Filsafat Agama dan Teologi Sebagai Kajian Studi
Para
Ilmuwan Barat tidak menemukan kata sepakat dalam memberikan definisi agama,
masing-masing pandangan merekan mendefinisikan agama dari sudut yang berbeda.
Hal inilah yang menyebabkan pemahaman mereka terhadap agama sangat minim.
Dalam Encyclopedia of Philosophy, philosof-philosof terkenal memberikan
definisi keduanya, ada yang mengatakan agama itu tidak lebih dari konsep
moralitas / akhlak, ada juga yang mengatakan agama itu sesuatu yang menyentuh
hal-hal ruhaniyyah atau spiritual saja, ada pula yang mendefinisikan agama
dengan ritual atau upacara penyembahan.
Jadi dari sini kita dapat melihat perspektif duni Barat yang sempit mengenai agama. Meskipun penilaian mereka itu berdasarkan realitas sebagian agama yang ada di dunia ini.
Tak mengherankan bila agama menurut pandangannya harus dipisahkan dengan kehidupan nyata, agama tidak bisa mencampuri hal politik, sosial dan ekonomi. Agama hanya berhubungan dengan tempat ritual yang dikunjungi seminggu sekali dan hari-hari raya tertentu.
Jadi dari sini kita dapat melihat perspektif duni Barat yang sempit mengenai agama. Meskipun penilaian mereka itu berdasarkan realitas sebagian agama yang ada di dunia ini.
Tak mengherankan bila agama menurut pandangannya harus dipisahkan dengan kehidupan nyata, agama tidak bisa mencampuri hal politik, sosial dan ekonomi. Agama hanya berhubungan dengan tempat ritual yang dikunjungi seminggu sekali dan hari-hari raya tertentu.
filsafat
agama dan teologi
Padahal
kita tahu agama adalah bagian yang amat penting pada kehidupan seseorang. Pada
sebagian orang, memandang agama adalah kehidupannya yang tidak
terpisahkan. Sebagian besar kekayaan budaya di seluruh dunia ini memiliki
akar pada tiap-tiap agama. Dalam istilan sederhana, agama hanyalah cara hidup,
filsafat agama adalah tentang belajar hidup. Filsafat agamatermasuk studi filosofis mengenai
doktrin-doktrin keagamaan, Kitab-Suci keagamaan, cerita agama, keyakinan agama
dan praktek, sejarah agama, dan argumen agama, dsb yang menentukan dan
mempengaruhi pola hidup.
Studi
filosofis dilakukan secara beralasan dan disiplin di mana setiap aspek agama
diuji untuk kebenarannya. Filsafat
agama adalah penggunaan akal pada pencarian kebenaran
untuk memahami justifikasi iman kepada Tuhan dan agama.
filsafat Agama dan Filsafat Keagamaan (Teologi)
Filsafat agama pada dasarnya studi metafisik yang dilakukan untuk memahami
konsep Ketuhanan. Hal ini termasuk mempelajari dan menganalisa berbagai argumen
bahwa orang telah menawarkan suatu kepercayaan untuk membenarkan dan percaya
kepada Tuhan. Banyak orang bingung mengenai definisi filsafat agama dengan
filsafat keagamaan atau teologi. Teologi defensif
di alam dan berkomitmen untuk mempertahankan keyakinan agama tertentu, memiliki
keyakinan pada setiap aspek agama tersebut. Padahal, filsafat
agama adalah
penyelidikan ilmiah mengenai agama. Sebagai contoh, teologi menganggap Kitab-Suci agama sebagai
aturan tertinggi dan berwibawa tetapi dalam filsafat agama, Kitab Suci adalah
sebuah obyek studi dan penelitian dan memiliki tujuan utama untuk
mengamati klaim agama dan untuk membangun penjelasan yang rasional, jika ada.
Dibawah
ini adalah beberapa pertanyaan yang masuk pada wilayah filasafat agama.
·
Tuhan: mitos atau realitas?
·
Argumen pada gender Tuhan: Tuhan seperti apa?
·
Apakah Tuhan sama seperti manusia?
·
Siapa yang menciptakan dunia ini?
·
Apakah keyakinan agama masuk akal?
·
Apakah tujuan dari agama-agama dunia?
·
Apakah bahasa agama dan pengalaman agama?
·
Berapakah nilai dari keyakinan agama, iman dan prakteknya?
·
Mengapa memuji Tuhan?
·
Seberapa besar Tuhan?
·
Apakah keJahatan bagian dari Tuhan?
·
Mengapa ada kejahatan?
·
Di mana Tuhan ketika aku menderita?
·
Tuhan dapat mengampuni segala sesuatu?
·
Apakah tuhan ada didalam hati anda?
·
Perspektif tentang filsafat agama
Filsafat
agama dapat dipelajari dari perspektif yang berbeda oleh orang yang berbeda.
Sebagai contoh, filsafat ateis tentang agama berbeda dari teis filsafat. ateis
tidak percaya pada Tuhan, mereka tidak percaya bahwa agama diciptakan oleh
Tuhan. Mereka belajar agama sebagai fenomena yang dibuat oleh manusia. Mereka
cenderung lebih berfokus pada agama sebagai sistem kepercayaan buatan manusia
dan mempelajari etika, prinsip-prinsip, moral, dan identitas agama tertentu dan
orang-orang yang mengikutinya. Mereka sering mengabaikan peran agama, agama
seperti apa?, dan bagaimana agama masuk akal, dll. Tapi, seorang ateis tidak
menghakimi, tidak memihak, dan yang peduli tentang filsafat dan agamadapat
saja belajar filsafat agama dengan baik.
Teis
cenderung untuk mempelajari agama seperti itu. Pada kenyataannya, perspektif
teis pada agama tidak dapat diciptakan sebagai filsafat keagamaan, seperti yang
disebutkan sebelumnya, filsafat keagamaan mengagungkan agama tertentu. Menurut
teisme, Tuhan ada dan karena itu dunia diciptakan oleh Tuhan dan setiap manusia
lahir untuk satu tujuan. Cenderung untuk membatasi kebebasan manusia tetapi
pada saat yang sama pula menegaskan nilai-nilai kita. Teis tidak setuju dengan
perspektif ateis. karena jika orang telah diciptakan dari debu dan akan kembali
ke tanah. Mencoba untuk mengetahui hubungan antara agama dan alasannya
adalah Inti dari filsafat agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar