1.
Kedudukan
Landasan-landasan pemikiran filsafat
Landasan
ontologis, landasan epistemologis, landasan aksiologis adalah
landasan-landasan pemikiran filsafat. Dari ulasan Watloly kita mendapat kesan
bahwa tiga landasan ini adalah titik gerak semua kegiatan kefilsafatan di dalam
ilmu. Sebab ilmu sangat terkait dengan hal berada atau keberadaannya [on
ontos], dalam arti ilmu itu bukan sebuah hasil hayalan, sebaliknya sesuatu yang
muncul dari suatu ada secara eksistensial. Karena itu filsafat akan selalu
terkait dengan adanya pandangan atau ide atau gagasan kritis, suatu peta
kognitif yang menentukan sistem pemikiran kefilsafatan itu [episteme], dan ilmu
itu akan selalu tampil di pentas nilai-nilai kemanusiaan, terkait dengan dasar,
sumber, norma dan pangkalan pengetahuan itu sendiri.
Memahami –secara kefilsafatan- ketiga landasan ini dalam ilmu berarti menempatkan keberadaan ilmu itu di dalam realitas yang tampil di hadapan manusia. Realitas itu adalah suatu keberadaan yang faktual, dan karena itu landasan kefilsafatan tadi memberi ruang bagi penerapan metode-metode keilmuan [termasuk metode kuantitatif dan kualitatif] dalam rangka memahami hal beradanya sesuatu sebagai realitas keilmuan itu.
Artinya, landasan filsafat membuka wawasan kita untuk membangun argumen-argumen logika yang koherensif, dalam arti mengembangkan kesadaran aktual untuk mengakui bahwa obyek material dan obyek formal dalam ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bersumber dari “suatu ada”. Dengan demikian “suatu ada” itu memberi jalan masuk pada kegiatan metodik [analisis dan hermeneutika]. Kegiatan metodik itu merupakan jalan kefilsafatan untuk memahami realitas keilmuan itu secara aktual [ontologi], atau memahami keberadaan pengetahuan [epistemologi]. Dari situ, baru kita akan memahami kegunaan dan tanggungjawab ilmu di dalam setiap ranah hidup manusia [aksiologi].
Apa yang dikatakan Heideger tentang being atau da sein [keberadaan di sini/aktual] sebenarnya adalah suatu jawaban filsafat tentang dimensi ontologi itu sendiri, sebab bagi Heideger being human atau kata human itu sendiri berakar pada sesuatu yang lebih tinggi dan berakar pada kata human being. Dengan demikian, Heideger membantu kita untuk memahami bahwa ontologi berusaha mencari secara reflektif tentang yang ada. Argumentasi Heideger itu memperlihatkan bahwa karena itu epistemologi memberi implikasi ke dalam filsafat berupa standar rasional tentang hal yang ada sebagai yang diyakini. Itu berarti epistemologi memberi ruang bagi munculnya metodologi keilmuan seperti yang kita kenal dewasa ini. Para penganut teori fenomenologi lalu melengkapi pengertian landasan aksiologi dengan memberi pembobotan pada aspek etika atau pengalaman nilai dari ilmu itu. Dan di sini empirik akan selalu terkait dengan rasionalitas inderawi, serta sense of ethic dari ilmu itu.
Apa yang kita persoalkan dewasa ini tentang ranah kefilsafatan, tidak akan bisa dipahami lepas dari landasan kefilsafatan tadi, termasuk ketika kita berbicara mengenai teologi, maka seluruh paham keilmuan teologi itu harus dilihat dalam kerangka landasan keilmuan dan kefilsafatan tadi. Di situlah mengapa filsafat dikatakan sebagai ibu ilmu, yang “memberi gizi dan nutrisi” kepada ilmu pengetahuan.
2. Hakikat sumber-sumber pemikiran Filsafat
Saya mengacu
dari apa yang dimaksudkan Watloly mengenai sumber-sumber pengetahuan indrawi
dan sumber pengetahuan intelektif. Walau
demikian, W. Lawrence Neuman membantu kita juga untuk melihat sumber-sumber
pemikiran keilmuan sebagai yang terbagi atas authority, tradition, common
sense, media myth, dan personal experience.
Menurut Neuman, sumber pengetahuan yang diterima dari authority artinya kita menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu dipublikasikan oleh kekuasaan, dan kita menggunakan kekuasaan sebagai dasar pengetahuan kita. Kebenaran dari sini memiliki kelemahan, yaitu orang overestimate terhadap orang lain atau terhadap kebenaran lain.
Sedangkan kebenaran yang bersumber dari tradisi adalah suatu pengetahuan yang diterima sebagai yang benar hanya karena “hal itu adalah sesuatu yang sudah terjadi sebelumnya” atau “telah ada suatu cara yang dipakai sebelumnya”. Orang kadang menerima suatu pengetahuan di sini tanpa proses belajar, karena alam kebudayaannya membentuk orang itu untuk berlaku seperti itu. Di sini, bisa terbentuk suatu struktur kepercayaan yang diterima sebagai realitas given.
Kebenaran dari common sense karena kebenaran itu sudah merupakan apa yang dipahami secara umum, dan adalah sesuatu yang “just make sense” [hanya untuk membentuk opini]. Misalnya sekarang terjadi kekerasan terhadap TKW di Malaysia, lalu karena “just make sense” maka orang akan membenarkan bahwa fakta pengambilalihan lagu “Rasa Sayang e” dan “Reog Ponorogo” membuktikan bahwa Malaysia sangat tidak menghargai Indonesia, atau Nasionalisme Indonesia tidak dihargai oleh Malaysia. Dari situ dapat menimbulkan pertentangan dalam arti tertentu, apakah secara idea atau pun fisik, serta kebiasaan “memaki” dan bahkan “mengutuk” [curse].
Kebenaran dari mitos media juga adalah kebenaran yang diterima oleh karena media mempublikasikan sesuatu, termasuk publikasi kasus kekerasan, dll. Orang suka sekali menerima tawaran dan opini yang dibentuk media tanpa menyeleksi kebenaran itu secara aktual. Dewasa ini banyak orang menjadi “korban iklan”, sebagian besar karena mereka menyerap informasi media tanpa pertimbangan rasional atau keilmuan. Demikian pun remaja yang memperkosa anak di bawah umur, ketika ditanya akan menjawab bahwa tindakannya sebagai akibat dari menonton VCD Porno. Lucunya ialah, Polisi dan masyarakat umum, oleh media, juga percaya bahwa ada korelasi antara menonton VCD Porno dengan tindak perkosaan terhadap anak di bawah umur oleh para remaja. Pada saat Polisi dan masyarakat percaya akan hal itu, terjadilah kasus pemerkosaan berikutnya, tetapi kali ini dilakukan oleh orang tua [bapak] terhadap anaknya, atau kakek terhadap cucunya. Itu berarti kebenaran karena mitos media akan selalu bertentangan dengan fakta baru yang muncul kemudian.
Kebenaran karena pengalaman pribadi akan membawa dampak pada generalisasi. Ini suatu pemutlakan yang berat sebelah. Sebab pengalaman seseorang secara pribadi selalu membuat orang itu memiliki kecenderungan sikap tertentu atau memiliki hipotesa tertentu terhadap realitas yang sama dialami orang lain. Di sini, rasa trauma pada seseorang oleh sebab pengalamannya, bisa membuat orang itu curiga [prejudice] terhadap orang lain. Itu berarti terbentuk struktur generalisasi yang tidak berdasar.
Dari situ, dan dikaitkan dengan apa yang dimaksudkan dengan pengetahuan indrawi dan intelektif-nya Watloly, maka kita dituntun masuk ke dalam suatu pekerjaan yang penting. Semua sumber kebenaran itu dapat membangun asumsi dan hipotesa tertentu, yang kemudian melahirkan rasa ingin tahu, melalui kerja logika, dan rasa ingin tahu itu harus melahirkan kegiatan metodik [research] untuk memahami kebenaran itu secara fundamental dan komprehensif.
Kegelisahan kefilsafatan akan membuat manusia memfungsikan rasionya ketika dia berhadapan dengan suatu sumber pemikiran keilmuan tertentu. Memfungsikan rasio berarti menanggapi fenomena-fenomena yang ada secara keilmuan, dan melakukan proses penalaran [intelektif] terhadap argumen-argumen dasar kebenaran yang ada.
3. Ilmu sebagai “cara berada manusia” (science as the way
to be human)
Di sinilah
letak pentingnya memahami manusia secara eksistensial. Ulasan panjang lebar
tentang hal itu dapat dibaca dalam karya-karya filsafat Watloly. Sejauh maksud
saya untuk tidak mengulangi bahasan Watloly, saya hanya ingin membangun suatu
refleksi kefilsafatan yang diharapkan merupakan suatu proses belajar
mengembangkan pemikiran kritis, sebagai suatu cara mengadaptasi diri dengan
kefilsafatannya Watloly, dan filusuf kemanusiaan lainnya.
Meminjam istilah “keberadaan aktual” atau “keberadaan eksistensial” yang gemar digunakan Watloly, maka membahas “cara berada manusia” tidak bisa dilepaskan dari kesejatian manusia –dalam filsafat- sebagai homo sapiens, atau juga homo faber, homo religius, homo politicon, dll.
Artinya manusia itu menggerakkan rasio dan pemikirannya untuk menyusun sejumlah penjelasan [clarification] mengenai dirinya [filsafat eksistensial] serta berbagai bentuk relasinya dengan lingkungan sekitar [termasuk ekologi], atau juga dalam relasi bermasyarakat [fokus sosiologi], serta perkembangan struktur ego [psikologi] dan kepercayaannya [teologi].
Semua itu diproduksi manusia bukan sekedar untuk survive atau sekedar berada di dalam dunia, melainkan untuk struggle atau berjuang di dalam dunia dengan segala kompleksitasnya. Struggle itu yang membuat manusia menjadi makhluk yang aktual, sebab ia menggerakkan seluruh tenaganya [fisik, psikhis dan intelektif] untuk memproduksi seperangkat cara dan metode untuk berkreasi di dalam dunia.
Meminjam istilah “keberadaan aktual” atau “keberadaan eksistensial” yang gemar digunakan Watloly, maka membahas “cara berada manusia” tidak bisa dilepaskan dari kesejatian manusia –dalam filsafat- sebagai homo sapiens, atau juga homo faber, homo religius, homo politicon, dll.
Artinya manusia itu menggerakkan rasio dan pemikirannya untuk menyusun sejumlah penjelasan [clarification] mengenai dirinya [filsafat eksistensial] serta berbagai bentuk relasinya dengan lingkungan sekitar [termasuk ekologi], atau juga dalam relasi bermasyarakat [fokus sosiologi], serta perkembangan struktur ego [psikologi] dan kepercayaannya [teologi].
Semua itu diproduksi manusia bukan sekedar untuk survive atau sekedar berada di dalam dunia, melainkan untuk struggle atau berjuang di dalam dunia dengan segala kompleksitasnya. Struggle itu yang membuat manusia menjadi makhluk yang aktual, sebab ia menggerakkan seluruh tenaganya [fisik, psikhis dan intelektif] untuk memproduksi seperangkat cara dan metode untuk berkreasi di dalam dunia.
Manusia harus mampu menciptakan sejumlah karya dan mekanisme untuk menegaskan eksistensinya sebagai makhluk yang berakal budhi, dan makhluk yang berperadaban. Di sinilah maka ilmu selalu menjadi kekuatan dan tenaga beradanya manusia secara aktual, sebab ilmu itu membuat manusia mampu menyerap berbagai hal, dengan rasionya, dan mampu mencari keseimbangan [equalibrium] dengan lingkungannya. Pada saat itulah, ilmu dalam spesifikasi apa pun, mengemban tanggungjawab etika yang manusiawi. Manusia oleh ilmu itu menjadi makhluk yang komprehensif dan holistik.
Sumber
Approaches,
Boston, London: Allyn & Bacon, fourth edition, 2000
Suriasumantri,
Jujun S., Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu,
Jakarta: diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia dan Leknas – LIPI, Gramedia,
1982
-----------------,
Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1988
Veeger,
K.J., Piramida Kurban Manusia, Jakarta: Yayasan Obor, 1990
Watloly, A.,
Tangungjawab Pengetahuan, Yogyakarta: Kanisius, 2001
--------------.,
Buku Ajar Filsafat Ilmu, Ambon: Program Pascasarjana (S2) Sosiologi –
Universitas Pattimura, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar