1. Manusia bertanya
Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum
atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh
panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi
itu banyak yang berpaling kepada agama:
“Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap
rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu,
sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa
makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan
apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa
itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu
misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita,
darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?” -- Zaman
Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap
Agama-agama bukan Kristen, 1965.
Salah satu hasil renungan mengenai hal itu, yang berangkat
dari sikap iman yang penuh taqwa kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:
“Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya nama-Mu diseluruh bumi!
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu berbicara
bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang
yang Kautempatkan;
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? -- Namun
Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya
dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segalanya
telah Kauletakkan dibawah kakinya:
kambing domba dan lembu sapi sekalian,
juga binatang-binatang di padang;
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,
dan apa yang melintasi arus lautan.
Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh bumi!”
2. Manusia berfilsafat
Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh
taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk
mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas)
itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang
disebut pengetahuan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri
metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat
dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun
metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang
tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang
khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu
tentang seluruh kenyataan (realitas).
Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren
tentang seluruh kenyataan(realitas). Filsafat merupakan refleksi
rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk
mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (=
kebijaksanaan).
Al-Kindi (801 - 873 M) : "Kegiatan manusia yang
bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai
hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia ... Bagian
filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran
pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran".
Unsur "rasional" (penggunaan akal budi) dalam
kegiatan ini merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan
mengungkapkan "secara mendasar" pengembaraan manusia di dunianya
menuju akhirat. Disebut "secara mendasar" karena upaya itu
dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau
sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang
dipelajari ("obyek material"), yaitu "manusia di dunia
dalam mengembara menuju akhirat". Itulah scientia rerum per causas
ultimas -- pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang
paling dalam.
Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah
filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan
kematian. Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena
hidup itu akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang
terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir,
maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu hadir yang
membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita
untuk menyadari nilai dari hidup". Mengingat berfilsafat adalah
berfikir tentang hidup, dan "berfikir" = "to think"
(Inggeris) = "denken" (Jerman), maka - menurut Heidegger (1889-1976
), dalam "berfikir" sebenarnya kita "berterimakasih" =
"to thank" (Inggeris) = "danken" (Jerman) kepada Sang
Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.
Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat"
bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar kata "wise"
atau "wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa
Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa
Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya".
Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi"
= Tuhan. Kata "vidya" pun dekat dengan kata
Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan
digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.
Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3
jenis abstraksi (abstrahere = menjauhkan diri dari, mengambil
dari). Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan
dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:
Aras abstraksi pertama - fisika. Kita mulai
berfikir kalau kita mengamati. Dalam berfikir, akal dan budi kita
“melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi
yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata,
ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi
dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak”
itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).
Aras abstraksi kedua - matesis. Dalam proses abstraksi
selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang
kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya
segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan
oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis”
(“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).
Aras abstraksi ketiga - teologi atau “filsafat
pertama”. Kita dapat meng-"abstrahere" dari semua materi
dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang
asas pembentukannya, dsb. Aras fisika dan aras matematika jelas
telah kita tinggalkan. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu
pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat
pertama”. Akan tetapi karena ilmu pengetahuan ini “datang
sesudah” fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.
Secara singkat, filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat
datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua
ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut
“sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang
batas-batas dari kekhususannya.
3. Manusia berteologi
Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren
tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman. Secara
sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan Allah,
Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam
semesta ini. Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui
pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi dapat juga melalui usaha sendiri,
misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu.
Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan.
Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga.
Iman adalah sikap batin. Iman seseorang terwujud
dalam sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap
lingkungan hidupnya. Jika iman yang sama (apapun makna kata
"sama" itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau sekelompok
orang, maka yang terjadi adalah proses pelembagaan. Pelembagaan itu
misalnya berupa (1) tatacara bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya
dalam doa dan ibadat, (2) tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi
penghayatan dan pengamalan iman dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan
ajaran atau isi iman untuk dikomunikasikan (disiarkan) dan
dilestarikan. Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena
itu agama adalah wujud sosial dari iman.
Catatan.
(1) Proses yang disebut pelembagaan itu adalah usaha yang
sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas kenyataan yang berupa kesadaran
akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi hidup. Dalam konteks inilah kiranya
kata akal ("'aql") dan kata ilmu ("'ilm") telah digunakan
dalam teks Al Qur'an. Kedekatan kata 'ilm dengan kata sifat 'alim kata
ulama kiranya juga dapat dimengerti. Periksalah pula buku Yusuf
Qardhawi, "Al-Qur'an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan",
Gema Insani Press, 1998. Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa
kata "ilmu" itu dalam pengertian umum dewasa ini meski serupa namun
tetap tak sama dengan makna kata "ilmu" dalam teks dan konteks
Al-Qur'an itu.
(2) Proses terbentuknya agama sebagaimana diungkapkan
disini pantas disebut sebagai pendekatan "dari bawah". Inisiatif
seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di
dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan
menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan "dari
atas" nyata pada agama-agama samawi: Allah mengambil inisiatif
mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adalah
tanggapan manusia atas "sapaan" Allah itu.
Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan
manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara lebih
baik, dan ingin mempertanggungjawabkannya: "aku tahu kepada
siapa aku percaya" (2Tim 1:12). Teologi bukan agama dan tidak
sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur "intellectus quaerens
fidem" (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi sumbangan
substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq, yang pada
gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini.
4. Obyek material dan obyek formal
Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek
formal. Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas
sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala "manusia di dunia yang
mengembara menuju akhirat". Dalam gejala ini jelas ada tiga hal
menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada filsafat
tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat
tentang akhirat (teologi - filsafat ketuhanan; kata "akhirat" dalam
konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata
Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan
terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah
tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Juga pembicaraan filsafat
tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas
obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan
bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan
itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem
filsafat.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam
dunianya. Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu
yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses
itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman)
menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat
diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. "Segala
manusia ingin mengetahui", itu kalimat pertama Aristoteles
dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala "manusia
tahu". Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu
berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali "kebenaran"
(versus "kepalsuan"), "kepastian" (versus "ketidakpastian"),
"obyektivitas" (versus "subyektivitas"), "abstraksi",
"intuisi", dari mana asal pengetahuan dan kemana arah
pengetahuan. Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan
menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan
menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu
pengetahuan. Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala
pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan itu terletak dalam cara
kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
5. Cabang-cabang filsafat
5.1. Sekalipun bertanya tentang seluruh
realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu:
tentang manusia, tentang alam, tentang akhirat, tentang kebudayaan, kesenian,
bahasa, hukum, agama, sejarah, ... Semua selalu dikembalikan ke
empat bidang induk:
1. filsafat tentang pengetahuan:
obyek material : pengetahuan
("episteme") dan kebenaran
epistemologi;
logika;
kritik
ilmu-ilmu;
2. filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:
obyek material : eksistensi
(keberadaan) dan esensi (hakekat)
metafisika
umum (ontologi);
metafisika
khusus:
antropologi
(tentang manusia);
kosmologi
(tentang alam semesta);
teodise
(tentang tuhan);
3. filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah
tindakan:
obyek material : kebaikan dan
keindahan
etika;
estetika;
4. sejarah filsafat.
5.2. Beberapa penjelasan diberikan disini khusus
mengenai filsafat tentang pengetahuan. Dipertanyakan: Apa itu
pengetahuan? Dari mana asalnya? Apa ada kepastian dalam
pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka?
Pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan,
batas-batas pengetahuan, asal dan jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam
epistemologi. Logika ("logikos") "berhubungan dengan
pengetahuan", "berhubungan dengan bahasa". Disini
bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan dan
dinyatakan. Maka logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan
cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati supaya
pernyataan-pernyataan sah adanya.
Ada banyak ilmu, ada pohon ilmu-ilmu, yaitu tentang
bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu lain. Disebut pohon
karena dimengerti pastilah ada ibu (akar) dari semua ilmu. Kritik ilmu-ilmu
mempertanyakan teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam
ilmu-ilmu, dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan.
5.3. Menurut cara pendekatannya, dalam filsafat
dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi,
nihilisme, materialisme, ... dan sebaginya.
5.4. Pastilah ada
filsafat tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis,
rasional) tentang gejala agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman
religius manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Kudus (Numen): adanya
kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi
sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia. Yang
Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum; kepadaNya
manusia hanya beriman, yang dapat diamati (oleh seorang pengamat) dalam
perilaku hidup yang penuh dengan sikap "takut-dan-taqwa", wedi-lan-asih
ing Panjenengane.
Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada
adalah filsafat dalam agama X, yaitu pemikiran menuju
pembentukan infrastruktur rasional bagi ajaran agama X. Hubungan
antara filsafat dengan agama X dapat diibaratkan sebagai hubungan antara jemaah
haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji ke Tanah Suci, dan bukan
hubungan antara jemaah haji dengan iman yang ada dalam hati jemaah itu.
Catatan lain.
1. Iman dapat digambarkan mirip dengan gunung es di lautan.
Yang tampak hanya sekitar sepersepuluh saja dari
keseluruhannya. Karena iman adalah suasana hati, maka berlakulah
peribahasa: "dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang
tahu". Tahukah saudara akan kadar keimanan saya?
2. Sekaligus juga patut ditanyakan "dimanakah letak
hati yang dimaksudkan disini? Pastilah "hati" itu
(misalnya dalam kata "sakit hati" jika seorang pemudi dibuat
kecewa oleh sang pemuda yang menjadi pacarnya) bukan organ hati (dan
kata "sakit hati" karena liver anda membengkak) yang diurus oleh para
dokter di rumah sakit. Periksa pula apa yang tersirat dalam kata
"batin", "kalbu", "berhati-hatilah",
"jantung hati", "jatuh hati", "hati nurani", dan
"suara hati".
3. Menurut Paul A Samuelson tirani
kata merupakan gejala umum dalam masyarakat. Sering ada banyak
kata dipakai untuk menyampaikan makna yang sama dan ada pula banyak makna
terkait dalam satu kata. Manusia ditantang untuk berfikir dan
berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah ("clearly and distinctly"),
sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan menegakkan kebenaran.
Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan seseorang dalam
menghadapi persoalan (termasuk persoalan-persoalan dalam hidupnya) erat
hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan
terpilah-pilah tersebut.
6. Refleksi rasional dan refleksi imani
Ketika bangsa Yunani mulai membuat refleksi atas
persoalan-persoalan yang sekarang menjadi obyek material dalam filsafat dan
bahkan ketika hasil-hasil refleksi itu dibukukan dalam naskah-naskah yang
sekarang menjadi klasik, bangsa Israel telah memiliki sejumlah naskah (yang
sekarang dikenal sebagai bagian dari Alkitab yang disebut Perjanjian Lama).
Naskah-naskah itu pada hakekatnya merupakan hasil refleksi juga, oleh para bapa
bangsa itu tentang nasib dan keberuntungan bangsa Israel -- bagaimana dalam
perjalanan sejarah sebagai "bangsa terpilih", mereka
sungguh dituntun (bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh
YHWH (dibaca: Yahwe), Allah mereka. Ikatan erat dengan tradisi dan
ibadat telah menjadikan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama
Yahudi). Pada gilirannya, Kitab Suci itu pun memiliki posisi unik
dalam Agama Kristiani.
Catatan.
Bangsa Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana
dimaksudkan diatas tidak harus dimengerti sama dengan bangsa Israel yang
sekarang ada di wilayah geografis yang sekarang disebut "negara
Israel".
Kedua refleksi itu berbeda dalam banyak
hal. Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal Plato dan
Aristoteles) mengandalkan akal dan merupakan cetusan
penolakan mereka atas mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai
senantiasa dikuasai oleh para dewa dan
dewi). Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel
itu (misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama
Perjanjian Lama) merupakan ditopang oleh kalbu karena
merupakan cetusan penerimaan bangsa Israel atas peran Sang YHWH dalam
keseluruhan nasib dan sejarah bangsa itu. Refleksi imani itu sungguh
merupakan pernyataan universal pengakuan yang tulus, barangkali yang pertama
dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah
manusia.
Sekarang ada yang berpendirian, bahwa hasil refleksi
rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup
keagamaan yang monoteistis, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu
pengetahuan yang dikenal dewasa ini. Oleh karena itu sering filsafat dikatakan
mengatasi setiap ilmu.
Sementara itu, harus dicatat bahwa dalam lingkungan
kebudayaan India dan Cina berkembang pula refleksi bernuansa lain: wajah
Asia. Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam
wujud "ilmu kedokteran alternatif" tusuk jarum), dan dalam
karya-karya sastra "kaliber dunia" dari anak benua India. Karya-karya
sastra itu sering diperlakukan sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab
Suci, karena diterima sebagai kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai
suci untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Misalnya saja Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi).
Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik Mahabharata, dari posisi sekunder
(bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer (sumber segala inspirasi untuk
hidup). Pada abad 8 Masehi, Sankara (seorang guru) menginterpretasi
Gita bukan sebagai pedoman untuk aksi, tetapi sebagai pedoman
untuk "mokhsa", pembebasan dari keterikatan kepada dunia
ini. Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas
kerahiman Tuhan yang hanya bisa dihayati melalui cinta. Pada masa
perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk
ber-"dharma yuddha", perang penuh semangat menegakkan kebenaran
terhadap penjajah yang tak adil. Bagi Tilak, Arjuna adalah "a
man of action" ("karma yogin"), dan Gita mendorong seseorang
untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi "mokhsa" melalui
"perjuangan" yang ditempuhnya. Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave,
Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat komentar yang kurang lebih
sama. Tanpa interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada
waktu itu mudah dinilai sebagai bersifat politis murni (atau kriminal murni?),
yaitu tanpa landasan ideal, spiritual, teologis dan etis.
Sesungguhnya, berefleksi merupakan ciri khas manusia
sebagai pribadi dan dalam kelompok. Refleksi merupakan sarana untuk
mengembangkan spiritualitas dan aktualisasi menjadi manusia yang utuh, dewasa
dan mandiri. Melalui refleksi pula, manusia dan
kelompok-kelompok manusia (yaitu suku dan bangsa) menemukan jati
dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam sejarah),
serta melaksanakan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa depan.
Catatan.
Adakah refleksi tentang realitas yang khas
Indonesia? Suatu kajian berdasar naskah-naskah sastra Jawa masa lalu
terdapat dalam disertasi doktor P J Zoetmulter SJ: "Manunggaling Kawula
Gusti" (1935), yang telah diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan
oleh PT Gramedia.
1. Manusia bertanya
Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum
atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh
panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi
itu banyak yang berpaling kepada agama:
“Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap
rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu,
sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa
makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan
apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa
itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu
misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita,
darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?” -- Zaman
Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap
Agama-agama bukan Kristen, 1965.
Salah satu hasil renungan mengenai hal itu, yang berangkat
dari sikap iman yang penuh taqwa kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:
“Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya nama-Mu diseluruh bumi!
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu berbicara
bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang
yang Kautempatkan;
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? -- Namun
Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya
dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segalanya
telah Kauletakkan dibawah kakinya:
kambing domba dan lembu sapi sekalian,
juga binatang-binatang di padang;
burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,
dan apa yang melintasi arus lautan.
Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh bumi!”
2. Manusia berfilsafat
Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh
taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk
mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas)
itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang
disebut pengetahuan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri
metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat
dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun
metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang
tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang
khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu
tentang seluruh kenyataan (realitas).
Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren
tentang seluruh kenyataan(realitas). Filsafat merupakan refleksi
rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk
mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (=
kebijaksanaan).
Al-Kindi (801 - 873 M) : "Kegiatan manusia yang
bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai
hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia ... Bagian
filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran
pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran".
Unsur "rasional" (penggunaan akal budi) dalam
kegiatan ini merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan
mengungkapkan "secara mendasar" pengembaraan manusia di dunianya
menuju akhirat. Disebut "secara mendasar" karena upaya itu
dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau
sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang
dipelajari ("obyek material"), yaitu "manusia di dunia
dalam mengembara menuju akhirat". Itulah scientia rerum per causas
ultimas -- pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang
paling dalam.
Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah
filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan
kematian. Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena
hidup itu akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang
terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir,
maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu hadir yang
membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita
untuk menyadari nilai dari hidup". Mengingat berfilsafat adalah
berfikir tentang hidup, dan "berfikir" = "to think"
(Inggeris) = "denken" (Jerman), maka - menurut Heidegger (1889-1976
), dalam "berfikir" sebenarnya kita "berterimakasih" =
"to thank" (Inggeris) = "danken" (Jerman) kepada Sang
Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.
Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat"
bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar kata "wise"
atau "wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa
Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa
Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya".
Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi"
= Tuhan. Kata "vidya" pun dekat dengan kata
Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan
digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.
Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3
jenis abstraksi (abstrahere = menjauhkan diri dari, mengambil
dari). Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan
dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:
Aras abstraksi pertama - fisika. Kita mulai
berfikir kalau kita mengamati. Dalam berfikir, akal dan budi kita
“melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi
yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata,
ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi
dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak”
itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).
Aras abstraksi kedua - matesis. Dalam proses abstraksi
selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang
kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya
segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan
oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis”
(“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).
Aras abstraksi ketiga - teologi atau “filsafat
pertama”. Kita dapat meng-"abstrahere" dari semua materi
dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang
asas pembentukannya, dsb. Aras fisika dan aras matematika jelas
telah kita tinggalkan. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu
pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat
pertama”. Akan tetapi karena ilmu pengetahuan ini “datang
sesudah” fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.
Secara singkat, filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat
datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua
ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut
“sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang
batas-batas dari kekhususannya.
3. Manusia berteologi
Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren
tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman. Secara
sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan Allah,
Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam
semesta ini. Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui
pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi dapat juga melalui usaha sendiri,
misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu.
Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan.
Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga.
Iman adalah sikap batin. Iman seseorang terwujud
dalam sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap
lingkungan hidupnya. Jika iman yang sama (apapun makna kata
"sama" itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau sekelompok
orang, maka yang terjadi adalah proses pelembagaan. Pelembagaan itu
misalnya berupa (1) tatacara bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya
dalam doa dan ibadat, (2) tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi
penghayatan dan pengamalan iman dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan
ajaran atau isi iman untuk dikomunikasikan (disiarkan) dan
dilestarikan. Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena
itu agama adalah wujud sosial dari iman.
Catatan.
(1) Proses yang disebut pelembagaan itu adalah usaha yang
sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas kenyataan yang berupa kesadaran
akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi hidup. Dalam konteks inilah kiranya
kata akal ("'aql") dan kata ilmu ("'ilm") telah digunakan
dalam teks Al Qur'an. Kedekatan kata 'ilm dengan kata sifat 'alim kata
ulama kiranya juga dapat dimengerti. Periksalah pula buku Yusuf
Qardhawi, "Al-Qur'an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan",
Gema Insani Press, 1998. Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa
kata "ilmu" itu dalam pengertian umum dewasa ini meski serupa namun
tetap tak sama dengan makna kata "ilmu" dalam teks dan konteks
Al-Qur'an itu.
(2) Proses terbentuknya agama sebagaimana diungkapkan
disini pantas disebut sebagai pendekatan "dari bawah". Inisiatif
seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di
dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan
menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan "dari
atas" nyata pada agama-agama samawi: Allah mengambil inisiatif
mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adalah
tanggapan manusia atas "sapaan" Allah itu.
Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan
manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara lebih
baik, dan ingin mempertanggungjawabkannya: "aku tahu kepada
siapa aku percaya" (2Tim 1:12). Teologi bukan agama dan tidak
sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur "intellectus quaerens
fidem" (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi sumbangan
substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq, yang pada
gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini.
4. Obyek material dan obyek formal
Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek
formal. Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas
sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala "manusia di dunia yang
mengembara menuju akhirat". Dalam gejala ini jelas ada tiga hal
menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada filsafat
tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat
tentang akhirat (teologi - filsafat ketuhanan; kata "akhirat" dalam
konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata
Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan
terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah
tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Juga pembicaraan filsafat
tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas
obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan
bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan
itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem
filsafat.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam
dunianya. Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu
yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses
itu intuisi (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman)
menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat
diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. "Segala
manusia ingin mengetahui", itu kalimat pertama Aristoteles
dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala "manusia
tahu". Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu
berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali "kebenaran"
(versus "kepalsuan"), "kepastian" (versus "ketidakpastian"),
"obyektivitas" (versus "subyektivitas"), "abstraksi",
"intuisi", dari mana asal pengetahuan dan kemana arah
pengetahuan. Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan
menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan
menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu
pengetahuan. Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala
pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan itu terletak dalam cara
kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
5. Cabang-cabang filsafat
5.1. Sekalipun bertanya tentang seluruh
realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu:
tentang manusia, tentang alam, tentang akhirat, tentang kebudayaan, kesenian,
bahasa, hukum, agama, sejarah, ... Semua selalu dikembalikan ke
empat bidang induk:
1. filsafat tentang pengetahuan:
obyek material : pengetahuan
("episteme") dan kebenaran
epistemologi;
logika;
kritik
ilmu-ilmu;
2. filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:
obyek material : eksistensi
(keberadaan) dan esensi (hakekat)
metafisika
umum (ontologi);
metafisika
khusus:
antropologi
(tentang manusia);
kosmologi
(tentang alam semesta);
teodise
(tentang tuhan);
3. filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah
tindakan:
obyek material : kebaikan dan
keindahan
etika;
estetika;
4. sejarah filsafat.
5.2. Beberapa penjelasan diberikan disini khusus
mengenai filsafat tentang pengetahuan. Dipertanyakan: Apa itu
pengetahuan? Dari mana asalnya? Apa ada kepastian dalam
pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka?
Pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan,
batas-batas pengetahuan, asal dan jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam
epistemologi. Logika ("logikos") "berhubungan dengan
pengetahuan", "berhubungan dengan bahasa". Disini
bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan dan
dinyatakan. Maka logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan
cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati supaya
pernyataan-pernyataan sah adanya.
Ada banyak ilmu, ada pohon ilmu-ilmu, yaitu tentang
bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu lain. Disebut pohon
karena dimengerti pastilah ada ibu (akar) dari semua ilmu. Kritik ilmu-ilmu
mempertanyakan teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam
ilmu-ilmu, dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan.
5.3. Menurut cara pendekatannya, dalam filsafat
dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi,
nihilisme, materialisme, ... dan sebaginya.
5.4. Pastilah ada
filsafat tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis,
rasional) tentang gejala agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman
religius manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Kudus (Numen): adanya
kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi
sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia. Yang
Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum; kepadaNya
manusia hanya beriman, yang dapat diamati (oleh seorang pengamat) dalam
perilaku hidup yang penuh dengan sikap "takut-dan-taqwa", wedi-lan-asih
ing Panjenengane.
Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada
adalah filsafat dalam agama X, yaitu pemikiran menuju
pembentukan infrastruktur rasional bagi ajaran agama X. Hubungan
antara filsafat dengan agama X dapat diibaratkan sebagai hubungan antara jemaah
haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji ke Tanah Suci, dan bukan
hubungan antara jemaah haji dengan iman yang ada dalam hati jemaah itu.
Catatan lain.
1. Iman dapat digambarkan mirip dengan gunung es di lautan.
Yang tampak hanya sekitar sepersepuluh saja dari
keseluruhannya. Karena iman adalah suasana hati, maka berlakulah
peribahasa: "dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang
tahu". Tahukah saudara akan kadar keimanan saya?
2. Sekaligus juga patut ditanyakan "dimanakah letak
hati yang dimaksudkan disini? Pastilah "hati" itu
(misalnya dalam kata "sakit hati" jika seorang pemudi dibuat
kecewa oleh sang pemuda yang menjadi pacarnya) bukan organ hati (dan
kata "sakit hati" karena liver anda membengkak) yang diurus oleh para
dokter di rumah sakit. Periksa pula apa yang tersirat dalam kata
"batin", "kalbu", "berhati-hatilah",
"jantung hati", "jatuh hati", "hati nurani", dan
"suara hati".
3. Menurut Paul A Samuelson tirani
kata merupakan gejala umum dalam masyarakat. Sering ada banyak
kata dipakai untuk menyampaikan makna yang sama dan ada pula banyak makna
terkait dalam satu kata. Manusia ditantang untuk berfikir dan
berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah ("clearly and distinctly"),
sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan menegakkan kebenaran.
Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan seseorang dalam
menghadapi persoalan (termasuk persoalan-persoalan dalam hidupnya) erat
hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan
terpilah-pilah tersebut.
6. Refleksi rasional dan refleksi imani
Ketika bangsa Yunani mulai membuat refleksi atas
persoalan-persoalan yang sekarang menjadi obyek material dalam filsafat dan
bahkan ketika hasil-hasil refleksi itu dibukukan dalam naskah-naskah yang
sekarang menjadi klasik, bangsa Israel telah memiliki sejumlah naskah (yang
sekarang dikenal sebagai bagian dari Alkitab yang disebut Perjanjian Lama).
Naskah-naskah itu pada hakekatnya merupakan hasil refleksi juga, oleh para bapa
bangsa itu tentang nasib dan keberuntungan bangsa Israel -- bagaimana dalam
perjalanan sejarah sebagai "bangsa terpilih", mereka
sungguh dituntun (bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh
YHWH (dibaca: Yahwe), Allah mereka. Ikatan erat dengan tradisi dan
ibadat telah menjadikan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama
Yahudi). Pada gilirannya, Kitab Suci itu pun memiliki posisi unik
dalam Agama Kristiani.
Catatan.
Bangsa Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana
dimaksudkan diatas tidak harus dimengerti sama dengan bangsa Israel yang
sekarang ada di wilayah geografis yang sekarang disebut "negara
Israel".
Kedua refleksi itu berbeda dalam banyak
hal. Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal Plato dan
Aristoteles) mengandalkan akal dan merupakan cetusan
penolakan mereka atas mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai
senantiasa dikuasai oleh para dewa dan
dewi). Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel
itu (misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama
Perjanjian Lama) merupakan ditopang oleh kalbu karena
merupakan cetusan penerimaan bangsa Israel atas peran Sang YHWH dalam
keseluruhan nasib dan sejarah bangsa itu. Refleksi imani itu sungguh
merupakan pernyataan universal pengakuan yang tulus, barangkali yang pertama
dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah
manusia.
Sekarang ada yang berpendirian, bahwa hasil refleksi
rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup
keagamaan yang monoteistis, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu
pengetahuan yang dikenal dewasa ini. Oleh karena itu sering filsafat dikatakan
mengatasi setiap ilmu.
Sementara itu, harus dicatat bahwa dalam lingkungan
kebudayaan India dan Cina berkembang pula refleksi bernuansa lain: wajah
Asia. Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam
wujud "ilmu kedokteran alternatif" tusuk jarum), dan dalam
karya-karya sastra "kaliber dunia" dari anak benua India. Karya-karya
sastra itu sering diperlakukan sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab
Suci, karena diterima sebagai kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai
suci untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Misalnya saja Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi).
Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik Mahabharata, dari posisi sekunder
(bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer (sumber segala inspirasi untuk
hidup). Pada abad 8 Masehi, Sankara (seorang guru) menginterpretasi
Gita bukan sebagai pedoman untuk aksi, tetapi sebagai pedoman
untuk "mokhsa", pembebasan dari keterikatan kepada dunia
ini. Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas
kerahiman Tuhan yang hanya bisa dihayati melalui cinta. Pada masa
perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk
ber-"dharma yuddha", perang penuh semangat menegakkan kebenaran
terhadap penjajah yang tak adil. Bagi Tilak, Arjuna adalah "a
man of action" ("karma yogin"), dan Gita mendorong seseorang
untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi "mokhsa" melalui
"perjuangan" yang ditempuhnya. Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave,
Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat komentar yang kurang lebih
sama. Tanpa interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada
waktu itu mudah dinilai sebagai bersifat politis murni (atau kriminal murni?),
yaitu tanpa landasan ideal, spiritual, teologis dan etis.
Sesungguhnya, berefleksi merupakan ciri khas manusia
sebagai pribadi dan dalam kelompok. Refleksi merupakan sarana untuk
mengembangkan spiritualitas dan aktualisasi menjadi manusia yang utuh, dewasa
dan mandiri. Melalui refleksi pula, manusia dan
kelompok-kelompok manusia (yaitu suku dan bangsa) menemukan jati
dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam sejarah),
serta melaksanakan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa depan.
Catatan.
Adakah refleksi tentang realitas yang khas
Indonesia? Suatu kajian berdasar naskah-naskah sastra Jawa masa lalu
terdapat dalam disertasi doktor P J Zoetmulter SJ: "Manunggaling Kawula
Gusti" (1935), yang telah diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan
oleh PT Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar