Sifat-sifat Filsafat India
Filsafat
(zaman kuno) di India (”anviski” atau ”darsana” = sistem) sedikit berlainan
artinya dibandingkan filsafat Barat modern. Lebih menyerupai ”ngelmu” daripada
”ilmu”, lebih mendekati arti kata phisolophia yang semula, lebih merupakan jalan
hidup yang bertujuan memaparkan bagaimana orang dapat mencapai kebahagiaan yang
kekal. Berbeda dengan sikap orang Yunani (yang pada umumnya dapat dikatakan: obyektif,
rasional teknis) maka sikap orang India lebih subyektif, lebih mementingkan
perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dunia yang mengelilinginya dan
dengan hati terbuka bagi Realitas Ajaib yang mengatasi segala-galanya dan yang
harus dihormati dengan korban-korban dan upacara-upacara. Perhatian terhadap
manusia juga lain: tidaklah manusia dipandang sebagai terikat oleh dunia kebendaan dari mana ia harus
membebaskan diri untuk mencapai kebahagiaan. Alam pikiran India boleh
dikatakan: ”Magis Religius” dan dalam suasana ini filsafat berkembang, tidaklah
sebagai suatu ilmu tersendiri melainkan sebagai suatu faktor penting dalam
usaha pembebasan diri (liberation).
Maka sifat-sifat khusus
yang membedakan filsafat India dari filsafat Yunani adalah sebagai berikut:
- Suasana dan bakat orang India yang berlainan dengan bakat orang Yunani.
- Seluruh pengetahuan dan filsafat diabdikan kepada usaha-usaha pembebasan dan penebusan.
- Berpangkal pada buku-buku kuno (Weda) yang kekuasaanyan tidak dapat diganggu-gugat, hanya dapat ditafsirkan dan diterangkan lebih lanjut.
- Perumusan-perumusan umumnya kurang tajam, tidak tegas membeda-bedakan antara misalnya: sifat-sifat diri: konkrit-abstrak, hidup-tidak hidup, kesatuan persamaan, sebab-alasan. Hal ini mengakibatkan seluruh filsafat India mendapatkan sifat samar yang mempersulit pemecahan besar. Karena pengaruh maha-besar dari tulisan-tulisan kuno itu, maka sistem-sistem filsafat sering sukar juga untuk mengikuti jalan pikiran dan mencapai sintesis.
- Berkaitan dengan perrnyataan di atas terlihat juga kekuatan asimilasi yang sangat besar, hingga unsur-unsur yang bertentangan satu sama lain dimasukkan dalam satu sistem: ”syncretisme”.
- Dalam semua sistem ditemukan sejumlah pengertian yang tidak timbul dari pandangan filsafat, melainkan yang merupakan warisan dari zaman kuno dan yang memegang peranan penting dalam semua sistem-sistem (kecuali dalam carvaka), misalnya: karena dengan kelahiran kembali, mukti, Samsara, Atman dan Brahmana. Demikian pula prinsip-prinsip etika (menguasai diri, hormat terhadap hidup, dan sebagainya).
Inilah yang memberikan corak kesatuan kepada semua
aliran-aliran dan sistem-sistem walaupun berbeda-beda satu sama lain.
Perkembangan Filsafat India
Perkembangan
filsafat India terbagi menjadi lima zaman berikut ini:
a. Zaman Weda (1500-600 SM). Zaman ini diisi
oleh perdaban bangsa Arya. Pada saat itu baru muncul benih pemikiran filsafat
yang berupa mantera-mantera, pujian keagamaan yang terdapat dalam sastra
Brahmana dan Upanishad.
b. Zaman Wiracarita (600-200 SM). Zaman ini
diisi oleh perkembangan sistem pemikiran filsafat yang berupa Upanishad. Ide pemikiran filsafat
tersebut muncul berupa tulisan-tulisan tentang kepahlawanan dan tentang
hubungan antara manusia dengan dewa.
c. Zaman Sastra Sutra (200 SM-1400 M). Zaman
ini diisi oleh semakin banyaknya bahan-bahan pemikiran filsafat (sutra)
ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, dan
lainnya.
d. Zaman kemunduran (1400-1800 M). Zaman ini
diisi oleh pemikiran filsafat yang mandul karena para ahli pikir hanya
menirukan pemikiran filsafat yang lampau. Timbulnya keadaan ini disebabkan oleh
pertemuan antara kebudayaan Barat dengan pemikiran India sehingga menimbulkan
reaksi hebat dari pemikir India.
e.
Zaman Pembaharuan (1800-1950 M). Zaman ini
diisi oleh kebangkitan pemikiran filsafat India. Pelopornya adalah Ram Mohan
Ray, seorang pembaru yang mendapatkan pendidikan di Barat.
a. Zaman Weda (1500- 600 SM)
Dikatakan zaman Weda karena sumber benih
pemikiran filsafat berasal dari kitab-kitab Weda
(Rig Weda, Sama Weda, Yazur Weda,
dan Athawar Weda). Benih pemikiran
filsafat tersebut dalam mantera “di atas air samudera mengapung telor dunia,
kemudian pecah menjadi wismakarman sebagai anak pertama alam semesta.” “Dunia
tersusun menjadi tiga bagian, yaitu surga, bumi, dan langit, di mana ketiga
bagian tersebut mempunyai dewa-dewa sendiri-sendiri.” “Jiwa manusia tidak dapat
mati.” “Mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang soleh dan hidup baik.”
Orang-orang Arya meyembah pada dewa-dewa
seperti matahari, bulan, bintang dan lainnya. Dewa secara harfiah berat terang,
karena itu pengertian dewa adalah benda yang terang yang dianggap sebagai
kekuatan alam yang mempunyai person. Dewa Indra dianggap sebagai dewa nasional, karena Dewa
Indra berarti dbangsa Dasyu. Dewa lain yang dianggap penting adalah Dewa Waruna,
yaitu dewa yang menguasai alam semesta, yang sekaligus sebagai dewa moral dan
dewa segala dewa.
Dalam
sastra Brahman disebutkan bahwa ketika bangsa Arya telah menetap di lembah
Gangga, benih pemikiran filsafat berupa ”korban”. Korban ini dianggap penting dalam kehidupan manusia, yang dipersembahkan
kepada imam. Misalnya, korban diadakan agar matahari tetap bersinar sehingga
dengan adanya korban ini kehidupam masyarakat bersifat ritualitas.
Pada tahun 700 SM benih pemikran filsafat
pembahasannya lebih mendalam lagi, bersumber pada sastra Upanishad. Keadaan yang demikian ini muncul tatkala kaum Ksatria
memberontak kepada kaum Brahman. Pembeontakan ini karena ajaran Upanishad banyak yang diselewengkan.
Kedalaman pemikiran filsafat terbukti dari anggapan dahulu (zaman Brahman),
Dewa Brahman hanya dianggap sebagai asas pertama alam semesta. Namun, sekarang (zaman Upanishad) Dewa Brahman
dianggap sebagai dewa yang transenden dan immanen. Juga, Dewa Brahman dianggap
berada dalam alam semesta dan diri manusia, yang terjelma berupa unsur api.
b.
Zaman Wiracarita (600 SM-200 M)
Sebagai
latar belakang zaman ini adanya krisis politik, kemerosotan moral atau
kepercayaan terhadap para dewa, akibat dari kaum penjajah (pendatang). Kemudian
banyak orang mencari ketengan, dan muncullah para ahli pikir untuk menuangkan
pemikirannya, sehingga terjadilah pertenatangan antarpemikiran. Timbullah
aliran yang bertuhan (Baghawadigta),
aliran yang tidak bertuhan (Jainisme
dan Buddhisme), juga aliran yang
spekulatif (Saddarcana).
Jainisme
timbul sebagai reaksi zaman Brahman. Pelopornya adalah Wadhamana (abad ke-6
SM). Sementara itu, Buddhisme (yang dicerahi) merupakan sebutan untuk tokoh
rohani yang menjelma pada seseorang. Jelmaan terakhir Buddhisme adalah
Sidharta, yang lahir tahun 567 SM di Kapilawastu.
Baghawadigta
adalah sebuah kitab yang ditulis pada abad ke-3 SM, pusat penyebarannya di
Gangga Barat. Isi kitabnya adalah uraian ajaran Kresna pada Arjuna tentang bhakti (penyerahan diri).
c.
Zaman Sastra Sutra (200 SM - sekarang)
Zaman
ini juga disebut zaman Skolastik. Kitab yang muncul pertama kali adalah kitab
Wedangga yang uraiannya berbentuk prosa, disusun secara singkat agar mudah
dihafal atau diamalkan. Juga timbul sutra-sutra yang bertentangan dengan Weda,
dan sutra tersebut dijadikan sumber pemikiran filsafat.
Sistem
Filsafat India, terbagi menjadi enam sistem berikut.
- Nyala, yaitu membicarakan bagian umum dan metode yang dipakai dalam penyelidikan, yaitu metode kritis. Sistem ini juga digunakan untuk mencari hal yang benar dari ayat-ayat Weda, penulisnya Gautama (abad ke-4 SM).
- Waisesika, yaitu kitab yang bersumber pada Waisesika Sutra. Sistem pemikirannya bersifat metafisik. Ajaran pokoknya membicarakan tentang dharma yaitu uraian tentang kesejahteraan dunia dan memberikan pelepasan. Ajaran yang pokok lainnya adalah padharta, yaitu membicarakan kategori yang ada:substamsi, kualitas, aktivitas, sifat umum, sifat perseorangan, pelekatan, dan ketidakadaan. Penulisanya adalah Khanada.
- Sakha, artinya pemantula. Aliran ini mengemukakan bahwa untuk merealisasikan kenyataan akhir filsafat diperlukan pengetahuan. Pokok ajarannya, terdapat dua zat asasi yang bersama-sama membentuk realitas dunia, yaitu roh dan benda (purusa dan prakerti). Pendirinya adalah Sakha Kapila (abad ke-5 SM).
- Yoga, yaitu cara untuk mengawasi pikiran, agar kesadaran yang biasa menjadi luar biasa. Pendirinya Patanjali.
- Purna Wimansa, yaitu sistem inilah yang benar-benar mendasarkan pada kitab Weda. Sistem ini dimaksudkan untuk penyelidikan sistematis pada bagian pertama Weda. Pokok ajarannya, menegakkan wibawa kitab Weda dan menujukkan bahwa kitab Weda berisi upacara ritual.
- Wedanta yaitu sistem yang membicarakan bagian kitab Weda (yang terakhir). Kitab ini merupakan suatu kesimpulan kitab Weda. Sistem Wedanta ini bersamaan dengan zaman sutra (zaman Skolastik) yang ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh Sankara, Ramanuja, Madhwa. Mereka ini telah berhasil menyusun kembali ajaran kuno yang dapat memberikan peluang dalam perkembangan filsafat India.
Filsafat India pada Akhir Abad ke-20
Mulai
abad ke-7 sampai abad ke-14, karena jasa Sankara, ajaran Wedanta mendominasi
pemikiran pemikiran filsafat India. Akan
tetapi, setelah abad ke-14 pemikiran filsafat mengalami kemunduran hingga abad
ke-18. Kemunduran ini sebenarnya telah muncul mulai abad ke-12 saat kedatangan
agama Islam di India. Tokohnya Kabir (1440-1518), yang berupaya untuk
menyingkirkan unsur-unsur yang melemahkan perjuangan Islam dan mencoba membuat
suatu sintesis antara Islam dengan Hindu. Kemudia, diteruskan oleh anaknya Nanak
(1469-....) yang mempunyai sifat lebih ekstrem.
Setelah abad ke-19, pemikiran
filsafat India bangkit berkat sentuhan kebudayaan Barat. Pelopornya adalah Ram
Mohan Ray (1777-1833). Ia seorang Hindu yang memperoleh pendidikan Barat.
Gerakannya disebut Brahma Samj, yang mempunyai sikap keras terhadap Kristen.
Penggantinya Rabindranath Tagore (1861-1941), seorang pujangga, ahli filsafat,
dan pendidik India, kemudian disusul Kesab Chandra Sen (1838-1884), akhirnya
Brahman Samaj pecah karena Kristen.
Tahun 1875 muncul gerakan pembaru
pemikiran filsafat India, yaitu Arya Samaj sebagai pendirinya Awami D.
Saraswati (1824-1884). Gerakan ini bertujuan untuk mengadakan pembaruan
terhadap agama Hindu dan mencari sintesis yang kuno dengan yang baru, antara
Barat dan Timur. Seorang pembaharu yang lain adalah Sri Ramkresna (1834-1886),
ia adalah seorang imam kuil di Calcuta. Ajarannya berpangkal pada
bermacam-macam kepercayaan yang ada, yang sebenarnya menuju pada satu tujuan
perealisasian Tuhan.
Seseorang pembaru lain
adalah Mahatma Gandhi (1869-1948). Ajarannya,
untuk mencari kemenangan harus dengan Satyagraha (kekuatan kebenaran). Artinya,
orang harus memegang teguh kebenaran walaupun pada saat-saat membahayakan.
Kejahatan harus dilawan dengan kebaikan. Ajarannya itu diberikan karena ia
terjun di dunia politik. Terdapat dua orang pembaru, yaitu Sri Aurobindo
(1872-1950), dan Sri Rama Maharsi.
Filsafat Tiongkok (Buddha)
Sifat-sifat Filsafat Tiongkok
Yang menjadi pusat
perhatian dalam filsafat Tionghoa (Chu tzu, atau: Hsuan-Huseh, atau:tao-hseh)
yaitu kelakuan manusia, sikapnya terhadap dunia yang mengelilinginya dan sesama
manusianya.
Filsafat Barat
menanyakan hubungan sebab-akibat, mencari mengapa dan bagaimana obyek yang
diselidiki secara obyektif. Berlainan dengan filsafat Tionghoa: bagi
filsuf-filsuf Tionghoa manusia dan dunia merupakan satu kesatuan, satu
”kosmos”, kesatuan yang mana tidak boleh diganggu oleh perbuatan-perbuatan
manusia yang tidak selayaknya. Hanya jika tata dan kesatuan yang ada itu tetap
terpelihara, semua akan selamat. Maka yang ditinjau oleh filsuf-filsuf Tionghoa
ialah: bagaimanakah sikap orang terhadap dunia, terhadap sesama manusia dan
terhadap ”Surga” agar manusia tetap dalam hubungan yang harmonis dalam dunia,
manusia dan ”Surga”. Itulah yang mereka lebih titik beratkan
”What man is (= his moral qualities) daripada ”What he has (= his intellectual
capacities). Pengetahuan tidaklah dikejar ”asal mengetahui saja” melainkan
untuk diterapkan pada kelakuan manusia. Cita-cita mereka tidak lain menjadi
”the inner Sage” artinya orang yang telah membentuk kebajikan dalam dirinya
sendiri yang ”bijaksana” betul-betul maka yang dititik beratkan ialah:
1)
Etika,
bukanlah Logika atau Metafisika.
2)
Sistem-sistem
filasafat dalam arti normal hampir-hampir tidak ada, akan tetapi ini tidak
berarti bahwa de facto tidak ada sistem-sistem dalam arti ”organic unity of
ideas” (seperti halnya pada Socrates dan juga Plato).
3) Walaupun
terlihat dalam filsafat Tionghoa hampir tidak ada kemajuan dan perkembangan
akan tetapi para ”penafsir” juga mengemukakan buah-buah pikirannya sendiri,
yang sejak dahulu masih terkandung dalam sistem-sistem lama berupa ”benih”,
lama kelamaan menjadi lebih terlihat.
Latar Belakang Filsafat Tiongkok
Banyak aspek yang
melatarbelakangi pemikiran filsafat Tiongkok, seperti aspek-aspek geografis,
ekonomi, sikap terhadap alam, sistem kekerabatan dan lainnya. Tiongkok adalah
suatu negeri daratan (continental) yang
luas sekali, tidak pernah melihat lautan. Berbeda dengan Yunani yang merupakan
negeri maritim, rakyatnya mengandalkan pertanian. Sebagai negeri agraris yang
selalu mengandalkan potensi atau hasil tanahnya. Hal ini dibuktikan bahwa
keunggulan kerajaan Tiongkok kuno ditentukan oleh keahlian bertani dan
berperang, seperti kerajaan Chin pada abad ke-4 SM, yang untuk pertama kalinya
dapat mempersatukan daratan Tiongkok.
Dalam tradisi
Tiongkok, jenis pekerjaan yang mendapat tempat terhormat adalah menuntut ilmu
(belajar) dan mengolah tanah (bertani). Jenis pekerjaan ini akan mempengaruhi
sikap mereka terhadap alam dan pandangan hidupnya. Para petani mempunyai sifat
khusus ”kesederhaan”, dan mereka selalu menerima dan mematuhi perintah. Mereka
pun tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Sifat-sifat yang demikian inilah
yang menjelma dalam sikap hidupnya.
Akar atau sumber alam
pikiran rakyat Tiongkok adalah Taoisme dan Confucianisme. Taoisme adalah
pandangan hidup yang menitikberatkan pada hal-hal yang sifatnya naturalistik
yang berada dalam diri manusia. Sementara itu, Confucianisme adalah suatu
pandangan hidup yang menitikberatkan pada organisasi sosial dan menekankan
kepada tanggung jawab manusia terhadap masyarakat.
Dalam bidang
kesenian, rakyat menganggap bahwa kesenian merupakan alat untuk pendidikan
moral. Terbukti adanya lukisan-lukisan Tiongkok yang tergolong kelas utama,
selalu menggambarkan pemandangan-pemandangan dan bunga-bungaan, pohon-pohonan,
atau orang yang sedang duduk di pinggir sungai atau gunung.
Keadaan rakyat
Tiongkok yang agraris ini berpengaruh pada metode filsafatnya. Terdapat dua
macam konesp, yaitu metode yang dicapai lewat intuisi dan lewat hipoteiss.
Bahasa yang digunakan dalam pemikiran filsafat adalah sugestif, artinya isi
pemikirannya tidak tegas, hanya mengandung saran-saran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar