleh pendidikan Barat. Gerakannya disebut Brahma Samj, yang mempunyai sikap keras terhadap Kristen. Penggantinya Rabindranath Tagore (1861-1941), seorang pujangga, ahli filsafat, dan pendidik India, kemudian disusul Kesab Chandra Sen (1838-1884), akhirnya Brahman Samaj pecah karena Kristen.
            Tahun 1875 muncul gerakan pembaru pemikiran filsafat India, yaitu Arya Samaj sebagai pendirinya Awami D. Saraswati (1824-1884). Gerakan ini bertujuan untuk mengadakan pembaruan terhadap agama Hindu dan mencari sintesis yang kuno dengan yang baru, antara Barat dan Timur. Seorang pembaharu yang lain adalah Sri Ramkresna (1834-1886), ia adalah seorang imam kuil di Calcuta. Ajarannya berpangkal pada bermacam-macam kepercayaan yang ada, yang sebenarnya menuju pada satu tujuan perealisasian Tuhan.
            Seseorang pembaru lain adalah Mahatma Gandhi (1869-1948). Ajarannya, untuk mencari kemenangan harus dengan Satyagraha (kekuatan kebenaran). Artinya, orang harus memegang teguh kebenaran walaupun pada saat-saat membahayakan. Kejahatan harus dilawan dengan kebaikan. Ajarannya itu diberikan karena ia terjun di dunia politik. Terdapat dua orang pembaru, yaitu Sri Aurobindo (1872-1950), dan Sri Rama Maharsi.

Filsafat Tiongkok (Buddha)
Sifat-sifat Filsafat Tiongkok
Yang menjadi pusat perhatian dalam filsafat Tionghoa (Chu tzu, atau: Hsuan-Huseh, atau:tao-hseh) yaitu kelakuan manusia, sikapnya terhadap dunia yang mengelilinginya dan sesama manusianya.
Filsafat Barat menanyakan hubungan sebab-akibat, mencari mengapa dan bagaimana obyek yang diselidiki secara obyektif. Berlainan dengan filsafat Tionghoa: bagi filsuf-filsuf Tionghoa manusia dan dunia merupakan satu kesatuan, satu ”kosmos”, kesatuan yang mana tidak boleh diganggu oleh perbuatan-perbuatan manusia yang tidak selayaknya. Hanya jika tata dan kesatuan yang ada itu tetap terpelihara, semua akan selamat. Maka yang ditinjau oleh filsuf-filsuf Tionghoa ialah: bagaimanakah sikap orang terhadap dunia, terhadap sesama manusia dan terhadap ”Surga” agar manusia tetap dalam hubungan yang harmonis dalam dunia, manusia dan ”Surga”. Itulah yang mereka lebih titik beratkan ”What man is (= his moral qualities) daripada ”What he has (= his intellectual capacities). Pengetahuan tidaklah dikejar ”asal mengetahui saja” melainkan untuk diterapkan pada kelakuan manusia. Cita-cita mereka tidak lain menjadi ”the inner Sage” artinya orang yang telah membentuk kebajikan dalam dirinya sendiri yang ”bijaksana” betul-betul maka yang dititik beratkan ialah:
1)      Etika, bukanlah Logika atau Metafisika.
2)      Sistem-sistem filasafat dalam arti normal hampir-hampir tidak ada, akan tetapi ini tidak berarti bahwa de facto tidak ada sistem-sistem dalam arti ”organic unity of ideas” (seperti halnya pada Socrates dan juga Plato).
3)  Walaupun terlihat dalam filsafat Tionghoa hampir tidak ada kemajuan dan perkembangan akan tetapi para ”penafsir” juga mengemukakan buah-buah pikirannya sendiri, yang sejak dahulu masih terkandung dalam sistem-sistem lama berupa ”benih”, lama kelamaan menjadi lebih terlihat.

Latar Belakang Filsafat Tiongkok
Banyak aspek yang melatarbelakangi pemikiran filsafat Tiongkok, seperti aspek-aspek geografis, ekonomi, sikap terhadap alam, sistem kekerabatan dan lainnya. Tiongkok adalah suatu negeri daratan (continental) yang luas sekali, tidak pernah melihat lautan. Berbeda dengan Yunani yang merupakan negeri maritim, rakyatnya mengandalkan pertanian. Sebagai negeri agraris yang selalu mengandalkan potensi atau hasil tanahnya. Hal ini dibuktikan bahwa keunggulan kerajaan Tiongkok kuno ditentukan oleh keahlian bertani dan berperang, seperti kerajaan Chin pada abad ke-4 SM, yang untuk pertama kalinya dapat mempersatukan daratan Tiongkok.
Dalam tradisi Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah menuntut ilmu (belajar) dan mengolah tanah (bertani). Jenis pekerjaan ini akan mempengaruhi sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani mempunyai sifat khusus ”kesederhaan”, dan mereka selalu menerima dan mematuhi perintah. Mereka pun tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Sifat-sifat yang demikian inilah yang menjelma dalam sikap hidupnya.
Akar atau sumber alam pikiran rakyat Tiongkok adalah Taoisme dan Confucianisme. Taoisme adalah pandangan hidup yang menitikberatkan pada hal-hal yang sifatnya naturalistik yang berada dalam diri manusia. Sementara itu, Confucianisme adalah suatu pandangan hidup yang menitikberatkan pada organisasi sosial dan menekankan kepada tanggung jawab manusia terhadap masyarakat.
Dalam bidang kesenian, rakyat menganggap bahwa kesenian merupakan alat untuk pendidikan moral. Terbukti adanya lukisan-lukisan Tiongkok yang tergolong kelas utama, selalu menggambarkan pemandangan-pemandangan dan bunga-bungaan, pohon-pohonan, atau orang yang sedang duduk di pinggir sungai atau gunung.
Keadaan rakyat Tiongkok yang agraris ini berpengaruh pada metode filsafatnya. Terdapat dua macam konesp, yaitu metode yang dicapai lewat intuisi dan lewat hipoteiss. Bahasa yang digunakan dalam pemikiran filsafat adalah sugestif, artinya isi pemikirannya tidak tegas, hanya mengandung saran-saran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar