FILSAFAT ANTROPOLOGI
(Bag.2)
Filsafat Manusia secara umum bertujuan
menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi
manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human
studies). Adapun secara spesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi
manusia. Jadi, mempelajari filsafat manusia sejatinya adalah upaya untuk
mencari dan menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu?
Obyek kajiannya tidak terbatas pada gejala
empiris yang bersifat observasional dan atau eksperimental, tetapi menerobos
lebih jauh hingga kepada gejala apapun tentang manusia selama bisa atau
memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional.
Metodenya: (1) Sintesis, yakni
mensintesakan pengetahuan dan pengalaman kedalam satu visi yang menyeluruh
tentang manusia; (2) Refleksi, yakni mempertanyakan esensi sesuatu hal yang
tengah direnungkan sekaligus menjadikannya landasan bagi proses untuk memahami
diri sendiri (self understanding).
Cirinya: (1) Ekstensif, yakni mencakup
segala aspek dan ekspresi manusia, lepas dari kontekstualitas ruang dan waktu.
Jadi merupakan gambaran menyeluruh (universal) tidak fragmentaris tentang
realitas manusia; (2) Intensif, yakni bersifat mendasar dengan mencari inti,
esensi atau akar yang melandasi suatu kenyataan; dan (3) Kritis, atau tidak
puas pada pengetahuan yang sempit, dangkal dan simplistis tentang manusia.
Orientasi telaahnya tidak berhenti pada “kenyataan sebagaimana adanya” (das
Sein) tetapi juga berpretensi untuk mempertimbangkan “kenyataan yang seharusnya
atau yang ideal) (das Sollen).
Manfaatnya, secara: (1) Praktis, mengetahui
tentang apa atau siapa manusia dalam keutuhannya, serta mengetahui tentang apa
dan siapa diri kita ini dalam pemahaman tentang manusia tersebut; dan (2)
secara Teoritis, untuk meninjau secara kritis beragam asumsi-asumsi yang berada
di balik teori-teori dalam ilmu-ilmu tentang manusia.
Diharapkan dengan mempelajari filsafat
manusia, seseorang akan menyadari dan memahami tentang kompleksitas manusia
yang takkan pernah ada habisnya untuk senantiasa dipertanyakan tentang makna
dan hakikatnya. Sejauh “misteri” dan “ambiguitas” manusia ini disadari dan
dipahami, seseorang akan menghindari sikap sempit dan tinggi hati.
Filsafat manusia perlu dipelajari karena
manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan hak istimewa dari sampai batas
tertentu memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam. Manusia dapat
mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang
harus diperoleh dari hakikat diri manusia.
Kesulitan Bagi Suatu Filsafat Manusia
Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia. Para filsuf mangatakan dan menimbulkan berbagai pendapat. Bagi Platon dan Platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicura dan Lekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Descartes mengambarkan manusia sebagai terbetuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa.
Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia. Para filsuf mangatakan dan menimbulkan berbagai pendapat. Bagi Platon dan Platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicura dan Lekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Descartes mengambarkan manusia sebagai terbetuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa.
Apakah manusia itu, dan darimana datangnya
manusia, tempat apakah yang didudukinya dalam alam semesta yang luas, darimana
manusia datang dan untuk apakah ia ditakdirkan.
Manusia mampu mengetahui dirinya dengan
kemampuan berpikir yang ada pada dirinya. Manusia menghasilkan pertanyaan
tentang segala sesuatu. Filsafat lahir karena berbagai pertanyaan yang diajukan
oleh manusia. Ketika Manusia mulai menanyakan keberadaan dirinya, filsafat
manusia lahir dan mempertanyakan, “siapakah Kamu Manusia?” Manusia bisa
memikirkan dirinya, tapi apakah tujuan pertanyaan yang diajukannya. Keberadaan
dirinya diantara yang lain yang membuat menusia perlu mendefinisikan keberadaan
dirinya.
Apabila pernyataan bahwa manusia dapat
mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang
harus diperoleh dari hakikat diri manusia. Hakikat diri manusia tidak akan
muncul ketika tidak terdapat pembanding diluar dirinya. Sesuatu yang baik dan
buruk pada manusia menunjukkan dirinya ada dinilai diantara keberadaan yang
lain.
Pikiran itu adalah kesadaran, tidak
mengambil tempat dalam ruang. Materi adalah perluasan, mengambil tempat dalam
ruang dan tidak
mempunyai kesadaran. Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.
mempunyai kesadaran. Kedua substansi tersebut tidak mempunyai hubungan satu sama lain. Pikiran sama sekali tidak tergantung pada materi, sebaliknya proses materi juga tidak tergantung pada pikiran à dualisme.
Manusia adalah makhluk ganda yang mempunyai
pikiran dan badan perluasan. Apa yang kita pikirkan dengan akal kita tidak
terjadi di dalam badan – itu terjadi di dalam pikiran, yang sama sekali tidak
tergantung
pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara “roh” dan “materi”. Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah.
pada realitas perluasan. Namun Descartes tidak dapat menyangkal bahwa ada interaksi konstan antara pikiran dan badan. Interaksi konstan berlangsung antara “roh” dan “materi”. Pikiran dapat selalu dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan badaniah.
Namun pikiran dapat bekerja tanpa
tergantung pada badan (jika aku
merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada
badan.
merasakan sakit yang amat-sangat pada perutku, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat. Maka manusia mempunyai kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan badaniah dan bertindak secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul daripada
badan.
Individu tidak ditempatkan di hadapan
Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan. Yang harus dipersoalkan terutama
subyektivitas dari kebenaran, yaitu bagaimana kebenaran dapat menjelma dalam
kehidupan individu. Kebenaran obyektif – termasuk agama – harus mendarah daging
dalam si individu. Yang penting ialah bahwa aku memahami diriku sendiri, bahwa
kulihat dengan jelas apa yang Tuhan kehendaki sungguh-sungguh agar aku perbuat.
Yang terutama kubutuhkan ialah mendapatkan suatu kebenaran yang adalah benar
untuk aku, suatu ide yang bisa mengilhami kehidupan dan kematianku.
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/1910
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE/message/1910
Menurut tinjauan kefilsafatan manusia
adalah makhluk yang bertanya, dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang
mempertanyakan dirinya sendiri dan keberadaannya. Dalam hal ini manusia mulai
tahu keberadaannya dan menyadari bahwa dirinya adalah penanya.
Apabila ditinjau dari segi dayanya, maka
jelaslah manusia memiliki dua macam daya. Disatu pihak manusia memiliki daya
untuk mengenal dunia rohani, yang nous, suatu daya intuitip, yang kerena
kerjasama dengan akal menjadikan manusia dapat memikirkan serta membicarakan
hal-hal yang rohani. Di lain pihak manusia memiliki daya pengamatan
(aisthesis), yang karena pengamatan yang langsung yang disertai dengan daya
penggambaran atau penggagasan menjadikan manusia memiliki pengetahuan yang
berdasarkan pengamatan.
Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh, yang
keduanya dapat berdiri sendiri-sendiri. Jiwa berada dalam tubuh seperti
terkurung dalam penjara dan hanya kematian yang dapat melepaskan belenggu
tersebut.
Tujuan kefilsafatan manusia diatas menitik
beratkan pada dayanya, manusia sebagai idea, yaitu sebagai manusia yang tak
bertubuh. Telah ada kekal sejak logos, jiwa dibedakan antara jiwa sebagai
kekuatan hidup (psuke) dan jiwa sebagai kekuatan akali (nous, dianoia, psuke
logike). Jiwa sebagai kekuatan hidup berada dalam darah dan tidak dapat binasa.
Jiwa yang besifat akali ayau nous lebih tinggi tingkatannya karena merupakan
jiwa yang bersifat ilahi. Sebelum manusia dilahirkan jiwa ini sudah ada jiwa
ini tidak dapat binasa. Ia memasuki tubuh dari luar. Di dalam tubuh jiwa itu
dipenjara. Karena itu hidup di dunia ini adalah kejahatan. Kematian merupakan
wujud suatu kebebasan, dimana manusia orang dibangkitkan kepada hidup yang
sejati dan kepada kebebasan.
Menurut Fichte manusia secara prinsipil
adalah makhluk yang bersifat moral yang di dalamnya mengandung suatu usaha. Di
sinilah manusia perlu menerima dunia di luar dirinya. Sikap seperti ini dapat
menjadikan manusia menyadari dirinya sendiri dan usaha untuk membatasi dirinya
sendiri dari masyarakat luas.
Hakikat pemikiran para filsuf tentang
manusia pada umumnya mengacu kepada hakikat manusia itu sendiri. Menurut
Kierkegaard, pertama-tama yang penting bagi manusia adalah keadaannya sendiri
atau eksistensinya sendiri. Akan tetapi eksistensi manusia bukanlah suatu “ada”
melainkan suatu “menjadi”, yang mengandung di dalamnya suatu perpindahan, yaitu
perpindahan dari “kemungkinan” ke “kenyataan”. Eksistensi manusia adalah suatu
eksistensi yang dipilih dalam kebebasan.
Materialisme telah diawali sejak filsafat
Yunani yakni sejak munculnya filsuf alam Yunani, kemudian kaum Stoa dan
Epikurisme. Paham ini mulai memuncak pada abad ke-19 di Eropa. Materialisme
ekstrim memandang bahwa manusia terdiri dari materi belaka.
Seorang tokoh filsafat alam (Anaximandros)
memberikan pandangan tentang manusia. Anaximandros mengatakan tidak mungkin
manusia pertama timbul dari air dalam rupa anak bayi. Anaximandros beranggapan
bahwa manusia-manusia pertama tubuh di dalam badan seekor ikan, kemudian
bilamana manusia-manusia pertama mampu memelihara hidupnya sendiri, mereka
dilemparkan di atas daratan. Ia mendasari anggapannya atas observasi (walaupun
tidak tepat) pada seekor ikan hiu (gaelus levis) di laut Yunani.
Pandangan Lemettrie (1709-1751) sebagai
pelopor materialisme menyebutkan bahwa manusia tidak lain adalah binatang,
binatang tak berjiwa, material belaka, jadi manusia pun material belaka.
Kesimpulannya : bahan bergerak sendiri, adapun yang disebut orang sebagai
pikiran itupun merupakan sifat material, terutama kerja atau tindakan otak.
Dalam gerak-geriknya manusia itu sungguh-sungguh seperti mesin. Materialisme
ini dalam antropologia disebut materialisme ekstrim, karena aliran ini
mengingkari kerohanian dalam bentuk apapun juga, malahan mengingkari adanya
pendorong hidup.
Kebalikan dari meterialisme adalah
idealisme. Dalam pandangan ini semuanya membedakan manusia dari binatang ;
bukanlah manusia itu material belaka. Meskipun diakui juga, bahwa manusia ada
samanya juga dengan binatang jadi manusia pun mempunyai kebinatangan tetapi
dalam pada itu adalah bedanya yang mengkhususkan dia, yang sama sekali
melainkan dia dari binatang. Kelainan ini bukanlah perbedaan tingkatan saja,
melainkan mengenai jenisnya istimewa: kemanusiaannya.
Dalam idealisme terdapat beberapa corak,
yaitu : idealisme etis, idealisme estetik ; dan idealisme hegel.
Adapun paham rasionalisme dan
irrasionalisme bukanlah paham yang saling bertentangan seperti paham
materalisme dan idealisme. Pelopor rasionalisme adalah Rene Descartes yang
menyatakan bahwa manusia terdiri dari jasmaninya dengan keluasannya (extensio)
serta budidan kesadarannya. Sedangkan yang dimaksud dengan pandangan manusia
yang irrasionalistis ialah pandangan-pandangan :
a. Yang mengingkari adanya rasio;
b. Yang kurang menggunakan rasio walaupun
tidak mengingkarinya
c. Terutama pandangan yang mencoba
mendekati manusia dari lain pihak serta, kalau dapat dari keseluruhan
pribadinya.
Teranglah bahwa penggolongan filsafat
manusia dalam rasionalisme-irrasionalisme bukanlah penggolongannya yang lain sekali
dari penggolongan : idealisme-materialisme : ini hanya pandangan dari sudut
lain. Dengan demikian semua aliran materialisme harus dimasukkan kedalam aliran
irrasionalisme.
Al-Quran Al-Karim dalam kaitannya dengan
perkembangan ilmu dan filsafat manusia, dapat disimpulkan mengandung tiga hal
pokok:
Pertama, tujuan.
1. Akidah atau kepercayaan, yang mencakup
kepercayaan kepada (a) Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya; (b) Wahyu, dan
segala kaitannya dengan, antara lain, Kitab-kitab Suci, Malaikat, dan para
Nabi; serta (c) Hari Kemudian bersama dengan balasan dan ganjaran Tuhan.
2. Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan keserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk antara lain gotong-royong, amanat, kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lain.
3. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan alam sekitarnya.
2. Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan keserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk antara lain gotong-royong, amanat, kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lain.
3. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan alam sekitarnya.
Kedua, cara.
Ketiga hal tersebut diusahakan
pencapaiannya oleh Al-Quran melalui empat cara:
1. Menganjurkan manusia untuk memperhatikan
alam raya, langit, bumi, bintang-bintang, udara, darat, lautan dan sebagainya,
agar manusia –melalui perhatiannya tersebut– mendapat manfaat berganda: (a)
menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan; dan (b) memanfaatkan segala sesuatu
untuk membangun dan memakmurkan bumi di mana ia hidup.
2. Menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah untuk memetik pelajaran dari pengalaman masa lalu.
3. Membangkitkan rasa yang terpendam dalam jiwa, yang dapat mendorong manusia untuk mempertanyakan dari mana ia datang, bagaimana unsur-unsur dirinya, apa arti hidupnya dan ke mana akhir hayatnya (yang jawaban-jawabannya diberikan oleh Al-Quran).
4. Janji dan ancaman baik di dunia (yakni kepuasan batin dan kebahagiaan hidup bahkan kekuasaan bagi yang taat, dan sebaliknya bagi yang durhaka) maupun di akhirat dengan surga atau neraka.
2. Menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah untuk memetik pelajaran dari pengalaman masa lalu.
3. Membangkitkan rasa yang terpendam dalam jiwa, yang dapat mendorong manusia untuk mempertanyakan dari mana ia datang, bagaimana unsur-unsur dirinya, apa arti hidupnya dan ke mana akhir hayatnya (yang jawaban-jawabannya diberikan oleh Al-Quran).
4. Janji dan ancaman baik di dunia (yakni kepuasan batin dan kebahagiaan hidup bahkan kekuasaan bagi yang taat, dan sebaliknya bagi yang durhaka) maupun di akhirat dengan surga atau neraka.
Ketiga, pembuktian.
Untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh
Al-Quran seperti yang disebut di atas, maka di celah-celah redaksi mengenai
butir-butir tersebut, ditemukan mukjizat Al-Quran seperti yang pada garis
besarnya dapat terlihat dalam tiga hal pokok:
1. Susunan redaksinya yang mencapai puncak
tertinggi dari sastra bahasa Arab.
2. Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkannya.
3. Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya.
2. Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkannya.
3. Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya.
Melihat kandungan Al-Quran seperti yang
dikemukakan secara selayang pandang tersebut, tidak diragukan lagi bahwa
Al-Quran berbicara tentang ilmu pengetahuan. Kitab Suci itu juga berbicara
tentang filsafat dalam segala bidang pembahasan, dengan memberikan jawaban-jawaban
yang konkret menyangkut hal-hal yang dibicarakan itu, sesuai dengan fungsinya:
memberi petunjuk bagi umat manusia (QS 2:2) dan memberi jalan keluar bagi
persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan (QS 2:213).
Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
Sebelum berbicara tentang masalah tersebut,
terlebih dahulu perlu diperjelas pengertian ilmu yang dimaksud dalam tulisan
ini.
Al-Quran menggunakan kata ‘ilm dalam
berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai “proses
pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan” (QS 2:31-32). Pembicaraan tentang
ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu di samping
klasifikasi dan ragam disiplinnya.
Sementara ini, ahli keislaman berpendapat
bahwa ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi
manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau
metafisika.
Berbeda dengan klasifikasi ilmu yang
digunakan oleh para filosof –Muslim atau non-Muslim– pada masa-masa silam, atau
klasifikasi yang belakangan ini dikenal seperti, antara lain, ilmu-ilmu sosial,
maka pemikir Islam abad XX, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan
Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua katagori:
1. Ilmu abadi (perennial knowledge) yang
berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang
dapat diambil dari keduanya.
2. Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antarbudaya selama tidak bertentangan dengan Syari’ah sebagai sumber nilai.
2. Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antarbudaya selama tidak bertentangan dengan Syari’ah sebagai sumber nilai.
Dewasa ini diakui oleh ahli-ahli sejarah
dan ahli-ahli filsafat sains bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji
oleh komunitas ilmuwan sebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap realitas
atau kebenaran yang telah diterima oleh komunitas tersebut. Dalam hal ini,
satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.
Di sinilah terletak salah satu perbedaan antara
ajaran Al-Quran dengan sains tersebut. Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu
meliputi batas-batas alam materi (physical world), karena itu dapat dipahami
mengapa Al-Quran di samping menganjurkan untuk mengadakan observasi dan
eksperimen (QS 29:20), juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi
(antara lain, QS 16:78).
Hal ini terbukti karena, menurut Al-Quran,
ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, sehingga
terhadapnya tidak dapat dilakukan observasi atau eksperimen seperti yang
ditegaskan oleh firman-Nya: Maka Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu
lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat (QS 69:38-39). Dan, Sesungguhnya
ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang tidak
dapat kamu melihat mereka (QS 7:27).
Dalam definisi ini kita lihat bahwa konsep
tentang “tempat yang tepat” berhubungan dengan dua wilayah penerapan. Di satu
pihak, ia mengacu kepada wilayah ontologis yang mencakup manusia dan
benda-benda empiris, dan di pihak lain kepada wilayah teologis yang mencakup
aspek-aspek keagamaan dan etis.
Beberapa tahun lalu di Italia diadakan
suatu permusyawaratan ilmiah tentang “cultural relations for the future”
(hubungan kebudayaan di kemudian hari) dan ditemukan dalam laporannya tentang “reconstituting
the human community” yang kesimpulannya, antara lain, sebagai berikut: “Untuk
menetralkan pengaruh teknologi yang menghilangkan kepribadian, kita harus
menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual.”
Apa yang diungkapkan ini sebelumnya telah
diungkapkan oleh filosof Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak
negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Beliau menulis: “Kemanusiaan saat ini
membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi
spiritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal
yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual.”
Seperti yang dikemukakan di atas bahwa
salah satu pembuktian tentang kebenaran Al-Quran adalah ilmu pengetahuan dari
berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak
ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak
dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan
ilmu, seperti:
Dari sini ungkapan “agama dimulai dari
sikap percaya dan iman”, oleh Al-Quran, tidak diterima secara penuh. Bukan saja
karena ia selalu menganjurkan untuk berpikir, bukan pula hanya disebabkan
karena ada dari ajaran-ajaran agama yang tidak dapat diyakini kecuali dengan
pembuktian logika atau bukan pula disebabkan oleh keyakinan seseorang yang
berdasarkan “taqlid” tidak luput dari kekurangan, tapi juga karena Al-Quran
memberi kesempatan kepada siapa saja secara sendirian atau bersama-sama dan
kapan saja, untuk membuktikan kekeliruan Al-Quran dengan menandinginya walaupun
hanya semisal satu surah sekalipun (QS 2:23).
Bertrand Russel menjelaskan bahwa filsafat
merupakan jenis pengetahuan yang memberikan kesatuan dan sistem ilmu
pengetahuan melalui pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan,
prasangka-prasangka dan kepercayaan. Hal ini disebabkan karena pemikiran
filsafat bersifat mengakar (radikal) yang mencoba memberikan jawaban menyeluruh
dari A-Z, mencari yang sedalam-dalamnya sehingga melintasi dimensi fisik dan
teknik.
Objek penelitiannya ialah segala yang ada
dan yang mungkin ada, baik “ada yang umum” (ontologi ‘ilm al-kainat) maupun
“ada yang khusus atau mutlak” (Tuhan). Atau, dengan kata lain, objek penelitian
filsafat mencakup pembahasan-pembahasan logika, estetika, etika, politik dan
metafisika.
Eksistensialisme mulai berbicara lagi:
“Sebenarnya tak ada arah yang harus dituju, pergilah ke mana engkau sukai.
Engkau mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu. Mari kita berpegang
erat-eras pada kebebasan kita. Sosialisme telah merebut segala-galanya dan
menyerahkan kepada negara. Agama juga mengembalikan segala sesuatu kepada
Tuhan, sedangkan Tuhan di luar esensi manusia. Jadi agama juga menghalangi
kebebasan manusia. Agama menipu para pengecut sehingga ia –demi mengalihkan
manusia dari eksistensinya– menciptakan surga yang kekal di langit, dan –untuk
memberikan rasa takut– neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Demikian antara lain pandangan Sartre, salah satu tokoh aliran ini.
Alexis Carrel, seorang ahli bedah dan
fisika, kelahiran Prancis yang mendapat hadiah Nobel. Beliau menulis dalam buku
kenamaannya, Man the Unknown, antara lain: “Pengetahuan manusia tentang makhluk
hidup dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah
dicapai dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Manusia adalah makhluk
yang kompleks, sehingga tidaklah mudah untuk mendapatkan satu gambaran
untuknya, tidak ada satu cara untuk memahami makhluk ini dalam keadaan secara
utuh, maupun dalam bagian-bagiannya, tidak juga dalam memahami hubungannya
dengan alam sekitarnya.”
Selanjutnya, ia mengatakan: “Kebanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ahli yang mempelajari manusia
hingga kini masih tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-daerah yang tidak
terbatas dalam diri (batin) kita yang tidak diketahui”.
Keterbatasan pengetahuan, menurutnya,
disebabkan karena keterlambatan pembahasan tentang manusia, sifat akal manusia
dan kompleksnya hakikat manusia. Kedua faktor terakhir adalah faktor permanen,
sehingga tidaklah berlebihan menurutnya “jika kita mengambil kesimpulan bahwa
setiap orang dari kita terdiri dari iring-iringan bayangan yang berjalan di
tengah-tengah hakikat yang tidak diketahui.”
Dari segi pandangan seorang beragama,
kiranya dapat dikatakan bahwa untuk mengetahui hal tersebut dibutuhkan
pengetahuan dari pencipta Yang Maha Mengetahui melalui wahyu-wahyu-Nya, karena
memang manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan atas peta gambaran Tuhan
dan yang dihembuskan kepadanya Ruh ciptaanNya.
Al-Quran menjelaskan bahwa manusia
diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, Tuhan
menghembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya (QS 38:71-72). Dengan “tanah” manusia
dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh
makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya, dan dengan “Ruh” ia diantar ke
arah tujuan non-materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak
dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal oleh alam material.
Dimensi spiritual inilah yang mengantar
mereka untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan
sebagainya. Ia mengantarkan mereka kepada suatu realitas yang Maha Sempurna,
tanpa cacat, tanpa batas dan tanpa Akhir: wa anna ila rabbika Al-Muntaha — dan
sesungguhnya kepada Tuhan-Mu-lah berakhirnya segala sesuatu (QS 53:42). Hai
manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan penuh kesungguhan menuju
Tuhanmu dan pasti akan kamu menemui-Nya” (QS 84:6).
Dengan berpegang kepada pandangan ini,
manusia akan berada dalam satu alam yang hidup, bermakna, serta tak terbatas,
yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi “tanah”, dimensi material itu.
Filsafat materialisme dengan aneka ragam
panoramanya berbicara tentang manusia. Dan demikian pula Al-Quran. Keduanya
telah menjelaskan pandangannya. Keduanya telah mengajak manusia untuk menemukan
dirinya, tapi yang pertama berusaha untuk menyeretnya ke debu tanah dari Ruh
Tuhan, sedangkan Al-Quran mengajaknya untuk meningkat dari debu tanah menuju
Tuhan Yang Mahaesa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar